Kementerian ESDM Ungkap 60% Bensin RI Masih Impor di 2025
Kementerian ESDM melaporkan bahwa pada tahun 2026, impor minyak bensin akan menyusut menjadi 59% dari total kebutuhan, turun dari 60,18% di tahun 2025.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional pada tahun 2025 masih akan sangat bergantung pada volume impor, terutama untuk jenis bensin seperti Pertalite dan Pertamax. Meskipun demikian, Sesditjen Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, menyatakan bahwa angka impor untuk jenis bensin mengalami sedikit penurunan hingga Februari 2026.
"Untuk minyak bensin, pada 2025 posisi impor masih mendominasi sekitar 60,18 persen dari kebutuhan. Sedangkan untuk 2026, impor minyak bensin diperkirakan sebesar 59 persen dari total kebutuhan," ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (8/4/2026).
Rizwi juga menjelaskan bahwa mayoritas importasi minyak bensin berasal dari Singapura, yang mencapai 63 persen. Diikuti oleh Malaysia dengan porsi sebesar 33,14 persen, sementara China dan Oman masing-masing menyuplai 1,32 persen dan 1,05 persen. Kebutuhan minyak bensin nasional diperkirakan mencapai 100.986 KL per hari pada tahun 2025. Namun, pada tahun 2026, kebutuhan tersebut sedikit menurun menjadi 99.661 KL per hari hingga bulan Februari.
"Jika kami rinci berdasarkan jenis, kebutuhan minyak bensin bersubsidi (JBKP) diperkirakan sebesar 76.932 KL per hari pada tahun 2025, dan turun menjadi 74.407 KL per hari pada 2026 hingga Februari," jelasnya.
Selain itu, kebutuhan minyak bensin untuk penggunaan umum atau non-subsidi diperkirakan mencapai 24.055 KL per hari pada tahun 2025, meningkat menjadi 25.254 KL per hari pada 2026 hingga Februari.
Impor Solar Turun
Rizwi mencatat adanya perbedaan yang signifikan dalam konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar. Meskipun angka konsumsi terus mengalami peningkatan, volume impornya berhasil ditekan. Kebutuhan minyak Solar diperkirakan mencapai 110.932 kiloliter (KL) per hari pada tahun 2025. Sedangkan pada tahun 2026, hingga bulan Februari, kebutuhan tersebut sedikit meningkat menjadi 111.356 KL per hari.
"Untuk minyak solar, kebutuhan relatif meningkat. Namun impor berhasil ditekan dari 12,17 persen di tahun 2025 menjadi hanya 6,26 persen di tahun 2026 sampai dengan Februari 2026," ungkap dia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan terhadap minyak Solar meningkat, langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi ketergantungan pada impor telah membuahkan hasil yang positif. Dengan demikian, kebijakan yang diterapkan dapat membantu menjaga kestabilan pasokan dan mengurangi dampak terhadap neraca perdagangan.
Penggunaan Solar Subsidi Meningkat
Jika diuraikan berdasarkan jenis minyak solar, kebutuhan untuk Jenis BBM Tertentu (JBT) atau Solar Subsidi pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 50.466 KL per hari. Angka konsumsi ini mengalami peningkatan menjadi 52.373 KL per hari pada tahun 2026 hingga bulan Februari. Sementara itu, untuk kebutuhan jenis Solar non-subsidi, pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 60.466 KL per hari, namun mengalami penurunan menjadi 58.983 KL per hari pada tahun 2026 hingga bulan Februari.
"Untuk importasinya juga paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia, baik 2025 dan 2026," imbuh Rizwi.