Efisiensi Biaya, Panasonic Pangkas 10.000 Karyawan hingga Maret 2026
Kondisi geopolitik dan ekonomi global turut memperparah situasi.
Gelombang efisiensi kembali melanda industri teknologi. Kali ini, giliran raksasa elektronik asal Jepang, Panasonic, yang mengumumkan akan memangkas sekitar 10.000 tenaga kerja secara global, sebagai bagian dari upaya restrukturisasi perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Langkah ini diambil oleh Panasonic melalui anak perusahaannya, Panasonic Energy, yang dikenal luas sebagai pemasok baterai utama untuk Tesla. Perusahaan menargetkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 5.000 pekerja di Jepang dan 5.000 lainnya di luar negeri, setara dengan sekitar 4% dari total 230.000 karyawan yang dimilikinya.
“Melalui langkah-langkah ini, perusahaan akan mengoptimalkan personel kami dalam skala global,” tulis Panasonic dalam pernyataan resminya, dikutip dari Business Insider pada Senin (12/5).
PHK akan menyasar berbagai posisi, terutama di departemen penjualan langsung serta divisi lain yang dinilai perlu perampingan. Proses ini akan berlangsung bertahap hingga Maret 2026, atau akhir tahun fiskal perusahaan.
Namun, restrukturisasi ini tidak murah. Panasonic memperkirakan akan mengeluarkan biaya sekitar USD 900 juta atau setara Rp14,86 triliun, untuk memenuhi ketentuan hukum ketenagakerjaan di berbagai negara tempat mereka beroperasi.
Dalam pernyataan resminya, Panasonic juga mengakui bahwa kondisi geopolitik dan ekonomi global turut memperparah situasi. Kebijakan tarif Presiden Donald Trump dan ketegangan perdagangan antara AS dan China disebut menjadi salah satu penyebab memburuknya prospek bisnis internasional.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Panasonic Energy juga mengumumkan rencana untuk mengurangi ketergantungan pada China dalam rantai pasokan baterai kendaraan listrik mereka.
“Kami memang memiliki beberapa pasokan dari Tiongkok, tetapi jumlahnya tidak banyak, dan kami berencana untuk menguranginya hingga tidak ada sama sekali,” ujar Allan Swan, Presiden Panasonic Energy of North America, pada Januari lalu.
Sebelumnya, pada 2022, Panasonic juga menjadi salah satu perusahaan besar pertama yang mengadopsi sistem kerja empat hari seminggu di Jepang. Langkah itu diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap isu overwork dan kesehatan mental para karyawan, yang sempat menjadi sorotan serius di Negeri Sakura.
Kini, di tengah tekanan global dan upaya efisiensi, Panasonic tampaknya harus mengambil keputusan sulit mengurangi jumlah tenaga kerja sambil mencoba menjaga kelangsungan bisnis di era ketidakpastian.