Jalan Berliku Penjaga Lapangan Futsal Meraih Rumah Impian Lewat KPR BTN
Kini, Firdaus dan istri tak perlu resah akibat berpindah-pindah kontrakan. BTN menjadi pemandu jalan pasutri pekerja sektor formal ini meraih rumah impian.
Secangkir kopi hitam dan empat onde-onde menemani Muhammad Firdaus, bertugas menjaga lapangan futsal. Cemilan itu menjadi sajian penutup sebelum ayah dua anak itu beranjak pulang. Pukul setengah lima, teman kerja datang. Tanda pergantian 'pemain' tiba. Firdaus bergegas pulang ke rumah.
Sudah delapan tahun lebih Firdaus bekerja menjadi penjaga lapangan futsal di Kia Futsal daerah Kampung Jati, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Firdaus tak bekerja sendiri. Ada dua temannya yang bekerja aplusan menjaga futsal. Sebagai orang paling lama, dia dipercaya mengelola lapangan futsal tersebut. Mulai dari mengatur jadwal masuk. Piket kebersihan. Hingga skedul tim futsal yang telah memesan waktu untuk bermain. Suka duka dirasakan pria berusia 38 tahun tersebut.
Sabtu (7/2) sore itu, Firdaus mengajak sang ayah ke rumah. Sang ayah sudah berjanji menemu cucu. Keduanya berboncengan menembus keramaian Jalan Raya Parung-Ciseeng. Jarak rumah Firdaus dengan tempat kerja kurang lebih 7 kilometer. Sekira 15 menit, Firdaus sampai rumah di Perumahan Puri Griasadi Jalan Cibogo Sebrang, Ciseeng, Kabupaten Bogor.
«Alhamdulillah sudah sampai,» ucap Agus yang disambut istri dan dua anak lelakinya serta ibunya dari rumah temboknya setengah berkelir kuning tersebut.
Firdaus lantas mengajak merdeka.com, masuk ke dalam rumah. Sembari menyajikan air putih dan mi ayam, dia bercerita bagaimana proses memiliki rumah tersebut.
Jalan Berliku Memiliki Rumah
Firdaus menuturkan, keinginan memiliki rumah itu berawal dari kejenuhan kerap berpindah tempat mengontrak satu rumah ke rumah. Seingat Firdaus dan istri, keduanya sudah 15 kali berpindah rumah kontrakan.
Bak bola yang dioper ke kanan dan kiri, duka lebih banyak dirasakan pasangan suami istri ini selama mengontrak. Mulai dari harga sewa naik apabila pembayaran lancar. Hingga pandangan warga sekitar karena berstatus pengontrak.
“Pokoknya kalau kita tinggal sudah enggak nyaman pindah. Karena kalau betah dinaikin sewanya. Dari lingkungan juga kalau orang ngontrak dibedain sosialisasinya,” ujar Firdaus.
Kendati tidak pernah menunggak pembayaran, namun lingkungan terkadang menjadi pertimbangan Firdaus dan istri memilih tempat mengontrak. Termasuk letak rumah yang dekat dengan sekolah anak. Lokasi itu menjadi pilihan penting untuk menghemat anggaran dikeluarkan. Bahkan Firdaus harus rela merasakan mondar-mandir dari daerah Pasar Cipadu, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan rumah mertuanya ke Parung untuk bekerja. Semua itu harus dipilih Firdaus lantaran sang istri, Anty saat itu bekerja sebagai tenaga pengajar di kawasan Kebayoran Lama.
Setelah tiga tahunan bolak balik Kebayoran Lama-Parung, Firdaus dan istri akhirnya kembali memilih mengontrak rumah di Parung. Saat itu, sang istri baru saja melahirkan anak kedua. Keberadaan orangtua perempuan menjadi pertimbangan kembali ke Parung. Firdaus ingin istrinya ada yang menemani ketika ditinggal bekerja.
Namun ujian dihadapi Firdaus dan sang istri tak berhenti sampai di situ. Setelah setahun tinggal bareng orangtua, pasutri ini kembali memilih mengontrak. Namun tak lama badai pandemi Covid-19 datang. Merusak sendi-sendi ekonomi. Hal itu juga dirasakan Firdaus dan istri. Padahal sang istri saat baru mengajar di salah satu tempat bimbingan belajar. Akan tetapi, saat itu perputaran bumi serasa berhenti bagi Firdaus. Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan pemerintah berdampak terhadap pemasukan ekonomi keluarganya.
Lapangan futsal dilarang beroperasi. Firdaus tak punya penghasilan. Begitu pun istri yang memilih merawat sang buah hati. Resign kerja menjadi pilihan. Firdaus akhirnya memutar otak agar dapur tetap mengebul. Mulai dari berdagang gorengan hingga menjadi driver ojek online. Namun upaya itu tak berjalan mulus. Pendapatan dagang dan driver ojol tak menutup lubang pengeluaran. Beruntung Firdaus saat itu diminta mengisi kontrakan dari pemilik lapangan futsal.
«Istri resign abis resign covid. Dagang gorengan, ngegojek seminggu cepe. Dari penghasilan jualan gorengan enggak cukup ditawarin ngisi kontrakan,» cerita Firdaus.
Bagai duri dalam daging, Firdaus dan istri tak enak dengan kebaikan sang bos. Dia berusaha membayar setengah kontrakan ditempati. Akan tetapi upaya itu selalu ditolak. Tiga bulan gratis mengisi kontrakan, Firdaus kembali memilih pindah kontrakan. Kebetulan kondisi saat itu pandemi Covid-19 perlahan telah berakhir. Aktivitas Masyarakat mulai normal. Lapangan futsal kembali dibuka untuk umum. Pilihan kontrakan dekat dengan sekolah anak pertama.
Namun lagi-lagi badai dihadapi pasutri ini tak berhenti. Biaya hidup semakin bertambah seiring kedua buah hati beranjak besar. Di momen itu, Firdaus terpaksa menjual sejumlah barang di rumah. Mulai dari komputer, televisi hingga motor.
«Jual komputer, jual televisi buat balik ke Cipadu. Sakit enggak bisa bayar kontrakan disuruh pulang ke Cipadu,» timpal Anty mengenang masa itu.
BTN Permudah Jalan Memiliki Rumah Impian
Namun di tengah kesulihatan pasti ada kemudahan, adigium itu nampaknya menjadi prinsip Firdaus dan istri. Tanpa ada angin dan badan, salah satu wali murid semasa sang istri mengajar di bimba mengajak membuka les belajar. Semua itu berawal dari wali murid siswa yang melihat status sang istri Firdaus semasa mengajar di bimba. Tawaran itu tak disia-siakan istri Firdaus. Sang istri kemudian merancang pembentukan bimba tersebut. Lokasinya dipilih di Parung. Dengan pertimbangan dekat dengan tempat bekerja Firdaus dan mencari kontrakan dengan bimba.
Firdaus mulai memikirkan mengenai tempat tinggal. Sejumlah teman yang menjadi sales marketing perumahan ditanya. Akan tetapi, melihat penghasilannya saat itu, Firdaus masih ragu. Keinginan masih kalah dengan realitas kehidupan.
Di sisi lain, seiring waktu, koalisi wali murid dan istri Firdaus mengenai pengelolaan bimba mengalami pecah kongsi. Akhirnya, istri Firdaus mengajukan pinjaman ke bank untuk membayar ganti uang dikeluarkan orang tua siswanya. Dengan catatan, pengelolaan bimba itu menjadi sepenuhnya hak milik Anty.
Di tengah proses pembayaran, Anty ditawari teman Firdaus untuk mengambil perumahan bersubsidi melalui BTN properti. Perumahan itu bernama Perumahan Puri Griasadi Jalan Cibogo Sebrang, Ciseeng, Kabupaten Bogor. Anty yang tertarik lantaran sesuai dengan pendapatan kemudian bertanya mengenai proses pengambilan perumahan tersebut.
Anty bercerita, proses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terbilang cepat. Dalam tahap ini, Anty dan suami diminta melengkapi berkas meliputi pengajuan dokumen, verifikasi (BI checking), appraisal properti, persetujuan bank, dan akad kredit. Menurut Anty, proses pengajuan KPR ke BTN kurang dari seminggu setelah survei.
«Proses booking November 2024. DP buat tiga bulan angsuran baru akad 5 Juni. Nempatin Agustus 2025. Semingguan lah langsung dapat kabar,» ujar Anty.
Anty bersyukur BTN tak mempersulit proses KPR. Dia mengaku total merogoh kocek Rp8,5 juta karena ada saldo endapan dari akad Rp6,5 juta. Anty dan Firdaus memilih rumah dengan type luas tanah 60 meter persegi dan bangunan 30 meter persegi. Dengan angsuran per bulan Rp1,4 juta dan tenor 15 tahun.
Kemudahan dirasakan Firdaus dan istri selaras dengan upaya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjadi mitra masyarakat untuk memiliki rumah impian. Inovasi dilakukan BTN dalam memudahkan masyarakat meraih rumah impian salah satunya yaitu pengembangan bale Properti, platform digital pencarian hunian dan pengajuan KPR yang terkoneksi dengan superapps bale by btn.
Transformasi digital yang dilakukan BTN tak hanya mempercepat proses pengajuan dan persetujuan KPR, tetapi juga menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih seamless, efisien dan transparan. Melalui kolaborasi dengan para pengembang dan pelaku industri properti, BTN menghubungkan ribuan listing properti dengan fitur simulasi KPR dan persetujuan online. Hingga Maret 2025, bale Properti mencatatkan lebih dari 800 ribu total anggota.
Pada kuartal I-2025, ada sekitar 12,3 ribu aplikasi KPR yang diajukan secara online melalui bale Properti atau melesat 52 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kemudian, total nilai kredit yang disalurkan melalui aplikasi tersebut sebesar Rp800 miliar atau 5.000 unit per Maret 2025 atau naik 12 persen yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya.
"Kami ingin seluruh lapisan masyarakat dapat dengan mudah dan cepat mengakses KPR dan kredit perumahan lainnya," kata Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, Selasa (27/5).
Kini, Firdaus dan istri tak perlu resah akibat berpindah-pindah rumah kontrakan. Proses dilalui Firdaus dan istri menjadi bukti nyata bahwa di mana ada kesulitan pasti ada jalan keluar. Dan BTN menjadi pemandu jalan pasutri pekerja sektor formal ini meraih rumah impian.