Jemaah Haji dan Umrah Kini Pindah ke Terminal 2F Soekarno-Hatta
Terminal 2F dirancang khusus dengan berbagai fasilitas dasar untuk mendukung perjalanan ibadah haji dan umrah.
PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) sedang mempersiapkan Terminal 2F di Bandara Soekarno-Hatta untuk melayani jemaah haji dan umrah.
Ini sejalan dengan rencana besar untuk meningkatkan ekosistem pelayanan bagi jamaah haji dan umrah. Dalam agenda 100 hari kerja Kementerian BUMN pada Kabinet Merah Putih 2024-2029, progres revitalisasi Terminal 2F hampir mencapai 100 persen dan akan segera dioperasikan.
Direktur Utama InJourney Airports, Faik Fahmi, mengungkapkan bahwa Terminal 2F dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan fasilitas yang sesuai dengan karakteristik penumpang umrah dan haji.
Selain itu, terminal ini juga bertujuan untuk mengurangi kepadatan di sisi darat Terminal 3, mengingat saat ini jumlah penumpang umrah mencapai 10.000 orang per hari.
"Diperlukan manajemen lalu lintas yang lebih baik untuk melayani jemaah umrah yang berjumlah sekitar 10.000 orang setiap hari di Bandara Soekarno-Hatta. Saat ini, jamaah umrah berangkat dari Terminal 3 yang belum bisa memberikan fasilitas lengkap. Di Terminal 2F, kami telah menyiapkan semua fasilitas yang dibutuhkan bagi jemaah haji dan umrah," ungkapnya pada Kamis (23/1).
Terminal 2F dirancang khusus dan dilengkapi dengan fasilitas dasar untuk mendukung perjalanan ibadah haji dan umrah. Fasilitas yang tersedia di Terminal 2F mencakup masjid seluas sekitar 3.000 meter persegi, lounge, area manasik, hingga food court.
Terdapat juga area pertemuan bagi para jemaah dengan keluarga, baik di area keberangkatan maupun kedatangan.
"Kami merancang Terminal 2F khusus agar jamaah haji dan umrah dapat merasakan suasana yang lebih baik, nyaman, dan khusyuk dalam beribadah," kata Faik Fahmi.
Sejalan dengan hal ini, operasional penerbangan langsung (direct flight) menuju Arab Saudi akan dilayani melalui Terminal 2F. Untuk jemaah umrah yang menggunakan penerbangan tidak langsung, proses keberangkatan juga akan dilakukan melalui Terminal 2F.
Menteri Agama dan Menteri Haji Arab Saudi melakukan pertemuan untuk membahas peningkatan layanan bagi jemaah Indonesia
Pada tanggal 12 Januari 2025, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, melakukan pertemuan dengan Menteri Haji Arab Saudi, Tawfiq F Al Rabiah.
Dalam pertemuan tersebut, Nasaruddin mengungkapkan bahwa ada tiga isu penting yang dibahas untuk meningkatkan layanan bagi jemaah haji Indonesia.
"Pertama, kami menjelaskan jemaah Indonesia menunggu sangat lama untuk bisa beribadah haji. Karenanya, banyak di antara mereka yang sudah lanjut usia (lansia). Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pada Ditjen PHU, jemaah lansia dengan usia 65 tahun ke atas yang berhak melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2025 (sesuai urutan no porsi), jumlahnya lebih dari 42ribu. Selain itu, ada sekitar 10ribu kuota prioritas yang juga dialokasikan bagi jemaah lansia pada musim haji tahun ini," kata Nasaruddin seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (15/1).
Dia juga menambahkan bahwa sejumlah jemaah lansia mengalami keterbatasan fisik. Oleh karena itu, untuk memastikan keberhasilan mereka dalam menunaikan ibadah haji, jumlah tim pendamping perlu ditingkatkan. Saat ini, kuota petugas haji Indonesia hanya sebanyak 2.210.
"Kalau kita hanya punya jumlah petugas seperti sekarang, satu pesawat rencananya hanya didampingi tiga petugas kloter (kelompok terbang). Bagaimana mungkin 400 orang atau 300 lebih, hanya dibimbing oleh tiga orang," ujar Nasaruddin.
"Belum lagi tadi pembagian gendernya laki-laki dan perempuan. Kan tidak mungkin laki-laki melayani perempuan. Jadi harus ada. Ini poinnya yang laki-laki dan perempuan harus kita hitung kembali," imbuhnya.
Mengenai pembatasan usia 90 tahun ke atas untuk melaksanakan ibadah haji, Nasaruddin berharap agar usia tidak dijadikan sebagai patokan utama, melainkan syarat istithaah yang lebih relevan.
Hal ini disebabkan banyak jemaah berusia 90 tahun ke atas yang dalam kondisi fisik yang sehat dan mampu beraktivitas dengan baik.
Lanjutkan upaya lobi
Poin kedua, Nasaruddin mengungkapkan bahwa ia telah melobi pihak Menhaj Saudi agar para petugas tidak dikenakan biaya masuk ke Masyair (Arafah-Muzdalifah-Mina).
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa kebijakan ini akan mulai diterapkan oleh Saudi pada musim haji 1446 H. "Kami sampaikan itu kalau bisa kita free of charge seperti tahun lalu," ujarnya saat meminta agar biaya tersebut dihapus.
Poin ketiga, Nasaruddin juga memperkenalkan skema Tanazul kepada Menhaj Saudi. Skema Tanazul ini memberikan kesempatan kepada jemaah yang menginap di sekitar Jamarat untuk kembali ke hotel mereka dan tidak tinggal di tenda di Mina selama fase Mabit.
Mereka dapat memanfaatkan waktu Mabit di area sekitar Jamarat, kemudian kembali ke hotel masing-masing untuk beristirahat.
"Skema ini akan mengurangi kepadatan di Mina. Jumlah jemaah haji Indonesia sangat banyak dan skema ini dirasa akan berpengaruh dalam mengurangi kepadatan," ungkap Nasaruddin dengan keyakinan.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menambahkan bahwa banyak negara mengakui bahwa manajemen penyelenggaraan haji Indonesia sangat baik. Oleh karena itu, banyak negara yang datang untuk belajar mengenai cara pengelolaan haji di Indonesia.
"Saya kira ini juga menjadi obsesi pemerintah Indonesia agar penyelenggaraan haji tahun ini lebih baik dari sebelumnya," tutupnya dengan tegas.