Menteri Bahlil Sebut Indonesia akan Surplus Solar Tahun Ini, Tak Ada Lagi Impor
Proyeksi tersebut diungkapkan oleh Bahlil berdasarkan perhitungan produksi dan konsumsi solar nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia akan menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini. Selain menghentikan impor, Indonesia juga berpotensi mencatat surplus solar sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).
Proyeksi tersebut diungkapkan oleh Bahlil berdasarkan perhitungan produksi dan konsumsi solar nasional. Diperkirakan pada tahun 2025, konsumsi solar dalam negeri akan mencapai sekitar 38 juta kl, di mana 5 juta kl di antaranya masih bergantung pada impor.
Namun, ia menegaskan bahwa tahun ini produksi solar domestik mampu memenuhi, bahkan melebihi, kebutuhan impor tersebut. "Impor (solar) kita tinggal 5 juta kl, jadi sudah tertutupi. Bahkan, surplus 1,4 juta kl," ujar Bahlil di Balikpapan pada Senin (12/1).
Bahlil kemudian menjelaskan dua alasan mengapa Indonesia dapat mencapai surplus tersebut. Pertama, pemerintah akan menerapkan kebijakan biodiesel B50 pada tahun ini, yang merupakan kelanjutan dari kebijakan biodiesel B40 tahun lalu.
Biodiesel B50 adalah bahan bakar nabati (BBN) dengan komposisi 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar. Dengan meningkatnya komposisi minyak sawit, kebutuhan solar dapat ditekan lebih lanjut.
Kedua, modernisasi Kilang Balikpapan yang telah diresmikan juga akan memperkuat kapasitas produksi domestik. Kilang ini ditargetkan mampu memproduksi 1,8 juta kl solar per tahun dan mengurangi impor hingga Rp14,9 triliun.
"Alhamdulilah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan ini tidak ada lagi impor solar ke depan," jelasnya.
Kebutuhan Solar Industri
Walaupun demikian, ia menegaskan bahwa surplus yang ada hanya berlaku untuk solar dengan spesifikasi cetane number (CN) 48. Bahlil juga menjelaskan bahwa Indonesia masih akan melakukan impor solar dengan spesifikasi CN 51, yang biasanya digunakan dalam sektor industri, meskipun jumlahnya cukup kecil.
"Sementara (solar) C51, impor kita itu hanya 600 ribu kl. Nanti di semester kedua, saya minta Pertamina untuk membangun agar tidak kita impor," tutupnya.