Tradisi Rica-rica Picu Cabai Rawit Jadi Penyumbang Inflasi Utama di Gorontalo Maret 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mengungkapkan cabai rawit menjadi pemicu inflasi tertinggi di Gorontalo pada Maret 2026, didorong tradisi "rica-rica" dan momen Ramadhan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo melaporkan bahwa komoditas cabai rawit kembali menjadi pendorong utama inflasi di daerah tersebut pada Maret 2026. Kepala BPS Gorontalo, Watekhi, menjelaskan fenomena ini terjadi akibat lonjakan permintaan masyarakat yang signifikan.
Peningkatan konsumsi ini dipicu oleh tradisi kuliner lokal yang sangat mengandalkan cita rasa pedas, dikenal sebagai menu "rica-rica", terutama selama bulan suci Ramadhan dan persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Gorontalo memiliki ketergantungan tinggi terhadap bumbu dapur ini dalam setiap hidangan.
Akibatnya, cabai rawit memberikan andil inflasi sebesar 0,24 persen terhadap inflasi bulanan Gorontalo pada Maret 2026, menjadikannya penyumbang inflasi tertinggi. Pola konsumsi yang spesifik ini menjaga permintaan komoditas tetap kokoh di pasar tradisional maupun ritel.
Tradisi Rica-rica dan Lonjakan Permintaan Cabai
Tradisi kuliner "rica-rica" yang sangat digemari masyarakat Gorontalo menjadi faktor kunci di balik tingginya permintaan cabai rawit di wilayah tersebut. Hidangan pedas ini merupakan menu favorit, khususnya saat perayaan keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri, yang secara langsung memengaruhi harga di pasaran.
Watekhi dari BPS Gorontalo menegaskan bahwa fenomena Ramadhan dan Idul Fitri secara signifikan meningkatkan kebutuhan cabai. Masyarakat cenderung mengonsumsi makanan pedas lebih banyak, sehingga permintaan terhadap "rica" melonjak drastis. Hal ini menciptakan tekanan harga yang substansial pada komoditas cabai rawit.
Ketergantungan masyarakat setempat terhadap bumbu dapur ini sangat kuat, menjadikan cabai rawit sebagai komoditas strategis yang permintaannya stabil. Meskipun ada tekanan dari sektor pedas ini, pergerakan harga komoditas hortikultura lain seperti tomat mulai menunjukkan tren penurunan harga. Namun, dampaknya terhadap angka inflasi umum masih terus dipantau lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Stabilitas Ekonomi dan Upaya Pengendalian Harga
Secara akumulatif, inflasi bulanan Gorontalo pada Maret 2026 bertahan di angka 0,24 persen, menunjukkan stabilitas ekonomi daerah yang terjaga. Capaian ini tergolong baik di tengah fluktuasi harga pangan musiman yang sering terjadi di berbagai wilayah.
Jika dibandingkan secara nasional, tingkat inflasi di Provinsi Gorontalo termasuk dalam kategori rendah, menempati posisi sekitar urutan keenam terendah di Indonesia pada periode ini. Pihak otoritas statistik menyebutkan bahwa kondisi ekonomi daerah saat ini tergolong stabil dan terkendali.
Pentingnya sinergi dalam menjaga ketersediaan stok pangan menjadi faktor krusial agar daya beli masyarakat tidak terganggu oleh kenaikan harga. Pemerintah daerah diimbau untuk terus mengawal distribusi barang kebutuhan pokok di lapangan. Langkah ini bertujuan mengantisipasi lonjakan harga yang lebih ekstrem menjelang hari raya.
Harapannya, stabilitas harga pangan dapat terus terjaga sehingga masyarakat dapat merayakan hari besar keagamaan dengan tenang dan nyaman. Ini akan memastikan bahwa tidak ada beban kenaikan harga kebutuhan dasar yang mengganggu ketenangan perayaan mereka.
Sumber: AntaraNews