Jakarta Kuasai Transaksi QRIS, Capai 38 Persen dari Total Nasional
tingginya penggunaan QRIS di Jakarta didukung oleh semakin banyaknya pelaku UMKM.
Jakarta kini menjadi daerah dengan pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terbesar di Indonesia. Masyarakat semakin menyukai metode transaksi digital ini.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa Jakarta menyumbang hampir 38 persen dari total transaksi QRIS di seluruh Indonesia, yang menunjukkan adanya digitalisasi sistem pembayaran yang masif di berbagai sektor.
"Yang saya senang adalah Jakarta secara keseluruhan memberikan kontribusi hampir 38 persen transaksi yang menggunakan QRIS di seluruh Indonesia. Jadi artinya pasti Jakarta dibandingkan dengan daerah lain untuk transaksi yang menggunakan QRIS ini tertinggi," ujar Pramono dalam acara Jakarta Kreatif Festival (JKF) di Istora Senayan pada Sabtu (4/7).
Ia juga menambahkan bahwa tingginya penggunaan QRIS di Jakarta didukung oleh semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut.
"Pelaku UMKM sekarang ini di Jakarta kurang lebih 422.000 lebih yang menggunakan QRIS sebagai sarana untuk, apa ya, transaksinya," jelasnya.
Menurut Pramono, perkembangan transaksi digital ini menjadi salah satu indikator positif pertumbuhan ekonomi Jakarta. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jakarta tercatat tumbuh 5,59 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen.
Penguatan Ekonomi Digital
Pramono meyakini bahwa penguatan ekonomi digital dan ekonomi kreatif akan menjadi motor pertumbuhan baru bagi Jakarta, terutama setelah ibu kota ini bertransformasi menjadi kota global.
"Saya meyakini bahwa Jakarta ini kalau ekonomi kreatifnya tumbuh dengan baik, ini merupakan engine growth baru menambah pertumbuhan ekonomi yang ada di Jakarta," ucapnya.
Ketika ditanya tentang target peningkatan transaksi QRIS menjelang peringatan lima abad Jakarta pada tahun 2027, ia optimis bahwa angkanya akan terus meningkat.
Pramono menjelaskan bahwa penggunaan QRIS telah diterapkan secara luas di berbagai sektor. "Jadi saya meyakini karena Jakarta hampir semua transaksi di pasar, 153 pasar, kemudian di pertokoan dan perhotelan dan sebagainya sekarang ini semuanya sudah pakai QRIS, saya yakin pasti akan meningkat. Cuma angkanya kan kita belum tahu, yang jelas di tahun kemarin kita mencatatkan rekor 38 persen," kata Pramono.
Dengan berbagai kemajuan ini, ia percaya bahwa Jakarta akan terus berkembang dan menjadi salah satu pusat ekonomi digital di Indonesia.
BI Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan, perluasan penggunaan QRIS menjadi salah satu program utama yang dihadirkan dalam Jakarta Kreatif Festival 2026.
Melalui program QRIS Jelajah Indonesia, BI DKI Jakarta terus memperluas adopsi pembayaran digital sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital di ibu kota.
Selain itu, BI juga menjalankan Program Cinta, Bangga, Paham Rupiah, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui aktivasi wakaf, serta program keberlanjutan melalui gerakan pilah sampah.
"Seluruh rangkaian ini menegaskan kuatnya komitmen semua elemen institusi di DKI Jakarta untuk bersama-sama memajukan ekonomi Jakarta," ujar Iwan.
Iwan menambahkan, sinergi antara Bank Indonesia, Pemprov DKI Jakarta, OJK, perbankan, BUMD, kementerian dan lembaga, pelaku usaha, hingga komunitas menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi ekonomi Jakarta.
Menurut dia, Jakarta Kreatif Festival tidak hanya menjadi ajang promosi ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi sarana mempercepat digitalisasi transaksi, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan daya saing ibu kota.
"Kami berharap Jakarta Kreatif Festival 2026 dapat memperkuat langkah Jakarta menuju kota global yang kreatif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di gerbang lima abad Kota Jakarta," kata Iwan.