Mengenal Sosok Pendiri Batan yang Bermimpi Memajukan Indonesia Lewat Tenaga Nuklir
Sejarah Batan dimulai dari ide Prof. Dr. G.A. Siwabessy untuk memanfaatkan tenaga atom bagi pembangunan Indonesia.
Di tengah tantangan pembangunan nasional pascakemerdekaan, muncul satu sosok yang membawa pemikiran visioner terhadap pemanfaatan tenaga atom di Indonesia: Prof. Dr. G.A. Siwabessy. Ia bukan hanya ilmuwan, melainkan peletak dasar kebijakan teknologi nuklir yang berorientasi pada kepentingan damai dan pembangunan nasional. Gagasannya inilah yang melahirkan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), institusi yang menjadi tonggak awal pengembangan energi nuklir di tanah air.
Dilansir dari laman ugm,ac,id Prof. Siwabessy mengusulkan pembentukan lembaga khusus yang menangani tenaga atom setelah melihat potensi besar teknologi ini untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Pemanfaatan tenaga nuklir dinilai dapat diaplikasikan pada berbagai sektor strategis, seperti kesehatan, pertanian, hingga energi.
Dorongan ini tak datang tanpa alasan. Sebelumnya, ia memimpin penyelidikan radioaktivitas di Indonesia pascaujicoba senjata nuklir di kawasan Pasifik. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah Indonesia relatif aman dari paparan radioaktif. Fakta ini memperkuat keyakinannya bahwa tenaga atom dapat digunakan secara aman untuk keperluan sipil, bukan militer.
Dari Gagasan ke Kebijakan Negara
Pemerintah Indonesia akhirnya mengadopsi pemikiran Prof. Siwabessy. Melalui Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 1958, dibentuklah lembaga yang awalnya bernama Lembaga Tenaga Atom. Inilah cikal bakal dari BATAN yang kita kenal saat ini.
Tak sekadar membentuk lembaga, Prof. Siwabessy juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Ia menyadari bahwa pengembangan teknologi nuklir memerlukan dukungan dari laboratorium, fasilitas riset, serta ahli-ahli yang mumpuni.
Sejak awal, BATAN dirancang bukan untuk proyek prestisius belaka, tetapi untuk tujuan pragmatis: meningkatkan kualitas hidup rakyat melalui inovasi teknologi nuklir. Hal ini tercermin dalam sejumlah program aplikatif seperti pemanfaatan radioisotop dalam bidang medis, riset varietas tanaman unggul melalui teknik mutasi, hingga kajian energi alternatif berbasis reaktor riset.
Komitmen ini menandai BATAN sebagai institusi ilmiah yang berpijak pada misi pembangunan nasional. BATAN tidak hanya menjadi pelaku riset, tetapi juga instrumen negara dalam menyelaraskan teknologi dengan kebutuhan rakyat.
Lebih dari sekadar sejarah institusi, kisah BATAN adalah bukti bagaimana visi seorang ilmuwan dapat mewarnai arah kebijakan teknologi suatu bangsa. Prof. Siwabessy telah meninggalkan warisan tak ternilai—bukan hanya dalam bentuk lembaga, tetapi dalam bentuk paradigma: bahwa teknologi, jika diarahkan dengan tepat, bisa menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi.