Ketersediaan Hewan Ternak Kalbar Jelang Lebaran Dipastikan Aman, Kecuali Daging Sapi
Dinas Peternakan Kalbar memastikan ketersediaan hewan ternak Kalbar, terutama ayam ras dan telur, aman jelang Idul Fitri 1447 H. Namun, pasokan daging sapi masih menjadi tantangan.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat (Kalbar) memastikan pasokan komoditas peternakan strategis seperti ayam ras pedaging dan telur ayam ras berada dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Proyeksi neraca produksi tahunan menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan produk-produk ini dapat terpenuhi dengan baik. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Ignatius I.K., menyatakan hal ini di Pontianak pada Rabu (11/3).
Meskipun demikian, Ignatius mengakui bahwa pasokan daging sapi lokal masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan daerah. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan Kalbar terhadap suplai daging sapi dari luar wilayah tetap tinggi. Situasi ini menjadi perhatian utama mengingat lonjakan permintaan saat momen hari besar keagamaan.
Pernyataan ini bertujuan untuk menenangkan masyarakat terkait ketersediaan bahan pangan hewani menjelang Lebaran, sekaligus menyoroti tantangan yang masih dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi. Informasi ini penting bagi konsumen dan pelaku usaha peternakan di Kalimantan Barat.
Surplus Produksi Ayam dan Telur Ras
Produksi daging ayam ras di Kalimantan Barat menunjukkan kapasitas yang memadai untuk memenuhi konsumsi masyarakat sepanjang tahun. Bahkan, data menunjukkan adanya kelebihan produksi yang signifikan. Ini mengindikasikan ketahanan pangan lokal untuk komoditas ayam.
Berdasarkan proyeksi neraca produksi tahunan, Kalimantan Barat memiliki surplus daging ayam ras lebih dari 12 ribu ton dalam setahun. Angka ini menegaskan bahwa pasokan ayam jauh melampaui kebutuhan domestik. Kelebihan ini bisa menjadi potensi untuk daerah lain.
Serupa dengan ayam, komoditas telur ayam ras juga menunjukkan angka produksi yang memadai. Estimasi produksi daerah mencapai sekitar 22.779 ton per tahun. Volume ini dinilai cukup untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang terus berkembang.
Estimasi produksi tersebut telah memperhitungkan potensi kenaikan konsumsi. Peningkatan ini didorong oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong peningkatan kebutuhan protein hewani di masyarakat.
Tantangan Pasokan Daging Sapi Lokal
Berbeda dengan ayam dan telur, komoditas sapi potong masih menjadi tantangan utama bagi Kalimantan Barat. Produksi ternak sapi lokal saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 60 persen dari total kebutuhan daerah. Ini menciptakan defisit yang signifikan.
Defisit sekitar 40 persen dari kebutuhan daging sapi dipasok dari luar wilayah, khususnya dari Pulau Jawa dan Madura. Pasokan ini mencakup daging sapi hidup maupun dalam bentuk daging beku. Ketergantungan ini menyoroti perlunya peningkatan produksi lokal.
Keterbatasan produksi sapi lokal ini tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan yang terus meningkat setiap tahun. Lonjakan permintaan ini terutama terasa saat momentum hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas terkait.
Antisipasi Lonjakan Permintaan dan Keamanan Pangan
Meskipun secara umum pasokan aman, Ignatius mengakui adanya potensi kekurangan pasokan sementara dalam periode jangka pendek. Bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri seringkali memicu lonjakan permintaan masyarakat yang tajam. Namun, ia optimistis kebutuhan tetap bisa terpenuhi.
Dalam situasi musiman seperti puasa dan menjelang Lebaran, lonjakan permintaan memang kerap terjadi dan dapat menyebabkan defisit sementara. Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar terus memantau situasi pasar untuk memastikan stabilitas harga dan pasokan.
Masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam memilih produk daging yang beredar di pasaran. Hal ini berlaku khususnya untuk daging beku impor maupun antardaerah. Penting untuk memastikan kualitas dan keamanan produk yang dikonsumsi.
Ignatius menekankan pentingnya memastikan produk memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Produk ber-NKV umumnya telah melewati proses higienis dan pengawasan sesuai standar keamanan pangan. Ini menjamin kualitas dan keamanan bagi konsumen.
Sumber: AntaraNews