Heboh Tarif Listrik Naik Tajam Usai Lebaran, PLN Beri Jawaban
Mulai 1 Maret 2025, periode diskon 50 persen untuk tarif listrik telah berakhir.
Di media sosial X, yang sebelumnya Twitter, ramai keluhan mengenai tarif listrik yang dianggap melonjak drastis.
Namun, PT PLN (Persero) menegaskan bahwa tarif listrik tidak mengalami perubahan setelah masa diskon 50 persen berakhir. Kenaikan tagihan listrik yang dialami oleh sebagian pelanggan dianggap sebagai akibat dari peningkatan konsumsi listrik yang terjadi.
Vice President Komunikasi Korporat PLN, Grahita Muhammad, menjelaskan bahwa besaran tagihan listrik ditentukan oleh pola penggunaan masing-masing pelanggan.
"Adanya lonjakan tagihan listrik bisa disebabkan oleh pola pemakaian listrik yang meningkat," ungkap Grahita saat dihubungi oleh Liputan6.com, Sabtu (5/4).
Ia juga menyarankan agar pelanggan secara rutin memeriksa penggunaan listrik mereka melalui aplikasi PLN Mobile.
"Bagi pelanggan pascabayar yang ingin mengetahui riwayat penggunaan listriknya dapat mengaksesnya di aplikasi PLN Mobile," tambahnya.
Grahita menekankan bahwa masa diskon tarif listrik telah berakhir pada 1 Maret 2025. Oleh karena itu, tarif yang berlaku saat ini kembali ke tarif normal.
"Per tanggal 1 Maret 2025 atau setelah berakhirnya periode diskon tarif listrik 50 persen, maka tarif listrik kembali normal sesuai penetapan Pemerintah. Untuk triwulan kedua 2025 ini, tarif listrik tetap tidak mengalami perubahan," jelas Grahita.
Seperti yang telah diketahui, program diskon listrik 50 persen yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia selama dua bulan telah resmi berakhir pada hari Sabtu, 1 Maret 2025.
Dengan berakhirnya diskon ini, tagihan listrik untuk pemakaian bulan Maret akan kembali normal di awal April. Diskon ini sebelumnya diberikan selama dua bulan, yaitu Januari dan Februari, dengan besaran diskon sebesar 50 persen.
Keluhan dari pengguna internet
Belakangan ini, banyak warganet yang mengungkapkan keluhan mengenai peningkatan biaya tarif listrik yang terjadi pada awal April 2025.
Beberapa dari mereka merasa terkejut karena tagihan listrik pascabayar yang mereka terima melonjak hingga dua kali lipat. Hal ini menjadi topik hangat di media sosial, terutama di platform X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Banyak pengguna listrik pascabayar merasa terbebani dengan biaya yang harus mereka bayar berdasarkan penggunaan bulanan. Akun X @SeputarTe****** mencatat berbagai keluhan dari warganet, dimulai dengan sebuah cuitan yang meminta mereka untuk berbagi pengalaman terkait tagihan listrik di bulan April 2025.
Salah satu keluhan datang dari pengguna dengan nama akun @bosleb***. Dia mengungkapkan bahwa tagihan listrik yang harus dibayarnya mencapai sekitar Rp 700 ribu untuk daya listrik 2.200 VA.
Menurutnya, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan saat tarif normal dan juga di luar periode diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari hingga Februari 2025.
"Aku tiba lonjak jadi 700 rb.. 2200..waktu januari februari 250 rban..harusnya sih 500 rb kalau tarif kembali normal, tpi kog mlaah jadi 700rb, apa krn ac blum kecuci yah jdi dia kerja extra..," tulisnya dalam cuitan yang dikutip pada Sabtu (5/4).
Keluhan serupa juga disampaikan oleh pengguna lain dengan nama akun @kpten****. Dia menyatakan bahwa tagihan listrik yang harus dibayarnya mencapai Rp 230 ribu. Saat menikmati masa diskon, dia hanya membayar sekitar Rp 75 ribu dengan penggunaan listrik yang dianggap normal.
"Ih iya betul, kemarin waktu dpt potongan 50% aku cuma bayar 75k an brarti kalo full kan sekitar 150 aja. Tp bulan ini 230k, naik dikit sih tapi kerasa weh kalo diatas 200 mah, padahal pemakaian sama aja kaya bulan" sebelumnya huft," tulisnya dalam cuitan tersebut. Banyak pengguna lain yang merasakan hal yang sama dan berharap ada solusi untuk masalah ini.
Cenderung berada dalam kondisi normal
Beberapa warganet berpendapat bahwa tidak ada yang terlalu berlebihan dalam situasi ini. Mereka mengingatkan bahwa pembayaran tagihan listrik sudah kembali ke tarif normal setelah menikmati diskon 50 persen selama dua bulan.
Salah satu pengguna dengan akun @snvi**** membagikan grafik tagihan listrik bulanan miliknya. Dalam grafik tersebut, terlihat adanya penurunan biaya pada pemakaian bulan Januari hingga Februari yang dibayarkan antara Februari dan Maret 2025, dengan total biaya sekitar Rp 370-414 ribu.
Namun, ketika memasuki pembayaran bulan April 2025, terjadi lonjakan yang signifikan menjadi Rp 778 ribu. Angka ini hampir sama dengan biaya yang dikeluarkannya pada periode November 2024 hingga Januari 2025, yang berkisar antara Rp 780-800 ribu.
Pengguna lain, @gajah****, juga menunjukkan pola yang serupa dalam tagihan listriknya. Ia mengungkapkan bahwa saat ini tarif listrik sudah kembali ke kondisi normal.
"Punyaku mirip-mirip kwh nya sama bulan sebelumnya, apa karena bayarnya persis di tgl 1 ya jadi ga beda jauh sama sblm diskon 50%?," tulisnya dalam cuitan.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak pengguna merasakan dampak yang sama setelah berakhirnya diskon, dan mereka mulai memperhatikan perubahan dalam tagihan mereka.