Merinding, Ruben Onsu Ceramah di Majlis Rasulullah SAW Ceritakan Kisah Mulafnya
Ruben tidak langsung memutuskan menjadi mualaf. Ia menempuh empat tahun penuh kegelisahan dan pencarian jawaban.
Dalam sebuah acara besar yang dihadiri ratusan jemaah, Ruben Onsu berbagi kisah perjalanan hidupnya dan proses masuk Islam yang selama ini disimpannya secara pribadi.
"Ini kali pertama saya hadir di acara sebesar ini," kata Ruben, seperti dikutip dari kanal YouTube ALUR KISAH, Senin (17/11).
"Perjalanannya panjang sekali. Bahkan di vlog pun saya tidak ceritakan secara detail," dia menambahkan.
Empat Tahun Pencarian
Ruben tidak langsung memutuskan menjadi mualaf. Ia menjalani empat tahun penuh kegelisahan dan pertanyaan seputar agama. Sebagai publik figur yang sering bertemu ulama di televisi, Ruben mulai terbiasa berdiskusi soal berbagai hal terkait Islam. Namun, pada satu titik, kegelisahan itu memuncak, mendorongnya untuk memilih seorang guru spiritual.
Dari banyak ulama yang ditemui, Ruben merasa mendapatkan ketenangan dari Habib Usman bin Yahya.
"Beliau tidak pernah melihat saya dari sisi siapa saya. Beliau selalu menyapa, menanyakan kabar, dan menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam selama empat tahun," ungkap Ruben.
Selama itu, pencarian Ruben berlangsung secara diam-diam. Ia kadang menghilang beberapa hari setelah bertanya sesuatu, lalu kembali dengan pertanyaan baru, tanpa pernah diabaikan oleh gurunya.
Ramadan sebagai Titik Balik
Bulan Ramadan menjadi titik balik dalam perjalanan spiritual Ruben. Ia berdoa agar bisa fokus beribadah meski sebagai pekerja hiburan dengan jadwal padat.
"Ya Allah, kalau engkau izinkan saya fokus beribadah Ramadan ini, izinkan saya bekerja sebentar saja,” ujarnya.
Doa itu dikabulkan. Ruben hanya mendapat pekerjaan selama dua minggu, sehingga memiliki waktu luang untuk tarawih, tadarus, dan mendalami ajaran Islam.
"Semua yang saya ucapkan Allah jawab," tambahnya.
Syahadat Secara Tertutup
Ketika memutuskan memeluk Islam, Ruben meminta Habib Usman menentukan hari terbaik untuk mengucapkan syahadat. Ia mengenakan baju putih dan hanya ditemani beberapa orang terdekat, tanpa diketahui tim manajemennya.
Setelah mengucapkan kalimat syahadat, Ruben menangis.
"Bukan karena sedih, tetapi karena merasakan semua permohonan saya dikabulkan. Kalimat pertama yang saya ucapkan adalah ‘Ya Allah, saya ikhlas,’” kata Ruben.
Belajar Salat dengan Kerendahan Hati
Tiga hari setelah menjadi mualaf, Ruben belajar salat sendiri karena orang yang membimbingnya harus mudik. Ia sempat khawatir melakukan kesalahan dalam salat.
"Yang ente khawatirkan adalah salat. Allah jawab salat itu. Tidak usah pakai perantara. Langsung ke Allah," pesan Habib Usman.
Sahabat Sebagai Penopang Iman
Dalam proses hijrah, Ruben dibantu oleh sahabatnya, Ivan Gunawan. Saat malam takbiran, Ivan menjadi orang pertama yang menyapanya, sehingga Ruben memilih mengikuti salat Id bersamanya. Sejak itu, Ivan kerap menjadi pendamping Ruben dalam momen penting keislamannya.
Visa Haji dan Ujian Kesabaran
Isu terkait visa haji sempat membuat Ruben menjadi sorotan publik. Ia mengaku sempat takut membuka media sosial.
"Kayaknya yang gagal di dunia ini cuma saya doang,” ujarnya. Namun, ia tetap teguh pada doa tulusnya agar diberi kemudahan menunaikan umrah setelah haji, yang kemudian dikabulkan.
Umrah Bersama 17 Orang Terdekat
Ruben akhirnya menunaikan umrah bersama 17 orang yang dekat dengan perjalanan karier dan spiritualnya.
"Itu niat saya. Alhamdulillah Allah izinkan,” kata Ruben.
Perjalanan spiritual Ruben Onsu menunjukkan bahwa hijrah bukan keputusan instan. Ia menekankan bahwa yang membuatnya mantap menjadi Muslim adalah kedekatan batin dengan Allah, bukan tekanan dari orang lain. Semua dimulai dari satu kalimat sederhana.
"Ya Allah, saya ikhlas," ucapnya.
Reporter Magang: Ahmad subayu