Transformasi Digital dan Holding Ultra Mikro Dorong Kinerja Berkelanjutan BRI
Transformasi, digitalisasi, dan pemberdayaan mikro menjadi pilar utama BRI menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kinerja keuangan solid PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk hingga Triwulan III 2025 tak lepas dari keberhasilan transformasi berkelanjutan yang dijalankan melalui program BRIVolution Reignite. Program ini berfokus pada transformasi bisnis pendanaan (funding) dan penguatan bisnis inti yang berkelanjutan.
"Sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pertumbuhan, BRI juga terus mengembangkan Second Engines of Growth melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan bullion atau bank emas," ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi saat Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan III 2025 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Kamis (30/10).
Total aset BRI tumbuh 8,2% secara tahunan (YoY) menjadi Rp2.123,4 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,2% YoY menjadi Rp1.474,8 triliun, sementara penyaluran kredit tumbuh 6,3% YoY menjadi Rp1.438,1 triliun.
Direktur Finance & Strategy BRI Viviana Dyah Ayu menegaskan bahwa BRI memiliki permodalan kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,4%. "Kondisi ini menunjukkan kemampuan BRI menyerap risiko sekaligus menyediakan ruang untuk ekspansi bisnis yang sehat dan berkelanjutan," katanya.
Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI berada di level 86,5%, didukung peningkatan rasio dana murah (CASA) menjadi 67,6%. "Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur pendanaan yang optimal," tambahnya.
Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menjelaskan, rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI berada di level 3,08% dengan NPL Coverage Ratio mencapai 183,1%. "Angka ini menunjukkan tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi. Dengan coverage ratio yang sangat memadai, BRI mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan sekaligus memberikan keyakinan kepada investor dan regulator," jelasnya.
Transformasi digital juga menjadi pendorong utama efisiensi. Jumlah pengguna BRImo meningkat 19,4% YoY menjadi 44,4 juta pengguna dengan volume transaksi mencapai Rp5.067,1 triliun. Qlola by BRI mencatat lonjakan volume transaksi 35,4% YoY menjadi Rp9.317 triliun.
Volume transaksi QRIS BRI melonjak 133,1% YoY menjadi Rp59,4 triliun dengan jumlah transaksi mencapai 527,5 miliar. "Komposisi transaksi digital BRI kini mencapai 99,4% dari total transaksi, mencerminkan keberhasilan migrasi nasabah ke kanal digital yang efisien dan aman," papar Viviana.
Di sisi mikro, BRI memperkuat sinergi melalui Holding Ultra Mikro (UMi) bersama Pegadaian dan PNM. "Hingga akhir September 2025, Holding UMi telah menjangkau 34,5 juta debitur aktif dengan 185 juta rekening simpanan mikro," ujar Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Akhmad menambahkan, BRI juga memiliki 1.035 outlet SenyuM dan 3,8 juta nasabah emas dengan total simpanan 13,7 ton, tumbuh 66,9% YoY. Jumlah AgenBRILink mencapai lebih dari 1,2 juta agen di 66 ribu desa dengan volume transaksi Rp1.293,5 triliun.
Wakil Direktur Utama BRI Agus Noorsanto menyebut, program pemberdayaan seperti Desa BRILian, KlasterkuHidupku, dan LinkUMKM terus diperluas. "Hingga akhir September 2025, BRI memiliki 4.909 Desa BRILian, 41.715 klaster usaha, dan 54 Rumah BUMN dengan lebih dari 17 ribu pelatihan," katanya.
Agus juga menegaskan pentingnya sinergi BRI Group. "Kontribusi laba perusahaan anak telah mencapai 19,9% dari total laba konsolidasi. Sinergi ini memperkuat BRI sebagai satu kesatuan entitas yang memberikan layanan keuangan menyeluruh," ungkapnya.