5 Momen Paling Tragis Dalam Sepak Bola
Dalam sepak bola, segala sesuatu mungkin terjadi, bahkan yang tampaknya mustahil.
Sepak bola adalah permainan yang penuh kejutan. Segala sesuatu yang tampaknya mustahil bisa saja terjadi di lapangan hijau. Hal ini menjadikan sepak bola sangat identik dengan ungkapan bahwa "bola itu bundar."
Dengan kata lain, tidak ada kepastian bahwa tim-tim favorit, baik dari level klub maupun tim nasional, akan selalu meraih kemenangan ketika berhadapan dengan tim-tim yang dianggap lebih lemah. Kita semua tentu masih ingat ketika Arab Saudi mengejutkan dunia dengan mengalahkan Argentina di fase grup Piala Dunia 2022.
Meskipun pada akhirnya Arab Saudi harus angkat koper lebih awal dan Argentina, yang dipimpin oleh Lionel Messi, berhasil menjadi juara, kekalahan La Albiceleste tersebut menunjukkan bahwa segala kemungkinan bisa terjadi dalam pertandingan sepak bola.
Selain momen mengejutkan seperti yang dialami Argentina, dunia sepak bola juga dipenuhi dengan berbagai drama dan kisah emosional lainnya. Tentu saja, tidak semua momen dalam sejarah sepak bola berakhir bahagia; ada juga banyak peristiwa menyedihkan yang tercatat dalam perjalanan panjang olahraga ini.
Bagi sebagian orang, momen-momen tragis tersebut meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan dan mereka berusaha untuk menghapusnya dari ingatan. Namun, ada pula yang merayakan momen tersebut karena berada di pihak yang diuntungkan. Menurut laporan dari Givemesport, berikut adalah lima momen paling menyedihkan dalam sejarah sepak bola yang layak untuk diingat.
Brasil mengalami kekalahan menyedihkan melawan Jerman dalam Piala Dunia 2014
Dalam ajang Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil, tim tuan rumah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Selecao, yang dipimpin oleh bintang sepak bola dunia, Neymar, diunggulkan untuk meraih gelar juara. Ekspektasi yang diletakkan di bahu para pemain Brasil sangatlah tinggi. Mereka menunjukkan performa yang mengesankan sepanjang turnamen untuk memenuhi harapan tersebut.
Namun, sebelum memasuki semifinal melawan Jerman, Brasil mengalami pukulan berat ketika Neymar harus meninggalkan lapangan akibat cedera yang parah, ditambah lagi tanpa kehadiran Thiago Silva. Kehilangan Neymar memberikan dampak psikologis yang besar bagi tim.
Jerman, yang memiliki tim yang sangat kuat, segera memanfaatkan situasi tersebut dan tampil dominan. Mereka berhasil mencetak gol dengan cepat, mengambil alih keunggulan 5-0 hanya dalam waktu 29 menit di hadapan para pendukung Brasil yang sangat kecewa. Semua harapan dan impian untuk meraih kemenangan di Piala Dunia seolah sirna bahkan sebelum babak pertama mencapai pertengahan.
Para penggemar Brasil terpaksa menyaksikan kekalahan yang menyakitkan, di mana tim mereka kalah 1-3 dari sang juara. Pertandingan itu menjadi tontonan yang sulit dan penuh kesedihan, terutama mengingat kegembiraan dan harapan yang dimiliki Brasil sebelum mengalami kekalahan tersebut.
Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti
Bintang asal Italia tersebut dikenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia pada masanya. Ketika mengikuti Piala Dunia 1994, ia datang dengan harapan yang sangat tinggi. Setelah berhasil meraih Ballon d'Or setahun sebelumnya, perhatian publik tertuju pada penyerang berbakat ini untuk memimpin timnya meraih kesuksesan, terutama setelah Italia berhasil mencapai posisi ketiga pada edisi Piala Dunia sebelumnya. Meskipun awalnya tidak menunjukkan performa terbaik, Roberto Baggio akhirnya menunjukkan kemampuannya sebagai Pemain Terbaik dalam tiga pertandingan sebelum final melawan Brasil.
Ia memasuki partai final meskipun mengalami cedera dan harus bermain dengan bantuan obat penghilang rasa sakit. Ketika pertandingan berakhir imbang dan harus dilanjutkan dengan adu penalti, Baggio ditunjuk sebagai pengambil penalti terakhir untuk Italia. Ia melangkah maju dengan beban berat di pundaknya, harus mencetak gol untuk menjaga harapan timnya tetap hidup. Namun, dalam momen yang sangat dramatis dan menyedihkan, tendangannya melambung tinggi dan melewati gawang. Akibatnya, Italia yang tampil mengesankan gagal meraih trofi, dan kegagalan tersebut terus menghantuinya sepanjang sisa kariernya.
Gol yang dicetak Frank Lampard melawan Jerman dibatalkan
Pencapaian tim sepak bola Inggris di kancah internasional pada awal tahun 2000-an dipenuhi dengan kekecewaan saat mengikuti kompetisi sistem gugur. Meskipun memiliki banyak talenta, mereka sering kali mengalami kekalahan yang sangat menyakitkan, baik melalui adu penalti maupun tersingkir di menit-menit akhir pertandingan.
Seolah-olah, mereka ditakdirkan untuk tidak pernah kembali ke puncak sepak bola internasional. Menjelang Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan, meskipun Inggris masih memiliki sejumlah nama besar, kekuatan tim mereka tidak sebanding dengan kompetisi sebelumnya. Tekanan semakin meningkat setelah kegagalan Inggris untuk lolos ke Euro 2008, yang menjadi sorotan publik.
Dalam pertandingan melawan Jerman yang sedang dalam performa terbaik di babak 16 besar, Inggris memiliki kesempatan besar untuk membuktikan diri. Setelah mengalami kesulitan di awal, mereka berhasil bangkit dan memimpin 2-1, menunjukkan potensi kekuatan di babak kedua. Namun, situasi berubah secara dramatis ketika Frank Lampard melakukan tendangan cungkil yang berani melewati kiper Manuel Neuer.
Bola tersebut memantul dari mistar gawang dan jelas melewati garis gawang, tetapi wasit memutuskan untuk melanjutkan permainan tanpa mengakui gol tersebut. Dalam momen yang mengejutkan ini, Lampard menundukkan kepalanya, sementara Mark Lawrenson di bilik komentator mengkritik Sepp Blatter atas penolakan FIFA untuk menerapkan teknologi garis gawang hingga saat itu.
Jika gol itu diakui, hal tersebut bisa saja mengubah momentum pertandingan dan memberikan Lampard salah satu gol terbaik dalam turnamen tersebut. Sayangnya, Inggris justru hancur dan kalah dari tim yang lebih unggul pada hari itu.
Gol Tangan Tuhan Diego Maradona
Salah satu peristiwa yang paling terkenal dan penuh kontroversi dalam sejarah sepak bola adalah gol tangan Tuhan yang dicetak oleh Diego Maradona. Pada perempat final Piala Dunia 1986, Argentina yang dipimpin Maradona berhadapan dengan tim Inggris yang sangat berbakat.
Maradona secara dramatis membuka skor dengan melompat untuk bersaing dalam menyundul bola dengan kiper Peter Shilton. Namun, ia berhasil mencetak gol dengan menggunakan tangannya, yang kemudian menjadi sorotan. Meskipun terdapat protes keras dari para pemain Inggris, wasit tetap tidak membatalkan gol tersebut. Para penggemar dan pemain Inggris yang masih marah, kemudian terdiam ketika Maradona mencetak 'Gol Terbaik Abad Ini' beberapa menit setelahnya.
Dalam momen tersebut, ia berlari melewati hampir seluruh pemain Inggris sebelum mengecoh Shilton untuk mencetak gol yang sangat spektakuler. Meskipun Gary Lineker berhasil mencetak gol hiburan di menit-menit akhir, pertandingan tersebut akan selalu diingat karena momen kontroversial yang melibatkan Maradona. Usaha solonya yang legendaris menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola, namun momen tipu daya yang seharusnya tidak terjadi itu tetap menjadi sorotan utama. Oleh karena itu, meskipun ada gol lain yang tercipta, pertandingan ini akan selalu dikenang karena insiden yang melibatkan gol tangan Maradona.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3985544/original/016904100_1649142327-000_ARP2858943.jpg)
Kekalahan Inggris di Euro 1996 mengakibatkan patah hati
Inggris kembali merasakan kekecewaan yang mendalam, kali ini pada Euro 1996 di mana mereka menjadi tuan rumah. Seluruh rakyat Inggris bersatu padu memberikan dukungan kepada The Three Lions yang menunjukkan performa yang sangat baik sepanjang turnamen. Hingga akhirnya, mereka mencapai semifinal dan berhadapan dengan rival abadi mereka, Jerman. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Paul Gascoigne hampir berhasil mencetak gol yang akan menjadi penentu kemenangan, namun harapan itu sirna dan lebih banyak rasa sakit yang harus mereka hadapi.
Ketika laga berlanjut ke adu penalti, Inggris mengalami kegagalan. Gareth Southgate, yang maju sebagai penendang keenam, tidak berhasil mengeksekusi penalti tersebut. Upayanya yang kurang memadai justru memberikan kesempatan bagi Jerman untuk mencetak gol yang membawa mereka meraih kemenangan.
Kekecewaan ini membuat seluruh bangsa Inggris merasa putus asa setelah perjuangan yang luar biasa selama turnamen. Saat itu, mereka telah menunggu selama 30 tahun untuk meraih trofi utama, dan penantian itu terus berlanjut hingga mencapai 60 tahun pada tahun 2026, di mana Inggris berharap untuk mengakhiri penantian mereka di Piala Dunia yang akan datang.
Sumber: Givemesport