Raup Untung Rp502 Miliar, BNBR Kantongi Persetujuan Right Issue dari Pemegang Saham
Melalui mekanisme PMHMETD ini, Perseroan akan menerbitkan saham baru seri E sebanyak-banyaknya 90 miliar saham.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyetujui rencana Perseroan untuk menggelar Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
"Perseroan menilai perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait Pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT)," kata Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie dikutip di Jakarta, Sabtu (28/2).
Melalui mekanisme PMHMETD ini, Perseroan akan menerbitkan saham baru seri E sebanyak-banyaknya 90 miliar saham. Saham baru tersebut akan dikeluarkan dari portepel Perseroan dan akan dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
"Perseroan akan menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD untuk pembayaran kewajiban Perseroan dan/atau anak perusahaan kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan usaha di Perseroan dan/atau anak perusahaan, termasuk CCT," jelas Anin.
Anin menambahkan, Perseroan berkeyakinan bahwa rencana PMHMETD dapat berdampak positif terhadap kinerja keuangan Perseroan, memperkuat kinerja operasional dan struktur permodalan Perseroan.
"Selain itu, penambahan modal juga dapat meningkatkan kemampuan Perseroan untuk melakukan ekspansi usaha, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada laba Perseroan dan diharapkan dapat meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi seluruh pemegang saham Perseroan," kata Anin.
Setelah aksi ini, lanjut Anin, rasio total pinjaman terhadap total aset turun dari sebesar 84,28 persen sebelum PMHMETD menjadi sebesar 67,9 persen setelah PMHMETD. Hal Ini menunjukkan bahwa setelah PMHMETD, komposisi aset Perseroan yang didanai dengan ekuitas menjadi lebih besar sehingga kontribusi kepada bagian pemegang saham dari kinerja aset-aset Perseroan menjadi lebih besar.
"Selain itu, penurunan rasio ini memberikan Perseroan fleksibilitas yang lebih tinggi untuk ekspansi dan perolehan modal kerja dari tambahan pendanaan eksternal apabila diperlukan," terang Anin.
Rasio total pinjaman terhadap total ekuitas turun dari sebesar 536,02 persen sebelum PMHMETD menjadi sebesar 211,57 persen setelah PMHMETD. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi ekuitas Perseroan meningkat dibandingkan dengan utangnya. "Rasio ini menjadi lebih baik karena menyeimbangkan struktur permodalan Perseroan antara ekuitas dan kewajiban," ujarnya.
Anin mengatakan, rencana PMHMETD akan memberikan pengaruh kepada pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD miliknya untuk melakukan pembelian Saham Baru, yang mana persentase kepemilikan saham di Perseroan akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 33,33 persen setelah dilaksanakannya HMETD.
Kinerja Keuangan
Perseroan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp3,74 triliun di sepanjang tahun 2025. Pendapatan bersih ini turun sebesar 3,28 persen year on year (yoy) dibanding tahun sebelumnya. Namun, perusahaanl menorehkan kenaikan laba bersih sebesar 49,6 persen senilai Rp502,74 miliar di sepanjang tahun 2025. Angka ini naik sebesar Rp166,69 miliar dibanding periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp336,04 miliar.
"Kami bersyukur di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, Perseroan mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025," terang Direktur Keuangan BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti.
Pendapatan bersih Perseroan tersebut berasal dari PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group sebesar Rp2,18 triliun, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Group sebesar Rp1,08 triliun, dan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp464,21 miliar.
VKTR: Peran Mobilitas Listrik Nasional
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), bagian dari BNBR, mencatat pendapatan sekitar Rp1,08–1,1 triliun pada 2025, meningkat dibanding tahun sebelumnya,didorong implementasi bus listrik, kendaraan niaga listrik, serta kontribusi stabil dari bisnis komponen otomotif.
VKTR menunjukkan ketahanan meskipun pasar otomotif nasional melambat, karena fokus pada kendaraan komersial yang didukung sektor logistik, infrastruktur, dan industri.
Ke depan hingga 2030, VKTR memiliki potensi pertumbuhan signifikan seiring percepatan elektrifikasi transportasi di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan bus listrik untuk transportasi publik serta truk listrik bagi sektor logistik, pertambangan, konstruksi, dan perkebunan. Pertumbuhan ini juga didukung oleh peningkatan TKDN, penguatan manufaktur domestik, dan pembangunan rantai pasok kendaraan listrik yang terintegrasi.
VKTR telah menjalin kerja sama dengan operator transportasi publik seperti TransJakarta, kementerian, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta untuk implementasi kendaraan listrik di berbagai kota.
Selain transportasi publik, kendaraan listrik komersial VKTR berpotensi menurunkan emisi pada sektor pertambangan, logistik, konstruksi, perkebunan, dan manufaktur sekaligus mengurangi konsumsi BBM serta biaya operasional. VKTR juga memperluas pemanfaatannya ke segmen Waste-to-Energy (WtE), termasuk penyediaan kendaraan listrik untuk pengangkutan sampah perkotaan yang diolah menjadi energi listrik guna meningkatkan efisiensi operasional pemerintah daerah sekaligus menekan emisi karbon.
VKTR juga berupaya melengkapi ekosistem EV nasional melalui pengembangan infrastruktur pengisian daya, sistem operasional, komponen kendaraan listrik, serta potensi industri baterai, sejalan dengan agenda hilirisasi dan target Net Zero Emissions Indonesia 2060.
Raihan Unit Usaha Lain
Di sepanjang tahun 2025, unit usaha BNBR telah berhasil mengukir prestasi. Anak perusahaan BNBR di industri pipa baja, PT Bakrie Pipe Industries (BPI) membukukan pendapatan sebesar Rp1,76 triliun, turun 22,8 persen dibanding revenue di periode sama tahun 2024 yang sebesar Rp2,29 triliun.
PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) menorehkan pendapatan sebesar Rp194,54 miliar, atau naik 28,1 persen dibanding revenue di periode sama tahun 2024 yang sebesar Rp151,88 miliar. Kenaikan pendapatan SEAPI ini berasal dari sektor non Oil & Gas dan sektor Oil & Gas.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,08 triliun, atau naik 8,5 persen dibanding periode sama di tahun sebelumnya sebesar Rp1,00 triliun. Kenaikan ini berasal dari pendapatan VKTR Holding, VKTS, dan BA Group.
PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatatkan revenue sebesar Rp464,21 miliar, atau naik 41,6 persen dibanding periode sama di tahun sebelumnya sebesar Rp327,93 miliar.
Kenaikan ini berasal dari kontribusi pendapatan PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) Group, PT Cimanggis Cibitung Tollways (“CCT”), PT Helio Synar Energy, serta dukungan portofolio infrastruktur lainnya termasuk jaringan pipanisasi sebagai infrastruktur strategis untuk transportasi minyak dan gas.
Di lini industri konstruksi dan EPC, PT Bakrie Construction (BCons) membukukan pendapatan sebesar Rp171,58 miliar, atau naik 330 persen dari periode sama di tahun sebelumnya sebesar Rp39,9 miliar. Kenaikan pendapatan ini berasal dari proyek yang dijalankan oleh perusahaan.