Aurelie Moeremans Imbau Publik Tak Membuli Karakter di Broken Strings Berdasarkan Dugaan
Aurelie Moeremans menegaskan kembali bahwa tujuan utama penulisan "Broken Strings" adalah untuk menyampaikan pesan, bukan untuk menghakimi atau menyerang.
Memoar karya Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Namun, diskusi warganet tidak hanya terfokus pada isu child grooming yang diangkat dalam bukunya, tetapi juga meluas ke topik lain seperti bullying yang melibatkan seorang artis ternama di Indonesia.
Aurelie Moeremans pun merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Istri dari Tyler Bigenho itu mengeluarkan permintaan khusus melalui kanal broadcast Instagram-nya terkait Broken Strings.
"Please ya teman-teman Jangan membully atau menyerang karakter di Broken Strings, apalagi kalau cuma berdasarkan tebakan. Belum tentu benar, dan jujur aku ga enak bacanya. Kasihan!" tulis Aurelie dalam unggahannya.
Ia menegaskan bahwa fokus dari cerita ini bukan pada isu tersebut, melainkan pada pengalaman dan pesan yang ingin ia sampaikan.
"Kalau ada yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu kalian menyerang, please jangan," ia menambahkan.
Pesan serupa juga ia sampaikan di akun Threads terverifikasi miliknya. Bintang film Story of Kale: When Someone's in Love ini mengungkapkan bahwa ia merasa tidak nyaman membaca spekulasi yang beredar di publik.
"Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku ga enak bacanya," ungkapnya. Dengan demikian, Aurelie berharap agar masyarakat lebih bijak dalam memberikan pendapat dan tidak terburu-buru dalam menilai sesuatu yang belum sepenuhnya jelas.
Aurelie Moeremans: Tidak untuk Menghakimi, apalagi untuk Mengeroyok!
Dia kembali menegaskan tujuan utama dari penulisan Broken Strings. "Cerita ini tidak ditujukan untuk menemukan siapa-siapa di dunia nyata, atau untuk menghakimi, bahkan menyerang. Inti dari cerita ini adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang saya bagikan dengan sangat tulus," ujarnya. Dia menambahkan, "Jika ada seseorang yang mengklaim sebagai karakter tertentu, itu adalah urusan pribadi mereka. Kalian bebas untuk memiliki pendapat tentang hal itu. Namun, jika hanya sekadar menebak dan kemudian menyerang, tolong jangan lakukan itu." Pesan tersebut diulangnya untuk menekankan pentingnya sikap saling menghargai. Di akhir tulisan, dia menutup dengan harapan, "Mari kita jaga ruang ini agar tetap baik, aman, dan penuh empati."
Aurelie Moeremans sebelumnya pernah mengungkapkan alasan di balik penulisan buku Broken Strings, serta menjelaskan proses kreatif yang dilaluinya.
Dia menyatakan, "Proses penulisannya sebenarnya cukup panjang. Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan," dalam sebuah pesan WhatsApp yang dikirim pada Rabu (14/1).
Lebih lanjut, Aurelie menjelaskan, "Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai." Hal ini menunjukkan komitmennya untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan penuh makna, bukan hanya sekadar memenuhi target waktu.
Tujuan menulis dan menerbitkan "Broken Strings"
Aurelie mengungkapkan bahwa awalnya tulisan yang ia buat merupakan bentuk pelampiasan dari kejujuran terhadap dirinya sendiri.
"Awalnya bukan untuk konsumsi publik, aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri. Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan, jadi ada trauma untuk bercerita," ujarnya.
Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, wanita berusia 32 tahun ini memutuskan untuk membagikan kisahnya kepada publik.
"Seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan juga merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka," Aurelie menambahkan.