Pemerintah Dorong Transisi Energi lewat Danantara dan INA
Perbedaan karakter pendekatan investasi Danantara dan INA menjadi kolaborasi yang ideal perlua jejaring.
Pemerintah terus memperkuat komitmen dalam mendorong transisi energi dan pembangunan ekonomi hijau melalui kehadiran dua lembaga investasi strategis, yakni Indonesia Investment Authority (INA) dan lembaga baru Danantara.
Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, menyatakan bahwa kedua lembaga tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam pembiayaan proyek-proyek jangka panjang, khususnya di sektor energi hijau dan hilirisasi industri.
“INA sangat fokus pada investasi berbasis imbal hasil (IRR). Bukan berarti Danantara tidak, tetapi karena ukuran dan basis asetnya, Danantara bisa mendatangkan investasi atau bahkan mengurangi risiko yang tidak bisa dilakukan INA,” ujar Thomas dalam wawancara di acara Energy Transition Summit Asia di Jakarta, Rabu (25/6).
Menurut Thomas, INA telah lebih dulu beroperasi sebagai sovereign wealth fund Indonesia dan telah terlibat dalam sejumlah proyek dengan imbal hasil tinggi. Namun, pendekatan INA cenderung selektif dan fokus pada investasi yang sudah minim risiko.
Sementara itu, Danantara yang baru dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, hadir untuk menjangkau proyek-proyek strategis yang lebih kompleks dan berisiko, seperti hilirisasi mineral dan infrastruktur energi.
“Dengan aset yang lebih besar, Danantara bisa bertindak sebagai de-risking agent. Tapi keduanya tetap saling melengkapi. Jika digabung, mereka bisa mendukung pembiayaan proyek strategis secara lebih efektif,” tambahnya.
Danantara Kelola 889 Perusahaan BUMN
Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Danantara, Pandu Patra Sjahrir, menyampaikan bahwa Danantara mengelola dividen BUMN serta dua jenis holding investasi dan operasional dengan tujuan membentuk sovereign fund bertaraf global.
“Danantara mengelola operasional 889 perusahaan BUMN. Dividen dari korporatisasi ini akan diinvestasikan kembali ke dalam dan luar negeri untuk tujuan komersial,” ungkap Pandu dalam forum bisnis “Prospek Danantara Menuju Sovereign Fund Bertaraf Dunia” yang digelar oleh President Club.
Ia juga menegaskan komitmen Danantara dalam menerapkan good governance dan meritokrasi, termasuk menempatkan talenta terbaik di perusahaan-perusahaan BUMN seperti Pertamina dan Telkom.
Dengan peran strategis INA dan Danantara, pemerintah berharap percepatan transisi energi dan industrialisasi nasional dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.