Kenang Almarhumah, Suami Mpok Alpa Akui Rindu Omelannya
Kepergian Mpok Alpa meninggalkan kesedihan mendalam bagi suaminya, Aji Darmaji.
Kepergian komedian Mpok Alpa meninggalkan kesedihan mendalam bagi suaminya, Aji Darmaji. Kehilangan sosok istri tercinta membuat setiap aktivitas sehari-hari Aji terasa kosong, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa.
Seperti yang telah diketahui, Mpok Alpa meninggal dunia di Jakarta pada 15 Agustus 2025, setelah berjuang melawan penyakit kanker payudara.
Aji Darmaji mengungkapkan bahwa yang paling dirasakan adalah hilangnya momen kebersamaan yang selama ini mereka jalani.
Ia merindukan perhatian dan juga omelan dari sang istri yang kini tidak akan pernah ia dengar lagi.
“Momen yang terasa ketika hari-hari kita kan selalu sama almarhumah. Kayak misalkan selalu masakin tiap hari, saya makan juga ditungguin, dipanggil-panggil, 'Pak, Pak, makan dulu,' kayak gitu,” ungkap Aji Darmaji di kediamannya yang terletak di Kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/8).
“Terus hari-hari nih ngomelnya paling, 'Pak, kebiasaan lu naruh anduk sembarangan, taruh!' gitu, 'Taruh lagi di tempatnya'. Hari-hari itu sudah enggak ada lagi, hilang. Tapi walaupun enggak ada, tetap di hatinya selalu ada,” tambahnya.
Tak Sanggup Lihat Foto Mendiang Istri
Perasaan kehilangan yang mendalam membuat Aji Darmaji merasa tidak mampu untuk melihat foto-foto Mpok Alpa yang terpajang di rumahnya. Ketika ibunya bertanya mengapa foto-foto tersebut dihapus dari dinding, ia tidak bisa menahan air mata.
"Kan ibu kandung saya masih ada untuk menghibur saya. 'Lah ini kenapa dicopot-copotin?' Langsung saya nangis gitu. Lihat saya nangis saya enggak jawab kayak gitu. Saya juga lihat si kembar, lihat anak-anak juga masih netesin air mata, enggak kuat," ungkap Aji Darmaji.
Rasa sedih yang melanda membuatnya merasa sangat terpukul, dan suasana di rumah menjadi semakin hening.
Setiap kali melihat foto-foto tersebut, kenangan indah bersama Mpok Alpa kembali muncul di benaknya. Aji merasa seolah-olah kehilangan bagian dari dirinya sendiri, dan hal ini membuatnya semakin sulit untuk melanjutkan hidup.
Ia merasakan betapa beratnya menghadapi kenyataan tanpa kehadiran orang yang sangat ia cintai.
Momen-momen bersama Mpok Alpa adalah bagian yang tak tergantikan dalam hidupnya, sehingga perasaannya semakin mendalam saat mengingatnya.
Belum Kuat Melihat Barang-Barang Istri
Aji Darmaji masih merasa kesulitan untuk menghadapi barang-barang peninggalan Mpok Alpa. Ia bahkan meminta agar barang-barang tersebut ditutupi agar tidak terlihat olehnya.
"Belum ada yang saya lihat dari barang-barangnya itu, malah saya suruh tutup-tutupi, eh tutupi kardus biar enggak saya lihat. Belum kuat, tapi suatu saat nanti pasti kuat, pasti saya kuat," tuturnya.
Hal ini menunjukkan betapa beratnya beban emosional yang ia rasakan saat berhadapan dengan kenangan yang tersimpan dalam barang-barang tersebut.
Meskipun Aji berusaha untuk menghindari melihat barang-barang peninggalan tersebut, ia menyadari bahwa pada akhirnya ia harus menghadapi kenyataan.
Rasa ketidakkuatan yang ia ungkapkan menggambarkan proses penyembuhan yang harus dilalui.
"Belum ada yang saya lihat dari barang-barangnya itu, malah saya suruh tutup-tutupi, eh tutupi kardus biar enggak saya lihat. Belum kuat, tapi suatu saat nanti pasti kuat, pasti saya kuat," tuturnya.
Dengan waktu, diharapkan Aji dapat menemukan kekuatan untuk menghadapi ingatan yang menyakitkan dan merelakan masa lalu.
Tidur Terbangun
Duka yang mendalam ini juga memengaruhi kondisi fisik Aji. Ia mengungkapkan bahwa nafsu makannya hilang dan ia mengalami kesulitan untuk tidur, hal yang juga dirasakan oleh anak-anaknya.
Setiap kali ia berusaha untuk memejamkan mata, bayangan almarhumah selalu muncul dan membuatnya terbangun.
"Ya, saya tidur cuma sejam, enggak bisa mejamin mata lama. Terbayang almarhumah langsung saya bangun. Biar enggak lebih sedih lagi. Saya berusaha untuk kuat jangan sampai saya juga begitu, anak-anak saya juga begitu. Saya harus kuat nih," pungkas Aji Darmaji.