Ekonom CORE: Produktivitas dan Efisiensi Kunci Perluas Peluang Ekspor Beras Indonesia
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai peluang ekspor beras Indonesia terbuka, namun butuh peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi agar bisa bersaing di pasar internasional.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti potensi besar Indonesia dalam memperluas ekspor berasnya. Mereka menekankan pentingnya peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi. Hal ini krusial agar beras Indonesia mampu bersaing di kancah pasar internasional.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE, menyatakan bahwa rencana ekspor beras harus dihitung matang. Pertimbangan kondisi produksi domestik dan dinamika pasar global menjadi faktor penentu. Ini akan memastikan keberlanjutan dan kesuksesan program ekspor.
Ekspor beras idealnya dilakukan saat pasokan dalam negeri mencukupi atau telah mencapai swasembada. Kondisi ini, menurut Faisal, sudah terjadi pada tahun 2025. Peningkatan produksi dan sisa impor tahun sebelumnya berkontribusi pada surplus ini.
Tantangan Daya Saing Harga Beras Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam daya saing harga di pasar beras global. Negara-negara eksportir besar seperti Thailand dan Kamboja menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif. Harga ekspor beras Indonesia masih di atas 1.000 dolar AS per ton.
Sementara itu, beras dari Thailand dan Kamboja berada di kisaran 500-600 dolar AS per ton. Kesenjangan harga yang cukup jauh ini membuat beras Indonesia sulit bersaing. Ini terutama jika mengandalkan mekanisme perdagangan langsung yang kompetitif.
Oleh karena itu, ekspor beras Indonesia akan sulit menembus pasar global secara komersial murni. Strategi yang berbeda diperlukan untuk mengatasi disparitas harga ini. Fokus pada nilai tambah atau pasar khusus bisa menjadi solusi.
Memanfaatkan Peluang Pasar Khusus dan Komunitas
Peluang ekspor beras Indonesia lebih realistis jika menyasar pasar tertentu melalui kerja sama khusus antarnegara. Mohammad Faisal mencontohkan ekspor untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji Indonesia. Ini merupakan bentuk ekspor yang sifatnya "targeted" atau terarah.
Pemerintah melalui Perum Bulog telah berhasil mengekspor sekitar 2.280 ton beras untuk jamaah haji di Arab Saudi. Ekspor ini dikirim dalam dua tahap mulai 28 Februari 2026. Ini menunjukkan potensi pasar berbasis komunitas.
Peneliti CORE, Eliza Mardian, menyebut ekspor beras ke Arab Saudi ini sebagai "captive market" berbasis diaspora. Preferensi rasa dan tekstur yang disukai jamaah Indonesia menjadi pendorong utama. Faktor ini lebih dominan daripada daya saing harga.
Pemerintah juga menargetkan pengembangan pasar beras Indonesia di Arab Saudi melalui jaringan ritel modern. Jaringan ritel besar seperti Bin Dawood dan Lulu telah menyatakan minatnya. Ini membuka peluang perluasan pasar untuk segmen umrah dan ritel umum.
Prasyarat Struktural untuk Menjadi Eksportir Utama
Untuk menjadi eksportir beras utama seperti Thailand atau Vietnam, Indonesia harus memenuhi sejumlah prasyarat struktural. Eliza Mardian menekankan pentingnya surplus produksi yang stabil dan konsisten. Ini menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan ekspor.
Sektor pertanian perlu terus meningkatkan efisiensi produksi melalui modernisasi dan mekanisasi. Langkah ini krusial untuk menekan biaya produksi dan bersaing dari sisi harga di pasar global. Investasi dalam teknologi pertanian sangat dibutuhkan.
Selain itu, peningkatan kualitas produk melalui sertifikasi keamanan pangan dan penerapan praktik budidaya yang baik juga esensial. Hal ini diperlukan untuk memenuhi standar ketat pasar ekspor. Konsistensi pasokan ke ritel Timur Tengah juga harus dijaga.
Kontrak jangka panjang dengan volume stabil dan kualitas konsisten akan mendukung penetrasi pasar. Ini akan membangun kepercayaan pembeli internasional. Upaya komprehensif diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Data Produksi Beras Nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi gabah kering giling mencapai 60,21 juta ton dari luas panen sekitar 11,32 juta hektare.
Sumber: AntaraNews