Perjalanan Karier Giorgio Armani, dari Kedokteran dan Militer ke Panggung Mode Dunia
Pada tahun 1957, Armani memutuskan untuk banting setir dan memasuki dunia mode.
Dunia mode kembali kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruhnya. Giorgio Armani, desainer legendaris sekaligus pendiri rumah mode Giorgio Armani, meninggal dunia pada usia 91 tahun. Kabar duka ini disampaikan secara resmi oleh Armani Group pada Kamis, 4 September 2025.
Nama Armani telah identik dengan kemewahan, kesederhanaan, dan keanggunan dalam industri mode global. Namun, perjalanan kariernya tidak dimulai dari dunia fesyen. Mengutip CNN, Armani lahir pada tahun 1934 di Piacenza, Italia Utara, dan sempat menempuh pendidikan di bidang kedokteran sebelum akhirnya menjalani tugas militer.
Pada tahun 1957, Armani memutuskan untuk banting setir dan memasuki dunia mode. Ia memulai karier sebagai penata etalase di La Rinascente, sebuah department store bersejarah di Milan. Langkah ini menjadi awal dari hubungannya yang panjang dan mendalam dengan ibu kota mode Italia.
Pada tahun 1964, desainer ternama Nino Cerruti memberikan kesempatan besar kepada Armani untuk merancang pakaian pria. Dari sinilah, ia mulai mengembangkan desain jaket tanpa struktur—setelan jas tanpa bantalan kaku yang memberi kesan lebih ringan namun tetap berkelas. Inovasi ini kemudian menjadi ciri khas dan daya tarik utama karyanya.
Selama bekerja di bawah Cerruti, Armani bertemu dengan Sergio Galeotti, seorang arsitek yang kemudian menjadi pasangan hidup sekaligus mitra bisnisnya. Galeotti mendorong Armani untuk memulai usaha sendiri. Pada tahun 1975, keduanya mendirikan label Giorgio Armani yang kemudian berkembang menjadi salah satu merek fesyen paling berpengaruh di dunia.
Sukses Menembus Pasar Amerika
Kesuksesan Armani di pasar internasional dimulai pada tahun 1976, ketika koleksi pakaian prianya mulai dijual di Barney’s New York. Toko serba ada tersebut bahkan memproduksi iklan televisi untuk memperkenalkan Armani kepada publik Amerika Serikat.
Tak lama kemudian, Armani meluncurkan koleksi pakaian wanita yang memperkenalkan tampilan androgini—perpaduan antara unsur maskulin dan feminin dalam satu desain.
"Saya adalah orang pertama yang melembutkan citra pria, dan memperkeras citra wanita," ujar Armani dalam sebuah wawancara.
Popularitas Armani melonjak tajam setelah karyanya dikenakan oleh aktor Richard Gere dalam film American Gigolo (1980). Setelan Armani yang digunakan dalam film tersebut menjadi simbol status baru di dunia mode pria.
Sejak itu, Armani menjadi pilihan busana para bintang Hollywood di berbagai ajang karpet merah. Nama-nama besar seperti Arnold Schwarzenegger, Sophia Loren, Jodie Foster, Sean Connery, hingga Tina Turner pernah tampil mengenakan karya-karya Armani.
Di era 1980-an, Armani dikenal bersaing dengan sesama desainer Italia, Gianni Versace. Keduanya memiliki gaya yang sangat kontras: Versace dengan desain flamboyan dan penuh warna, sementara Armani menonjolkan kesederhanaan dan keanggunan yang elegan.
Meski telah tiada, warisan Giorgio Armani tetap hidup dalam setiap potongan kain, jahitan, dan desain yang menginspirasi generasi desainer di seluruh dunia. Ia bukan hanya seorang desainer, tetapi juga pelopor yang berhasil mengubah wajah mode modern dengan sentuhan khas Italia yang tak lekang oleh waktu.