Harga Beras di Jepang Naik Tajam, Nasib PM Ishiba Terancam
Lonjakan harga ini semakin menambah tekanan pada Perdana Menteri Shigeru Ishiba, apalagi hanya dua hari menjelang pemilihan umum.
Harga beras di Jepang mengalami kenaikan signifikan sebesar 99,2 persen pada bulan Juni 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data resmi dari Kementerian Urusan Dalam Negeri menunjukkan lonjakan ini semakin menambah tekanan pada Perdana Menteri Shigeru Ishiba, apalagi hanya dua hari menjelang pemilihan umum.
Kenaikan harga beras ini sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Pada bulan April, harga beras melonjak hingga 98,4 persen, lalu meningkat lagi menjadi 101 persen pada bulan Mei. Mengutip CNA, tren ini telah memicu keresahan di kalangan masyarakat dan berkontribusi pada penurunan popularitas pemerintahan Ishiba ke titik terendah sejak ia menjabat pada bulan Oktober tahun lalu.
Selain beras, faktor lain juga berperan dalam situasi ini. Kenaikan inflasi dan serangkaian skandal politik yang melibatkan Partai Demokratik Liberal (LDP) turut mempengaruhi kepercayaan publik terhadap koalisi pemerintah.
Meskipun inflasi inti Jepang, yang tidak menghitung harga makanan segar, mengalami penurunan menjadi 3,3 persen pada bulan Juni dari 3,7 persen di bulan Mei, harga barang-barang pokok seperti beras tetap menunjukkan tren kenaikan.
Bahkan ketika harga energi dikecualikan, inflasi masih naik menjadi 3,4 persen, sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar. Keadaan ini menjadikan pemilu akhir pekan sebagai tantangan besar bagi Ishiba.
Survei menunjukkan bahwa koalisi pemerintah berpotensi kehilangan mayoritas di majelis tinggi, setelah mengalami kekalahan di majelis rendah sebelumnya. Jika prediksi ini terbukti benar, posisi Ishiba sebagai perdana menteri akan berada dalam ancaman serius.
Tuntutan dari Amerika Serikat
Selain menghadapi tekanan domestik, Ishiba juga menerima tuntutan dari Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan kesepakatan perdagangan sebelum tarif baru sebesar 25 persen mulai berlaku pada 1 Agustus. Tarif ini akan memberikan dampak negatif terhadap ekspor Jepang, khususnya pada sektor otomotif, baja, dan aluminium.
Di tengah proses negosiasi yang belum mencapai kesepakatan, Ishiba dijadwalkan untuk bertemu dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada hari Jumat, didampingi oleh utusan dagangnya, Ryosei Akazawa. Akazawa telah melakukan tujuh kunjungan ke Washington untuk membahas kesepakatan tersebut.
Lonjakan harga beras di Jepang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cuaca ekstrem yang terjadi dua tahun lalu dan merusak panen secara nasional. Selain itu, situasi ini diperburuk oleh penimbunan yang dilakukan oleh pedagang serta kepanikan masyarakat yang dipicu oleh peringatan pemerintah mengenai kemungkinan terjadinya "mega-gempa" tahun lalu, yang pada akhirnya tidak terjadi.
Pemerintah Jepang bahkan telah mengeluarkan cadangan beras darurat sejak bulan Februari, sebuah langkah yang biasanya hanya diambil dalam situasi bencana besar. Namun, para ekonom memprediksi bahwa tekanan harga akan tetap ada dalam waktu dekat.
"Kombinasi dari kebijakan yang berubah-ubah, depresiasi yen, dan lemahnya kenaikan upah membuat inflasi tetap tinggi," ungkap Stefan Angrick dari Moody's Analytics.
Sementara itu, Bank of Japan, yang sejak tahun lalu mulai mengetatkan kebijakan moneternya, kini dihadapkan pada dilema. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan terjadi paling lambat pada bulan Januari, bahkan mungkin lebih cepat pada bulan Desember.