Target Juni 2026: Asosiasi Pasar Emas Indonesia Siap Terbentuk, Dorong Ekosistem Terstandardisasi
Pembentukan Asosiasi Pasar Emas Indonesia (IBMA) ditargetkan Juni 2026, menjadi langkah strategis mewujudkan ekosistem perdagangan emas yang terstandar dan diakui secara internasional.
Asosiasi Pasar Emas Indonesia (IBMA) ditargetkan resmi terbentuk pada Juni 2026 mendatang. Target ini merupakan hasil kesepakatan dari diskusi kelompok terpumpun (FGD) yang melibatkan sebelas perusahaan terkemuka di industri emas. Pembentukan IBMA diharapkan dapat menciptakan ekosistem perdagangan emas yang terstandarisasi dan diakui secara global, memberikan jaminan keamanan dan kepercayaan bagi para pelaku pasar.
Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan, mengungkapkan komitmen kuat dari berbagai pihak untuk merealisasikan asosiasi ini. Diskusi mendalam telah dilakukan untuk menyusun kerangka kerja IBMA, memastikan wadah ini dapat berfungsi optimal. Kehadiran IBMA sangat krusial untuk meningkatkan daya saing industri emas Indonesia di kancah internasional, seiring dengan pertumbuhan minat investasi emas.
Langkah strategis ini juga sejalan dengan peningkatan signifikan jumlah nasabah bank emas di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mencatat bahwa layanan bank emas, yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025, telah menarik jutaan investor baru. Peningkatan ini menunjukkan potensi besar pasar emas domestik yang perlu didukung oleh regulasi dan standar yang kuat melalui Asosiasi Pasar Emas Indonesia.
IBMA: Wadah Standardisasi Industri Emas Nasional
Pembentukan Asosiasi Pasar Emas Indonesia (IBMA) menjadi inisiatif penting untuk menstandardisasi industri emas di Tanah Air. Wadah ini akan berfungsi sebagai payung bagi para pelaku industri, memastikan praktik perdagangan yang transparan dan akuntabel. Dengan adanya standar yang jelas, diharapkan kepercayaan investor terhadap pasar emas Indonesia akan semakin meningkat, menarik lebih banyak investasi.
Sebelas perusahaan besar telah berpartisipasi aktif dalam FGD pembentukan IBMA, menunjukkan keseriusan industri. Perusahaan-perusahaan tersebut meliputi Pegadaian, AMMAN, ICDX Group, Hartadinata Abadi, Sentral Kreasi Kencana, Lakuemas, Brinks, UBS Gold, Central Mega Kencana, Galeri 24, serta Bank Syariah Indonesia (BSI). "Kami berkomitmen untuk membentuk lembaga ataupun asosiasi Indonesia Bullion Market Association dan InsyaAllah nanti bulan Juni kita bisa sahkan dan kita bisa resmikan," ujar Damar Latri Setiawan.
Tujuan utama IBMA adalah menciptakan ekosistem perdagangan emas yang tidak hanya aman tetapi juga diakui secara internasional. Standardisasi ini akan mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas emas, proses transaksi, hingga mekanisme penyelesaian sengketa. Dengan demikian, IBMA akan berperan vital dalam menjaga integritas dan reputasi pasar emas Indonesia di mata dunia, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Peningkatan Signifikan Nasabah Bank Emas dan Dampaknya
Layanan bank emas di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa sejak diluncurkan pada 26 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa jumlah nasabah bank emas telah melonjak drastis. Dari 3,2 juta orang pada Februari 2025, kini angka tersebut mencapai 5,7 juta orang, menandakan minat investasi emas yang terus meningkat di masyarakat.
PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah dua lembaga keuangan pertama yang mendapatkan izin resmi untuk menjalankan layanan bank emas. Keduanya telah mencatat peningkatan signifikan dalam nilai emas yang digadaikan dan dimanfaatkan sebagai pinjaman. "Jumlah yang digadaikan di Pegadaian, nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton. Mereka yang sudah memanfaatkan menjadi pinjaman juga naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun. Demikian pula di BSI itu juga meningkat, sekarang sudah mencapai 22 ton," kata Airlangga.
Tren peningkatan pembelian emas ini juga memiliki implikasi terhadap kondisi ekonomi makro, khususnya inflasi. Airlangga Hartarto menyoroti bahwa harga emas global telah mengalami kenaikan signifikan sejak peluncuran bank emas. Saat itu, harga emas masih berada di kisaran 3.000 dolar AS per ons troy, namun kini telah mencapai sekitar 5.000 dolar AS per ons troy. Pergerakan harga emas ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Sumber: AntaraNews