Nelayan Aceh Jaya Resah, Ketersediaan BBM untuk Melaut Terbatas
Ketersediaan BBM Nelayan Aceh Jaya menjadi sorotan setelah para nelayan mengeluhkan antrean panjang dan terbatasnya kuota solar, menghambat aktivitas melaut mereka.
Para nelayan di Kabupaten Aceh Jaya kini menghadapi kendala serius dalam menjalankan aktivitas melaut mereka. Keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menyebabkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat. Situasi ini memaksa mereka menunggu hingga dua hari hanya untuk mendapatkan pasokan BBM yang cukup.
Akibatnya, jadwal melaut para nelayan menjadi terganggu, berdampak langsung pada penghasilan dan ekonomi keluarga. Sekretaris Panglima Laot Lhok Rigaih Aceh Jaya, Maulizar, mengungkapkan kesulitan ini pada Jumat (9/5) lalu. Ia menekankan bahwa pasokan minyak yang terbatas menghambat keberangkatan mereka.
Kondisi ini tidak hanya merugikan para nelayan utama, tetapi juga anak buah kapal (ABK) yang menggantungkan hidup dari hasil melaut. Maulizar berharap pemerintah dapat memprioritaskan ketersediaan BBM bagi nelayan agar roda perekonomian lokal tetap berjalan.
Antrean Panjang dan Dampak Ekonomi Nelayan
Maulizar menjelaskan bahwa kebutuhan BBM solar untuk satu kapal nelayan berukuran 7 gross tonnage (GT) bisa mencapai 700 liter sekali jalan. Jumlah ini sesuai dengan surat izin yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun, karena antrean yang mengular dan stok yang terbatas, nelayan sulit mendapatkan jumlah BBM sesuai kebutuhan.
Keterbatasan ini berarti banyak nelayan tidak dapat melaut sesuai jadwal yang seharusnya. Penundaan keberangkatan ini secara langsung mengurangi hari kerja mereka, yang pada akhirnya berimbas pada pendapatan. Situasi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi banyak keluarga nelayan di Aceh Jaya.
Dampak domino dari masalah BBM ini sangat terasa di komunitas pesisir. Tidak hanya nelayan pemilik kapal, tetapi juga para anak buah kapal (ABK) yang bekerja harian turut merasakan kesulitan. Mereka kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah, mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga.
Maulizar berharap agar pasokan minyak untuk nelayan dapat diprioritaskan di masa mendatang. Dengan demikian, aktivitas melaut dapat berjalan lancar dan perekonomian masyarakat nelayan di sana bisa pulih kembali.
Penjelasan Pemerintah Daerah dan Upaya Solusi
Menanggapi keluhan ini, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan (DKPP) Aceh Jaya, Destin Rezawan, memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak membatasi kuota BBM untuk nelayan. Surat izin yang dikeluarkan telah sesuai dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Destin Rezawan mengungkapkan bahwa informasi yang diterima dari pihak SPBU mengindikasikan adanya pengurangan kuota pasokan minyak untuk daerah, termasuk Aceh, karena kondisi negara. Oleh karena itu, pihak SPBU mungkin mengambil kebijakan untuk sedikit membatasi pendistribusian.
DKPP Aceh Jaya berjanji akan segera berkoordinasi kembali dengan pihak SPBU untuk memahami sejauh mana kebijakan pembatasan ini diterapkan. Tujuannya adalah memastikan tidak ada pihak yang dirugikan, terutama para nelayan. Destin Rezawan berharap kondisi ini hanya sementara.
Ia juga menambahkan bahwa pihak SPBU menjanjikan pendistribusian akan kembali normal setelah kondisi pasokan membaik. Koordinasi ini penting untuk mencari solusi jangka pendek dan panjang agar masalah ketersediaan BBM nelayan Aceh Jaya tidak terulang.
Data Nelayan dan Armada di Aceh Jaya
Berdasarkan data dari DKPP Aceh Jaya, jumlah nelayan yang tercatat melalui aplikasi Kusuka dan memiliki kartu nelayan mencapai 1.723 orang.
Armada kapal nelayan di Aceh Jaya terdiri dari 736 unit kapal berkapasitas 10 GT ke bawah.
Selain itu, terdapat 4 unit kapal nelayan dengan kapasitas 25 GT ke atas yang juga beroperasi di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews