Menperin Sebut Indonesia Berpotensi Jadi Raksasa Baru Industri Penerbangan
Indonesia diproyeksi jadi pasar penerbangan terbesar keempat dunia pada 2030. Pemerintah dorong industri dirgantara dan MRO siap menangkap peluang.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030.
Pernyataan itu disampaikannya pada acara penandatanganan nota kesepahaman bersama Airbus Asia Pacific di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Mengacu pada laporan International Air Transport Association (IATA), ia menilai pertumbuhan sektor penerbangan nasional akan berlangsung pesat dalam beberapa tahun ke depan.
"Jadi tidak lama lagi kita akan menjadi pasar industri penerbangan terbesar keempat di dunia," kata Agus.
Jumlah Penerbangan Domestik Meningkat
Agus mengatakan pasar pesawat global saat ini berada dalam tren positif. Berdasarkan data McKenzie tahun 2024, jumlah pesawat di dunia mencapai rekor tertinggi sebanyak 15.700 unit.
Selain pertumbuhan armada, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) juga memproyeksikan peningkatan signifikan jumlah penerbangan domestik dan penumpang pesawat di Indonesia.
Ia turut memaparkan capaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sejumlah produk pesawat nasional.
"Dengan capaian nilai TKDN, antara lain NC212 TKDN-nya 42,15 persen, CN235 TKDN-nya 38,74 persen, C295 TKDN-nya mendekati 21 persen, dan N219 TKDN-nya sudah sangat tinggi, mendekati 45 persen," imbuhnya.
Menurut Agus, lonjakan kebutuhan armada otomatis akan meningkatkan permintaan komponen serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat.
Industri MRO Hadapi Tantangan
Saat ini Indonesia memiliki 64 perusahaan MRO yang tersebar di berbagai wilayah. Industri tersebut juga didukung keberadaan Indonesia Aircraft Management Services Association (IAMSA).
Meski demikian, Agus mengakui industri MRO nasional menghadapi tekanan yang cukup berat, mulai dari berkurangnya jumlah pesawat yang beroperasi hingga tingginya biaya operasional.
"Terlebih terhadap tren turunnya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia, dan juga tekanan biaya tinggi," ujarnya.
Pemerintah mendorong industri dirgantara nasional memanfaatkan peluang tersebut melalui kerja sama strategis, termasuk kolaborasi dengan Airbus Asia Pacific.
"Pemerintah berharap akan terdapat kolaborasi yang kuat, yang tidak hanya menghasilkan kerangka kerja strategis, tetapi juga menghadirkan alih teknologi yang nyata, peningkatan kandungan lokal dalam industri manufaktur pesawat kedirgantaraan, serta pemenuhan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi, dirgantara, MRO, dan juga peningkatan peran Indonesia dalam rantai pasok global," tuturnya.