Garuda Indonesia Berhenti Operasi di Bandara RHF Tanjungpinang Mulai Februari 2026
Garuda Indonesia dikabarkan berhenti operasi di Bandara RHF Tanjungpinang mulai Februari 2026. Keputusan ini memicu pertanyaan alasan, namun Citilink siap mengambil alih layanan penerbangan.
Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dikabarkan akan menghentikan operasionalnya melayani rute dari dan menuju Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penghentian layanan ini direncanakan akan berlaku efektif mulai tanggal 9 Februari 2026 mendatang. Informasi ini telah diterima oleh pihak pengelola bandara, meskipun masih bersifat lisan.
General Manager PT Angkasa Pura Kantor Cabang Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan, mengonfirmasi kabar tersebut pada hari Jumat. Pihak bandara masih menanti pemberitahuan resmi secara tertulis dari manajemen Garuda Indonesia terkait keputusan penting ini. Hingga saat ini, alasan pasti di balik penghentian operasional tersebut belum diungkapkan secara detail.
Meski demikian, Setiadi memastikan bahwa layanan penerbangan tidak akan terganggu secara signifikan bagi masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Penerbangan yang sebelumnya dilayani oleh Garuda akan dialihkan dan dicover sepenuhnya oleh Citilink, anak perusahaan Garuda Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menjaga konektivitas udara di wilayah tersebut.
Konfirmasi dan Alasan Penghentian Operasional Garuda
Pihak PT Angkasa Pura Kantor Cabang Bandara RHF Tanjungpinang telah menerima informasi mengenai rencana penghentian operasional Garuda Indonesia. Mohamad Setiadi Dermawan menyatakan bahwa pemberitahuan tersebut disampaikan secara lisan oleh manajemen Garuda. Namun, hingga saat ini, surat resmi tertulis sebagai landasan keputusan tersebut belum diterima oleh pihak bandara.
Setiadi menambahkan bahwa pihaknya masih menanti dokumen resmi untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut. Berdasarkan informasi awal yang diterima, pesawat Garuda terakhir akan melayani rute Tanjungpinang-Jakarta atau sebaliknya sebelum penghentian pada 9 Februari 2026. Ketidakjelasan alasan tertulis ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat dan pihak terkait.
Meskipun demikian, Setiadi menduga bahwa alasan di balik keputusan ini mungkin lebih berkaitan dengan aspek operasional maskapai. Untuk mendapatkan kepastian dan detail yang lebih akurat, pihak Angkasa Pura sangat menunggu surat tertulis dari maskapai Garuda. Kejelasan ini penting untuk perencanaan dan koordinasi lebih lanjut.
Dampak Terhadap Layanan Penerbangan dan Pendapatan Bandara
Penghentian operasional Garuda Indonesia di Bandara RHF Tanjungpinang akan berdampak pada jadwal penerbangan. Sebelumnya, Garuda melayani tiga kali penerbangan dalam seminggu untuk rute Tanjungpinang-Jakarta. Namun, dengan pengalihan ini, Citilink yang sebelumnya melayani empat kali seminggu, akan mengambil alih seluruh rute tersebut.
Setiadi menjelaskan bahwa Citilink akan meningkatkan frekuensi penerbangannya menjadi setiap hari untuk melayani rute Tanjungpinang-Jakarta. Ini berarti, meskipun Garuda berhenti, kapasitas dan ketersediaan penerbangan justru akan meningkat. Peningkatan frekuensi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat dan wisatawan.
Dari sisi pendapatan, Setiadi mengakui bahwa penghentian layanan Garuda secara otomatis akan mengurangi pendapatan PT Angkasa Pura. Pendapatan utama Bandara RHF masih sangat bergantung pada volume penerbangan datang dan berangkat. Namun, ia menekankan bahwa layanan bagi pengguna jasa bandara tidak akan berkurang, mengingat Citilink akan tetap beroperasi.
Status Bandara Internasional dan Citra Daerah
Meskipun Garuda Indonesia berhenti beroperasi, Mohamad Setiadi Dermawan menegaskan bahwa hal ini tidak akan memengaruhi status Bandara Internasional RHF Tanjungpinang. Bandara ini tetap optimistis terhadap minat maskapai penerbangan internasional di masa mendatang. Lokasi strategis RHF sebagai salah satu gerbang masuk ke Kepulauan Riau menjadikannya ikon pariwisata nasional.
Pihak bandara percaya bahwa potensi pariwisata dan ekonomi di Kepri akan terus menarik perhatian maskapai lain. Status internasional bandara ini penting untuk mendukung konektivitas global dan pengembangan sektor pariwisata daerah. Upaya promosi dan pengembangan rute baru akan terus dilakukan untuk menarik lebih banyak maskapai.
Namun, Setiadi tidak menampik bahwa keberadaan Garuda Indonesia di sebuah bandara seringkali menjadi simbol kebanggaan bagi suatu daerah. Penghentian layanan ini, sedikit banyak, mungkin berdampak pada citra daerah, khususnya Kota Tanjungpinang. Kehadiran maskapai nasional terkemuka memang memberikan prestise tersendiri bagi sebuah bandara dan wilayah yang dilayaninya.
Sumber: AntaraNews