Desa Labangka dan Uniba Dorong Pengolahan TKKS Jadi Pupuk Organik, Solusi Petani Sawit
Pemerintah Desa Labangka dan Universitas Balikpapan (Uniba) berkolaborasi mendorong Pengolahan TKKS menjadi pupuk organik. Inisiatif ini menawarkan solusi berkelanjutan bagi petani sawit, mengurangi biaya, dan menjaga lingkungan.
Pemerintah Desa Labangka di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menggandeng Universitas Balikpapan (Uniba) dalam sebuah program inovatif. Kolaborasi ini bertujuan mengajak para petani kelapa sawit setempat untuk mengolah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Limbah perkebunan ini akan diubah menjadi pupuk organik yang bermanfaat.
Inisiatif strategis ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret bagi petani dalam mengelola limbah kebun mereka secara efektif. Selain itu, program ini juga berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di desa. Pendampingan dari perguruan tinggi menjadi kunci utama dalam upaya ini.
Kepala Desa Labangka, Nasrudin, menyatakan apresiasinya terhadap peran aktif Uniba yang telah memberikan solusi nyata. Keterampilan baru ini diharapkan dapat memangkas biaya perawatan kebun. Pada akhirnya, hal ini berpotensi meningkatkan hasil panen kelapa sawit secara berkelanjutan.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Pengolahan TKKS
Pengolahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi pupuk organik menawarkan segudang manfaat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya cenderung terus meningkat. Ini secara langsung akan menekan biaya operasional perawatan kebun sawit.
Wakil Rektor III Uniba Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Merry Krisdawati Sipahutar, menjelaskan bahwa pupuk organik sangat penting. "Pengolahan pupuk organik memperbaiki kesuburan struktur tanah yang sering rusak akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang," ujarnya. Hal ini memastikan keberlanjutan produktivitas lahan pertanian.
Merry juga menyoroti potensi besar TKKS yang selama ini sering terabaikan. "Potensi besar TKKS selama ini terabaikan, timpal dia lagi, sekitar 20 hingga 23 persen dari setiap satu ton tandan buah segar merupakan limbah yang bisa diolah kembali," jelasnya. Artinya, setiap ton tandan buah segar menghasilkan puluhan kilogram limbah yang bisa dimanfaatkan.
Apabila kebun menghasilkan ratusan ton kelapa sawit, maka puluhan ton limbah organik siap diolah setiap hari. Tanpa penanganan yang tepat, limbah ini berisiko tinggi mencemari lingkungan sekitar. Namun, jika dikelola dengan baik, limbah TKKS justru bisa menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat desa.
Uniba dan Peran Pendampingan dalam Peningkatan SDM
Peran Universitas Balikpapan (Uniba) dalam program ini sangat krusial, khususnya dalam aspek pendampingan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Nasrudin, Kepala Desa Labangka, menegaskan bahwa pendampingan dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan. "Pendampingan dari perguruan tinggi dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di desa," ungkapnya.
Melalui program ini, petani Desa Labangka mendapatkan keterampilan baru yang relevan dan aplikatif. Keterampilan ini tidak hanya sebatas teknik pengolahan pupuk, tetapi juga pemahaman tentang manajemen limbah berkelanjutan. Hal ini memberdayakan petani untuk menjadi lebih mandiri dalam mengelola perkebunan mereka.
Program kerja sama yang terjalin antara Desa Labangka dan Uniba ini diharapkan dapat menjadi model percontohan. Nasrudin menyatakan, "Program kerja sama yang dijalin, kata Nasrudin, bisa diproyeksikan menjadi model percontohan bagi desa lainnya di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara." Ini menunjukkan potensi replikasi keberhasilan di wilayah lain.
Sumber: AntaraNews