Waspada, 5 Miliar Orang di Dunia Terancam Diabetes
AI memainkan peran penting dalam mencegah dan mengelola penyakit terkait diabetes.
Sekitar 1,3 miliar orang di seluruh dunia diperkirakan akan mengidap diabetes pada tahun 2050. Jika termasuk penderita pradiabetes, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 5 miliar orang, atau hampir setengah dari populasi global.
Dalam konferensi Most Powerful Women International yang diselenggarakan oleh Fortune di Riyadh, para pemimpin industri kesehatan menyampaikan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan memainkan peran penting dalam mencegah dan mengelola penyakit terkait diabetes, terutama di kawasan dengan gaya hidup berisiko tinggi seperti Timur Tengah.
“Kita akan memiliki 1,3 miliar penderita diabetes, dan sekitar tiga kali lipatnya akan mengalami pradiabetes. Artinya lebih dari 5 miliar orang akan menghadapi resistensi insulin,” kata Noosheen Hashemi, pendiri dan CEO January AI, perusahaan yang menggunakan AI untuk menyediakan wawasan nutrisi dan pemantauan kadar gula darah secara personal.
Menurut Hashemi, teknologi AI saat ini sudah mampu membantu pengguna mengetahui kandungan gizi makanan seperti kadar protein, serat, dan karbohidrat serta memprediksi respons gula darah hanya dengan memindai gambar makanan.
Lebih lanjut, Olfat Berro, Kepala Wilayah Timur Tengah Roche Pharmaceuticals, menyatakan bahwa kecerdasan buatan yang didukung data profil genomik akan memungkinkan diagnosis dini, bahkan pencegahan penyakit pada penderita diabetes. Salah satu fokusnya adalah dampak diabetes terhadap penglihatan.
“Kita dapat menggunakan teknologi untuk memahami perubahan pada mata, dan memprediksi penyakit apa yang mungkin timbul. Dengan begitu, kita bisa melakukan intervensi sebelum terlambat,” jelas Berro.
Untuk mendukung teknologi prediktifnya, January AI telah membangun aplikasi pemantauan gula darah tanpa alat monitor khusus. Aplikasi ini dikembangkan berdasarkan data dari 1.022 partisipan dalam sebuah studi ilmiah. Dengan menggabungkan informasi genomik, gaya hidup, dan data kesehatan individu, AI disebut mampu memberikan prediksi kondisi kesehatan seseorang secara lebih akurat.
CEO Cigna Healthcare untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika, Leah Cotterill, mengatakan bahwa teknologi ini dapat mencegah skenario terburuk di masa depan, di mana separuh populasi dunia menderita diabetes atau pradiabetes.
“Dengan kombinasi edukasi, teknologi AI, dan kemajuan obat-obatan, kita memiliki peluang untuk menurunkan tren ini sebelum benar-benar menjadi krisis global,” katanya.