Bukan Hanya Turbulensi, Penumpang Pesawat Kini Harus Waspada Roket Jatuh!

Studi terbaru mengungkap ancaman jatuhnya puing roket ke pesawat, dengan risiko kematian 1 banding 2.200 per tahun.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bukan Hanya Turbulensi, Penumpang Pesawat Kini Harus Waspada Roket Jatuh!
Bukan Hanya Turbulensi, Penumpang Pesawat Kini Harus Waspada Roket Jatuh! (Ilustrasi dibuat dengan Grok AI)

Para ilmuwan kini mengungkap ancaman baru bagi dunia penerbangan. Apa? Kemungkinan pesawat terkena serpihan roket yang jatuh dari orbit.

Ancaman ini telah dilakukan sebuah studi terbaru dari University of British Columbia. Mereka menghitung bahwa dalam satu tahun, ada kemungkinan 1 banding 2.200 seorang penumpang pesawat tewas akibat hantaman puing roket.

Angka ini bahkan dianggap sebagai perkiraan konservatif karena hanya mempertimbangkan risiko dari tubuh roket yang jatuh, tanpa memasukkan bahaya dari satelit atau pecahan kecil lainnya yang bisa menambah ancaman.

Seiring dengan meningkatnya jumlah peluncuran roket ke luar angkasa, risiko puing-puing jatuh ke Bumi juga bertambah. Data dari RocketLaunch.org mencatat bahwa pada tahun 2000 hanya ada 81 peluncuran roket yang berhasil, namun pada 2024 jumlahnya melonjak menjadi 258.

Akibatnya, lebih dari 2.300 tubuh roket kini mengorbit di luar angkasa, dengan sebagian di antaranya berisiko jatuh kembali ke Bumi.

Setiap kali roket diluncurkan, bagian bawah (booster) dan tahap pertama roket dilepaskan dan tertinggal di orbit. Jika bagian ini tidak berada di ketinggian atau kecepatan yang cukup, gravitasi akan menariknya kembali ke atmosfer Bumi, di mana sebagian akan terbakar habis, sementara sisanya jatuh sebagai puing.

Hingga kini, kurang dari 35% peluncuran roket memiliki mekanisme untuk mengontrol pendaratan bagian roket setelah misinya selesai. Akibatnya, terjadi 120 kasus re-entry roket yang tidak terkendali pada 2024, beberapa di antaranya jatuh di wilayah berpenduduk dan bahkan mengganggu penerbangan.

Meskipun kemungkinan pesawat terkena dampak langsung tergolong kecil, efek dari jatuhnya puing roket dapat menyebabkan biaya tambahan dan penundaan penerbangan yang signifikan.

Studi ini mencatat bahwa ada 26% kemungkinan serpihan roket jatuh di wilayah udara sibuk tahun ini, termasuk di atas kota-kota besar dan rute penerbangan utama.

Pada 2022, misalnya, roket Long March 5B milik Tiongkok jatuh ke Samudra Atlantik setelah terdeteksi melintas langsung di atas Spanyol, Prancis Selatan, dan Monako, yang menyebabkan penutupan sementara wilayah udara di negara-negara tersebut. Penutupan ini berdampak pada ratusan penerbangan dan menyebabkan gangguan operasional di bandara.

"Ledakan roket SpaceX Starship baru-baru ini menunjukkan betapa sulitnya menutup wilayah udara secara tiba-tiba. Dalam kasus roket yang tidak terkendali, kita bahkan tidak tahu di mana puingnya akan jatuh," ujar Ewan Wright, pemimpin penelitian ini dikutip dari DailyMail, Kamis (6/2).

Rekomendasi