Korban Baru Kebijakan Trump, Intel Bakal PHK 20.000 Pekerja
PHK massal tersebut dapat berdampak buruk di Oregon, pusat operasi Intel yang terbesar.
Intel berencana akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ke 20.000 pekerja atau lebih di seluruh perusahaan. Pemangkasan jumlah karyawan tersebut akan menyusul PHK besar-besaran tahun lalu di pembuat chip yang sedang kesulitan itu, dan pengangkatan CEO baru Intel, Lip-Bu Tan.
PHK massal tersebut dapat berdampak buruk di Oregon, pusat operasi Intel yang terbesar. Perusahaan tersebut mempekerjakan 20.000 pekerja di Washington County, lebih banyak dari pada bisnis lain di negara bagian tersebut.
"Semikonduktor adalah produk Oregon yang paling berharga dan ekspor utamanya," tulis Bloomberg, Jumat (25/4)
Saat ini, Intel mempekerjakan sekitar 109.000 pekerja di seluruh dunia pada akhir tahun 2024. Sebagai pembuat chip terbesar di dunia, Intel telah berjuang selama beberapa tahun, akibat kesalahan langkah teknologi yang membuat perusahaan tersebut kehilangan keunggulan teknologinya.
Permintaan chip Intel yang menurun, ditambah dengan lonjakan pengeluaran untuk pabrik baru, telah membuat perusahaan tersebut mengalami tekanan keuangan. Masalah tersebut diperburuk oleh kegagalan Intel dalam mengembangkan chip canggih untuk melayani pasar kecerdasan buatan yang berkembang pesat.
Kondisi ini diperparah, dengan penjualan Intel telah turun sekitar sepertiga sejak 2021. Bahkan, perusahaan tersebut melaporkan kerugian sebesar USD19 miliar tahun lalu. Sebagian besar kerugian tersebut terdiri dari biaya akuntansi dan biaya pesangon yang terkait dengan pemutusan hubungan kerja 15.000 pada musim gugur lalu.
Kebijakan Tarif Trump
Kini, kinerja Intel menghadapi ancaman baru dari perang dagang pemerintahan Donald Trump. Perusahaan tersebut memiliki operasi manufaktur besar di Oregon dan Arizona dan tarif balasan dari negara lain dapat membuat chip yang dibuat di AS lebih mahal daripada yang ditawarkan pesaing.
Peralatan elektronik yang dirakit dengan chip Intel di Asia juga akan jauh lebih mahal di AS karena tarif Trump. Dengan ini, konsumen berpotensi mengurangi permintaan terhadap produk Intel yang dianggap lebih mahal.
Analis investasi secara umum setuju bahwa Intel tidak dalam bahaya keuangan langsung, tetapi menghadapi masalah sistemik yang dapat menghambat bisnis secara permanen. Namun, pemutusan hubungan kerja yang tertunda mungkin bukan tentang penghematan biaya, melainkan upaya untuk membuat bisnis lebih efisien dan efektif.
Ketika Intel merekrut Tan bulan lalu, dia berbicara kepada karyawan melalui panggilan video dan memperingatkan tentang "keputusan sulit" yang akan diambil tanpa menyebutkan apa yang direncanakannya. Tan pernah menjabat di jajaran direksi Intel tetapi mengundurkan diri tahun lalu. Saat itu, ia merasa perusahaan itu terlalu besar dan memiliki terlalu banyak lapisan manajemen.
Sejak mengambil alih pada bulan Maret, Tan telah membuat beberapa perubahan besar pada operasi Intel. Ia telah mengatur ulang struktur manajemen, mengganti beberapa eksekutif teknologi papan atas, dan menyelesaikan penjualan saham mayoritas di bisnis chip terprogram Intel, Altera.