Pemprov NTB Mendesak Penambahan Kapal Angkut Ternak Kurban Jelang Idul Adha 1447 H
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta Penambahan Kapal Angkut Ternak Kurban kepada pemerintah pusat untuk mengatasi penumpukan hewan dan memastikan kelancaran distribusi menjelang Idul Adha 1447 H.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk Penambahan Kapal Angkut Ternak Kurban. Permintaan ini diajukan guna mengantisipasi lonjakan lalu lintas pengiriman hewan kurban menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya penumpukan sapi di berbagai pelabuhan utama di wilayah NTB.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, menjelaskan bahwa lalu lintas pengiriman hewan kurban dari Pulau Sumbawa ke luar daerah menunjukkan peningkatan signifikan. Pihaknya telah bersurat kepada Kementerian Perhubungan untuk memfasilitasi penyediaan armada tambahan. "Kami telah bersurat kepada Kementerian Perhubungan untuk dapat difasilitasi penyediaan dan pengoperasian kapal angkut ternak," ujar dia di Mataram, Sabtu.
Permohonan tersebut secara spesifik mencakup satu unit kapal ternak Camara Nusantara dengan trayek Bima–Tanjung Priok, serta satu unit kapal roro tambahan berkapasitas 50-70 truk. Penambahan ini krusial untuk mendukung kelancaran distribusi sapi dari NTB, khususnya menuju pasar hewan di wilayah Jabodetabek.
Tantangan Distribusi dan Mitigasi Risiko Hewan Kurban
Keterbatasan armada angkutan laut menjadi kendala utama yang kerap menyebabkan antrean panjang pengiriman ternak. Fenomena ini terjadi di beberapa pelabuhan vital seperti Pelabuhan Pototano di Sumbawa Barat, Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, serta Pelabuhan Gilimas dan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Antrean yang mengular ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi peternak dan distributor.
Pada tahun sebelumnya, tepatnya Idul Adha 2025, antrean panjang truk pengangkut hewan kurban di NTB menimbulkan insiden tragis. Sebanyak 16 ekor sapi dilaporkan mati akibat kelelahan ekstrem karena terlalu lama menunggu antrean keberangkatan kapal laut. Kejadian ini menunjukkan urgensi penanganan masalah transportasi ternak yang lebih baik.
Muhamad Riadi menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak serta mitigasi risiko di seluruh rantai distribusi. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi hewan kurban yang mati sia-sia selama perjalanan menuju pasar hewan. "Kami memperketat pengawasan Kesehatan hewan qurban guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular strategis dan zoonosis menjelang Idul Adha," ucap dia.
Strategi Antisipasi dan Harapan Kelancaran Distribusi Ternak
Selain mengajukan permohonan Penambahan Kapal Angkut Ternak Kurban, Pemerintah Provinsi NTB juga telah menyiapkan langkah antisipasi internal. Salah satu upaya konkret adalah pengaturan jadwal pengiriman ternak dari Pulau Sumbawa agar sesuai dengan kapasitas muat kapal. Penjadwalan ini disesuaikan secara cermat dengan kapasitas armada yang tersedia saat ini.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjaga kelancaran distribusi sapi kurban dari NTB ke berbagai daerah tujuan. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk menjamin kesehatan hewan selama perjalanan. Keamanan masyarakat penerima kurban juga menjadi prioritas utama dalam setiap proses pengiriman.
Riadi berharap bahwa permohonan Penambahan Kapal Angkut Ternak Kurban kepada pemerintah pusat dapat segera terpenuhi. Namun, jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Pemprov NTB telah menyiapkan skenario cadangan. "Jika upaya yang kami lakukan tidak terpenuhi oleh pemerintah pusat, maka upaya yang kami dilakukan adalah rekayasa waktu lalu lintas ternak," pungkasnya.
Sumber: AntaraNews