Pegadaian Kelola Emas Capai 141 Ton hingga 2025, Dukung Ekosistem Bullion Bank Nasional

PT Pegadaian berhasil mengelola total 141 ton emas hingga akhir tahun 2025, sebuah pencapaian signifikan yang memperkuat ekosistem bullion bank di Indonesia dan menarik jutaan nasabah baru.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pegadaian Kelola Emas Capai 141 Ton hingga 2025, Dukung Ekosistem Bullion Bank Nasional
PT Pegadaian berhasil mengelola total 141 ton emas hingga akhir tahun 2025, sebuah pencapaian signifikan yang memperkuat ekosistem bullion bank di Indonesia dan menarik jutaan nasabah baru. (AntaraNews)

PT Pegadaian berhasil mengelola total 141 ton emas hingga tahun 2025, menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam layanan keuangan berbasis emas di Indonesia. Pencapaian ini diumumkan oleh Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, dalam acara Peluncuran Peta Jalan Ekosistem Bullion Indonesia di Jakarta.

Pengelolaan emas tersebut berasal dari beragam produk perseroan, termasuk titipan emas, modal kerja emas, dan tabungan emas masyarakat, yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan ekosistem bank emas di Indonesia. Angka ini menegaskan posisi Pegadaian sebagai pemain kunci dalam industri emas nasional.

Perkembangan ini sejalan dengan peluncuran resmi bank emas oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025, di mana Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi dua lembaga keuangan pertama yang mendapatkan izin untuk menjalankan layanan tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk mengoptimalkan cadangan emas di dalam negeri dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Total 141 ton emas yang dikelola Pegadaian hingga 2025 mencakup berbagai jenis produk bullion. Secara rinci, pengelolaan emas ini berasal dari deposito emas sebanyak 2,25 ton, pinjaman modal kerja emas 320 kilogram, serta bullion trading sebesar 15,07 ton. Selain itu, titipan emas masyarakat juga berkontribusi signifikan dengan jumlah 3,7 ton.

Angka-angka ini menunjukkan diversifikasi portofolio emas yang dikelola oleh Pegadaian, mencerminkan strategi komprehensif dalam memanfaatkan potensi emas. Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menegaskan bahwa jumlah emas yang dikelola ini menjadi modal krusial untuk mendukung visi pengembangan ekosistem bank emas di Indonesia secara berkelanjutan.

Pengelolaan emas yang masif ini juga didukung oleh layanan utama perusahaan, yaitu gadai emas, yang pada Oktober 2025 mencapai 92 ton. Seluruh ekosistem emas di bawah pengelolaan Pegadaian, termasuk agunan gadai emas, mencapai 129 ton per 31 Oktober 2025.

Tabungan emas masyarakat menjadi salah satu pendorong utama peningkatan pengelolaan emas oleh Pegadaian, mencapai 19,2 ton dari sekitar 5,6 juta nasabah. Produk ini sangat diminati karena memungkinkan investasi emas dengan nominal yang terjangkau, menjadikannya instrumen investasi yang mudah diakses.

Untuk memperluas akses investasi emas, Pegadaian meluncurkan aplikasi digital bernama Tring pada Oktober 2025. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat mulai menabung emas hanya dengan nominal mulai dari Rp10.000, membuka peluang investasi bagi lebih banyak kalangan.

Hingga akhir 2025, aplikasi Tring telah digunakan oleh sekitar 4,8 juta pengguna dengan total transaksi mencapai 21,2 juta transaksi. Dari aktivitas tersebut, tercatat transaksi emas sekitar 4,8 ton atau setara dengan sekitar 50 persen dari total penjualan emas Pegadaian.

Pengembangan ekosistem bank emas (bullion bank) di Indonesia terus diperkuat, didukung oleh pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Asosiasi ini melibatkan sekitar 11 perusahaan industri emas nasional dan ditargetkan akan diresmikan pada Juni 2026. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan standar dan praktik terbaik dalam industri emas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti peningkatan signifikan jumlah nasabah bank emas di Indonesia. Dari 3,2 juta orang pada Februari 2025, jumlahnya melonjak menjadi 5,7 juta orang pada saat ini. Peningkatan ini mencerminkan minat masyarakat yang tinggi terhadap emas sebagai instrumen investasi.

Peluncuran bank emas secara resmi dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi dua lembaga keuangan pertama yang mendapatkan izin untuk menjalankan layanan tersebut, menandai era baru pengelolaan emas di Indonesia.

Nilai emas yang digadaikan di Pegadaian mengalami peningkatan drastis, dari 94 ton menjadi 144,7 ton. Peningkatan ini juga diikuti oleh kenaikan pinjaman yang memanfaatkan emas sebesar 38,5 ton, setara dengan Rp102 triliun. Hal ini menunjukkan peran penting emas sebagai jaminan pembiayaan.

Bank Syariah Indonesia (BSI) juga mencatat peningkatan serupa, dengan total emas yang dikelola mencapai 22 ton. Data ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap emas sebagai aset berharga dan instrumen investasi yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Airlangga Hartarto mengakui bahwa salah satu faktor yang turut memengaruhi inflasi adalah meningkatnya pembelian emas. Pada saat peluncuran bank emas, harga emas masih berada di kisaran 3.000 dolar AS per ounce troy, sedangkan saat ini telah mencapai sekitar 5.000 dolar AS per ounce troy. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh situasi perang yang mendorong ketidakpastian global, menjadikan emas sebagai instrumen safe haven yang dipilih masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi