Mobil Listrik Mulai Ditinggalkan Warga Singapura, Ternyata Ini Alasannya
Para pemilik mobil listrik tetap khawatir mengenai biaya dan kualitas pengisian daya.
Menurut survei yang dilakukan oleh Mobility Consumer Index (MCI) EY 2025, terdapat 32 persen responden yang berencana untuk membeli kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) dalam dua tahun ke depan di Singapura. Keputusan ini diambil karena masyarakat Singapura khawatir mengenai infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik (EV) serta biaya-biaya lain yang mungkin timbul.
Seperti yang dilansir oleh Businesstimes, Sriram Changali, Pemimpin Industri EY-Parthenon, menyatakan bahwa calon pembeli mobil listrik di Singapura mulai mempertimbangkan kembali pilihan mereka.
"Meskipun hasil MCI tahun lalu mencerminkan optimisme yang kuat seputar pembelian kendaraan listrik, survei tahun ini mengungkapkan bahwa pembeli mobil di Singapura mempertimbangkan kembali pilihan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE)," ungkap Sriram.
Pergeseran preferensi dari mobil berbahan bakar listrik ke mesin bensin ini sejalan dengan tren global, di mana banyak pengemudi kembali memilih mesin bensin yang sudah mereka kenal. Meskipun data penjualan tahun 2025 menunjukkan angka registrasi kendaraan listrik yang tinggi, Singapura tetap dikenal sebagai pasar otomotif terkemuka di Asia Tenggara untuk kendaraan listrik.
Namun, kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik masih belum sepenuhnya optimal, terutama karena kekhawatiran mengenai jaringan pengisian daya dan biaya penggantian baterai. Walaupun sentimen pasar mengalami penurunan, Singapura masih menjadi pemimpin regional dalam hal adopsi kendaraan energi baru (NEV). Dalam laporan terpisah tahun 2025, distributor otomotif global Inchcape menyebutkan bahwa Republik Singapura menempati peringkat tinggi di Asia Tenggara untuk adopsi NEV.
Tren Saat Ini Menunjukkan Perubahan
BYD, produsen otomotif yang berasal dari Tiongkok, berhasil meraih posisi teratas sebagai merek mobil terlaris di Singapura pada bulan Mei 2025, mengalahkan merek-merek otomotif besar lainnya seperti Toyota untuk pertama kalinya. Pangsa pasar BYD melonjak hingga mencapai 19,7 persen dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Namun, pada bulan Juli, mereka meluncurkan mobil bermesin bensin di Singapura untuk pertama kalinya. Kendaraan listrik di Singapura kini menyumbang 43 persen dari total pendaftaran mobil baru selama sembilan bulan pertama tahun 2025.
Jika dibandingkan, kendaraan listrik hanya memberikan kontribusi sebesar 33,8 persen dari penjualan mobil baru sepanjang tahun 2024 dan 18,2 persen pada tahun 2023. Di sisi lain, proyeksi untuk periode transisi yang dikelola dengan mobil berbahan bakar bensin masih akan tetap diterapkan.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kendaraan listrik mengalami peningkatan yang signifikan, Pemerintah Singapura hanya akan mengizinkan kendaraan "energi bersih" untuk pendaftaran mobil baru pada tahun 2030. Kesenjangan dalam infrastruktur pengisian daya juga menjadi perhatian di Singapura, meskipun pemerintah sedang memperluas jumlah stasiun pengisian daya yang tersedia.