Inovasi Pertamina Patra Niaga Olah Sampah dan Limbah: Berdayakan Masyarakat, Lestarikan Lingkungan
Pertamina Patra Niaga Olah Sampah dan limbah menjadi bernilai ekonomi melalui program pemberdayaan masyarakat. Simak bagaimana inisiatif ini menciptakan keberlanjutan lingkungan dan sosial.
PT Pertamina Patra Niaga menunjukkan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai inisiatif pengelolaan sampah dan limbah. Perusahaan ini secara aktif melibatkan komunitas di sekitar wilayah operasionalnya untuk mengubah limbah yang tidak bernilai menjadi sumber daya ekonomi dan lingkungan yang bermanfaat. Langkah ini sejalan dengan upaya menciptakan keberlanjutan di tingkat lokal dan nasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa inisiatif ini bukan hanya tentang kontribusi positif pada kelestarian alam, tetapi juga merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat jangka panjang. Program-program ini diimplementasikan melalui pendekatan community involvement and development di beberapa lokasi strategis.
Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga Olah Sampah dan limbah rumah tangga, memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Fokus utama adalah pada inovasi pengelolaan limbah yang dapat diadaptasi dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap upaya memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak yang terlibat.
Inovasi Pengelolaan Limbah di Riau
Di wilayah Dumai, Riau, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai telah menginisiasi program inovatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Salah satu program unggulan adalah Posyandu Sehati di Kelurahan Tanjung Palas, yang memungkinkan ibu hamil dan balita menukar minyak jelantah dengan pemberian makanan tambahan (PMT).
Inisiatif ini tidak hanya mengatasi masalah limbah minyak jelantah yang berpotensi mencemari lingkungan, tetapi juga mendukung kesehatan gizi masyarakat rentan. Selain itu, Kelompok Wirani Rejosari di wilayah yang sama juga aktif mengolah sampah organik. Sampah-sampah ini diubah menjadi pupuk cair organik, memberikan solusi berkelanjutan untuk pengelolaan limbah rumah tangga dan mendukung pertanian lokal.
Upaya ini menunjukkan bagaimana Pertamina Patra Niaga Olah Sampah dengan pendekatan yang holistik, mengintegrasikan aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan program, menciptakan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
Transformasi Sampah Organik di Papua Barat Daya
Komitmen Pertamina Patra Niaga dalam pengelolaan limbah juga terlihat jelas di Papua Barat Daya, khususnya di Kampung Malabam, Seget, Sorong. Kilang Kasim mengimplementasikan program MOI (Mandiri, Optimal, dan Integrasi) yang memberdayakan Kelompok Tani Wahimu.
Melalui program ini, sampah organik dari sisa makanan dan hasil panen sayuran diolah menjadi pakan babi untuk Kelompok Ternak Kamisalun. Siklus berkelanjutan ini tidak berhenti di situ; kotoran babi kemudian diolah kembali menjadi pupuk organik. Pupuk ini selanjutnya digunakan untuk mendukung pertanian Kelompok Tani Wahimu, menciptakan ekosistem pertanian yang mandiri dan efisien.
Pendekatan ini menggambarkan bagaimana Pertamina Patra Niaga Olah Sampah organik menjadi bagian integral dari rantai produksi pangan dan pertanian. Ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan lokal, memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.
Program Terintegrasi Kampung BERLIAN di Makassar
Salah satu contoh paling komprehensif dari komitmen Pertamina Patra Niaga terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat adalah Program Kampung BERLIAN di Kelurahan Tamalabba, Makassar. Program ini merupakan solusi terintegrasi untuk mengatasi tingginya timbulan sampah rumah tangga.
Pendekatan program mencakup pemilahan sampah yang ketat, budi daya maggot melalui Tamalabba Organic Center (TOC), pengelolaan bank sampah Tasberlin, hingga pengembangan pertanian urban. Pertanian urban ini memanfaatkan sistem hidroponik, aquaponik, dan budi daya ikan, menunjukkan inovasi dalam pemanfaatan lahan terbatas.
Hasilnya sangat signifikan: Kampung BERLIAN mampu mereduksi sampah rumah tangga hingga 6,7 ton per bulan dan memanfaatkan minyak jelantah sebanyak 4 liter per bulan. Selain itu, penggunaan energi surya pada sistem hidroponik menghemat energi sebesar 4.380 kWh. Program ini juga menghasilkan nilai social return on investment (SROI) sebesar 1,50 kali, yang berarti setiap Rp1 investasi perusahaan menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan senilai Rp1,50 bagi masyarakat.
Roberth menambahkan, "Dengan capaian nyata berupa pengurangan sampah, pengelolaan limbah yang lebih produktif, dan keterlibatan aktif masyarakat, inisiatif ini menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan dapat menjadi motor penggerak keberlanjutan di tingkat lokal." Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang baik bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga fondasi bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews