Gunung Dukono di Halmahera Utara kembali mengalami erupsi pada Jumat (8/5). Dalam peristiwa tersebut, dilaporkan dua warga negara asing (WNA) asal Singapura dan satu WNI meninggal dunia.
Menanggapi kabar tersebut, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan terhadap aktivitas para pendaki dan wisatawan yang beraktivitas di kawasan gunung api aktif.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah dan PVMBG guna meminimalisasi risiko korban saat terjadi aktivitas vulkanik.
"Seandainya ada korban tentu kita terus meningkatkan koordinasi, mengingatkan begitu agar tadi kehati-hatian setiap orang yang memang akan beraktivitas di gunung tersebut," kata dia saat ditemui di Kantor PVMBG, Kota Bandung, pada Jumat (8/5).
Advertisement
Siti mengimbau masyarakat, khususnya pendaki, untuk selalu memantau status gunung sebelum melakukan aktivitas pendakian. Gunung Dukono saat ini berada pada level Waspada, sehingga masyarakat diminta tidak mendekati area dalam radius 4 kilometer dari kawah.
Menurutnya, gunung api dengan status Waspada tetap berpotensi mengalami erupsi sewaktu-waktu sehingga kewaspadaan harus terus dijaga.
"Mohon diperhatikan wilayah sekitar gunung yang kita sampaikan 4 kilometer itu jangan mendekat ke arah sana. Karena gunung ini dalam kondisi aktif, bisa kapan aja terjadi erupsi," ucap dia.
PVMBG sendiri telah menyediakan Peta Kawasan Rawan Bencana yang membagi wilayah sekitar gunung ke dalam beberapa zona risiko. Peta tersebut dapat diakses masyarakat melalui laman resmi PVMBG.
"Waspada itu kitanya waspada gitu, bisa terjadi erupsi, bisa tidak. Tapi selama tadi mengikuti arahan dari pemerintah, 4 kilometer jangan mendekat, jangan beraktivitas," ujar dia.
Advertisement
Gunung Dukono yang berada di wilayah Kecamatan Galela dan Tobelo sebelumnya sempat mengalami penurunan aktivitas erupsi pada Agustus 2025. Namun sejak 30 Maret 2026, aktivitas erupsi magmatik eksplosif kembali meningkat secara signifikan.
PVMBG mencatat sedikitnya terjadi 199 kali erupsi dengan tinggi kolom erupsi berkisar antara 50 hingga 400 meter dari puncak gunung.
Erupsi terbaru terjadi pada 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT dan disertai suara dentuman lemah hingga kuat. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm serta durasi mencapai 967,56 detik.
Dalam erupsi terbaru, kolom abu teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan mencapai ketinggian sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung. Sebaran abu vulkanik diketahui bergerak ke arah utara. Kondisi ini membuat wilayah permukiman hingga Kota Tobelo perlu meningkatkan kewaspadaan karena berpotensi terdampak hujan abu vulkanik.