Gubernur Mahyeldi Tekankan Pentingnya Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Sumbar
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengajak masyarakat meningkatkan diversifikasi pangan dengan memanfaatkan potensi lokal guna mengurangi ketergantungan beras dan menjaga stabilitas daerah.
Kota Padang, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengingatkan seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya diversifikasi pangan. Langkah ini bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi pangan lokal yang melimpah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras di wilayah tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas dan kemandirian pangan daerah.
Pernyataan ini disampaikan Gubernur Mahyeldi dalam kegiatan Smart Food Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis potensi sumber daya lokal di Padang pada Rabu (6/11). "Konsumsi beras di Sumbar masih tinggi sehingga diversifikasi pangan harus terus didorong," kata Gubernur Mahyeldi, menyoroti urgensi perubahan pola konsumsi masyarakat.
Upaya diversifikasi pangan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan konsumsi beras, tetapi juga pada pengenalan dan pemanfaatan sumber karbohidrat alternatif. Mahyeldi menekankan bahwa menjaga ketahanan pangan bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan juga merupakan fondasi penting bagi stabilitas bangsa secara keseluruhan.
Pemanfaatan Potensi Pangan Lokal sebagai Sumber Karbohidrat Alternatif
Gubernur Mahyeldi secara khusus menyoroti pentingnya untuk mulai memanfaatkan potensi pangan lokal yang beragam sebagai sumber karbohidrat. Ia menyebutkan beberapa komoditas seperti ubi, labu, sagu, dan pisang, yang tidak hanya sehat dan bergizi, tetapi juga ekonomis.
Pemanfaatan pangan lokal ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi dominasi beras dalam pola makan masyarakat. Mahyeldi memberikan contoh praktik yang sudah berjalan di beberapa daerah, "Misalnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai bisa makan pisang dengan gulai ikan," ujarnya, menunjukkan bagaimana pangan lokal dapat diintegrasikan ke dalam hidangan sehari-hari.
Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk mendorong kemandirian pangan. Dengan mengoptimalkan produksi dan konsumsi pangan lokal, Sumatera Barat diharapkan mampu mencapai swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Ketahanan Pangan sebagai Pilar Stabilitas Bangsa
Mahyeldi menegaskan bahwa isu ketahanan pangan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pemenuhan kebutuhan primer. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan elemen krusial dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan suatu bangsa. "Jadi, menjaga ketahanan pangan itu sama dengan menjaga ketahanan bangsa," kata Mahyeldi.
Eks Wali Kota Padang ini mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, petani, hingga masyarakat umum, untuk bersinergi dalam mengembangkan potensi pangan lokal. Tujuannya adalah agar Ranah Minang dapat menjadi daerah yang mandiri dan memiliki kecukupan pangan yang berkelanjutan.
Kemandirian pangan yang kuat akan meminimalisir risiko gejolak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul akibat fluktuasi harga atau ketersediaan komoditas pangan tertentu. Oleh karena itu, investasi dalam diversifikasi dan pengembangan pangan lokal adalah investasi jangka panjang untuk masa depan daerah.
Dukungan Program Smart Food B2SA dan Capaian Sumatera Barat
Terkait program Smart Food B2SA, Gubernur Mahyeldi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah vital untuk membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan peduli gizi. Program ini tidak hanya berfokus pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada aspek keamanan dan kehalalan produk pangan yang dikonsumsi.
Kepala Dinas Pangan Sumbar, Iqbal Ramadi Payana, menambahkan bahwa kegiatan Smart Food B2SA dilaksanakan untuk mendukung Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024. Peraturan ini secara spesifik mengatur tentang percepatan diversifikasi pangan di seluruh Indonesia, menunjukkan komitmen pemerintah pusat terhadap isu ini.
Iqbal juga mengungkapkan bahwa Sumatera Barat menunjukkan kemajuan signifikan dalam keberagaman konsumsi pangan masyarakat. "Sumbar saat ini menempati posisi delapan besar nasional dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) 89,0 pada 2024," ujarnya, menandakan bahwa upaya diversifikasi pangan di Sumbar telah membuahkan hasil yang positif dan patut diapresiasi.
Sumber: AntaraNews