Belakangan ini, semakin banyak wisatawan asal Jepang yang mengunjungi Korea Selatan dengan tujuan membeli beras, seiring dengan terus melonjaknya harga bahan pokok tersebut di negara mereka.
Dalam beberapa minggu terakhir, semakin sering terlihat warga Jepang memenuhi keranjang belanja mereka dengan beras di berbagai supermarket di Seoul. Fenomena ini menjadi sorotan publik setelah munculnya sebuah unggahan viral di platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Melansir dari South China Morning Post, dalam unggahan tersebut, seorang wisatawan asal Jepang membagikan pengalamannya membeli beras selama kunjungan ke Korea Selatan dan membawanya pulang ke negaranya.
Wisatawan tersebut, yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga paruh baya, menceritakan pada awal bulan ini dia membeli empat kilogram beras putih dan lima kilogram beras merah selama singgah di Seoul. Perjalanannya ke ibu kota Korea Selatan itu terjadi dalam rangka transit dari Cebu, Filipina.
"Misi saya di Seoul adalah membeli beras, karena harga di Jepang sudah tidak masuk akal. Saya memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk membawa pulang beras dari Korea," tulisnya dalam unggahan tersebut.
Advertisement
Dia menjelaskan harga beras di Jepang kini mencapai sekitar 8.000 yen atau Rp935.000 (kurs Rp117) untuk 10 kilogram. Sementara itu, jumlah yang sama dapat dibeli di Korea dengan harga sekitar sepertiga dari harga tersebut, atau setara dengan 3.000 yen atau Rp350.000.
Karena beras tergolong sebagai produk pertanian yang diatur secara ketat, dia harus melalui proses karantina di Bandara Internasional Incheon sebelum dapat membawa beras tersebut ke Jepang.
Setelah melengkapi seluruh dokumen yang diperlukan, dia berhasil memperoleh sertifikat ekspor tanaman dari petugas karantina, yang sebelumnya memverifikasi alamat tempat tinggalnya di Jepang.
Proses administratif tersebut memakan waktu sekitar 30 menit. Meskipun persyaratan dokumennya tergolong mudah, ia mengaku bahwa membawa beras secara fisik merupakan tantangan tersendiri.
"Rasanya seperti latihan otot," ujarnya dalam unggahan tersebut.
Dia juga mencatat semakin banyak konsumen asal Jepang yang mulai mempertimbangkan untuk membeli beras dari luar negeri, seiring dengan terus meningkatnya harga dalam negeri yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Advertisement
Pejabat karantina di Bandara Incheon mengonfirmasi permintaan terhadap sertifikat ekspor beras ke Jepang telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Pada bulan Maret saja, tercatat sebanyak 119 sertifikat diterbitkan, sebuah lonjakan yang mencapai dua puluh kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tren ini mencerminkan kondisi krisis yang sedang berlangsung di Jepang akibat lonjakan harga beras yang dimulai sejak musim panas tahun lalu. Kenaikan harga ini menyebabkan kelangkaan di berbagai wilayah, khususnya di daerah perkotaan.
Penurunan pasokan beras akibat panen yang buruk pada tahun 2023 karena cuaca panas ekstrem, ditambah dengan lonjakan permintaan dari wisatawan asing serta aksi pembelian panik yang dipicu oleh gempa bumi baru-baru ini, semakin memperburuk situasi.
Berdasarkan laporan dari Kyodo News, harga beras di Jepang melonjak hingga 92,1 persen pada bulan Maret dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 1971, saat data statistik yang sebanding mulai tersedia.
Sebagai upaya untuk menahan laju kenaikan harga, pemerintah Jepang telah dua kali mengeluarkan beras dari cadangan nasionalnya. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.
Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan mengambil langkah aktif dengan mengekspor 22 ton beras ke Jepang, yang merupakan pengiriman terbesar sejak tahun 1990.