Menteri P2MI Dorong Calon Pekerja Migran Ajukan KUR, Permudah Biaya Keberangkatan
Menteri P2MI Mukhtarudin membuka peluang bagi calon pekerja migran untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp100 juta, mempermudah biaya keberangkatan. Peluang **KUR Pekerja Migran** ini didukung alokasi dana besar.
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin telah memberikan lampu hijau bagi calon pekerja migran untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini disampaikan saat peresmian Pasim Go Migrant Center di Sukabumi, Jawa Barat, pada 23 November lalu. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi kendala finansial yang sering dihadapi para calon pekerja migran.
Mukhtarudin secara langsung mempersilakan individu yang akan bekerja di luar negeri, baik secara mandiri maupun melalui pemerintah daerah dan pelaksana penempatan, untuk mengajukan pinjaman ini. Program KUR diharapkan menjadi solusi konkret bagi mereka yang memiliki potensi, namun terkendala biaya awal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja migran.
Melalui program KUR ini, calon pekerja migran dapat mengajukan pinjaman hingga Rp100 juta dengan bunga yang relatif ringan, yakni enam persen. Fasilitas ini dirancang untuk meringankan beban finansial dan memastikan lebih banyak individu dapat meraih peluang kerja di luar negeri. Pengembalian pinjaman juga diatur agar dapat dicicil dari hasil pendapatan yang diperoleh selama bekerja.
Peluang Akses Pembiayaan bagi Pekerja Migran
Pemerintah melalui Kementerian P2MI berkomitmen penuh untuk mendukung keberangkatan pekerja migran yang berkualitas. Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa fasilitas KUR ini sangat penting untuk membantu pekerja migran yang tidak punya kemampuan biaya supaya bisa tetap berangkat. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam memfasilitasi warganya.
Pinjaman KUR hingga Rp100 juta dengan bunga enam persen menjadi tawaran menarik bagi calon pekerja migran. Skema pengembalian yang fleksibel, yaitu dapat dicicil dari hasil kerja, memberikan kemudahan bagi peminjam. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan kekhawatiran finansial yang sering menyertai proses keberangkatan.
Dukungan finansial ini juga sejalan dengan kebutuhan pasar kerja internasional yang masih memiliki banyak lowongan. Dengan akses pembiayaan yang lebih mudah, diharapkan jumlah pekerja migran Indonesia yang berangkat dapat meningkat. Ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarga dan juga devisa negara.
Dukungan Anggaran dan Ketersediaan Lowongan Kerja
Alokasi anggaran untuk program KUR pekerja migran menunjukkan komitmen pemerintah yang serius. Mukhtarudin menyebutkan bahwa KUR tahun 2025 dialokasikan sebesar Rp210 miliar. Dari jumlah tersebut, baru tersalurkan Rp64 miliar, yang berarti masih banyak dana yang bisa dimanfaatkan oleh calon pekerja migran.
Selain dukungan finansial, ketersediaan lowongan pekerjaan di luar negeri juga sangat menjanjikan. Berdasarkan hasil pemetaan, tersedia sekitar 290 ribu lowongan pekerjaan di luar negeri. Namun, angka pelamar baru mencapai sekitar 20 persen, menunjukkan celah besar antara ketersediaan pekerjaan dan jumlah pelamar yang siap.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa salah satu hambatan utama adalah biaya keberangkatan. Dengan adanya program KUR Pekerja Migran, diharapkan kesenjangan ini dapat diminimalisir. Calon pekerja migran kini memiliki kesempatan lebih besar untuk mengisi posisi-posisi tersebut dan meningkatkan taraf hidup mereka.
Kolaborasi dengan Perbankan untuk Penyaluran KUR
Upaya penyaluran KUR bagi pekerja migran tidak hanya berhenti pada alokasi anggaran, tetapi juga melibatkan kolaborasi erat dengan sektor perbankan. Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani, pada Jumat (21/11), menerima Direksi Bank Artha Graha Internasional untuk membahas rencana kolaborasi penyaluran KUR.
Christina Aryani menjelaskan bahwa Bank Artha Graha memiliki pengalaman panjang dalam menyalurkan KUR khusus pekerja migran, meskipun sempat terhenti sementara karena pandemi COVID-19. Bank swasta tersebut juga memiliki rekam jejak penyaluran pembiayaan bagi pekerja migran di sejumlah negara tujuan penempatan seperti Hong Kong dan Taiwan.
Plafon KUR untuk pekerja migran di tahun 2026 mencapai Rp208 miliar, yang akan disalurkan melalui berbagai bank. Di antaranya adalah Bank Artha Graha sebesar Rp25 miliar, Bank Sinarmas Rp25 miliar, Bank Jawa Barat (BJB) Rp45 miliar, dan Bank Jakarta Rp100 miliar. Pertemuan tersebut juga membahas kesiapan teknis dan administrasi sebelum program penyaluran KUR untuk pekerja migran kembali diaktifkan secara penuh.
Sumber: AntaraNews