Dispar Kukar Genjot Pengembangan Ekonomi Kreatif, Dorong Transformasi Ekonomi Daerah
Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Dispar Kukar) serius menggarap pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai pilar utama transformasi ekonomi daerah, bertujuan mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, secara aktif mengembangkan sektor ekonomi kreatif (ekraf). Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mendukung transformasi ekonomi daerah. Tujuannya adalah agar Kukar tidak lagi terlalu bergantung pada sektor penggalian dan pertambangan di masa mendatang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar terus menggenjot berbagai lapangan usaha dalam upaya transformasi ekonomi ini. Beberapa sektor yang menjadi fokus antara lain optimalisasi pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, perikanan, kelautan, hilirisasi, serta pariwisata dan sektor turunannya. Pengembangan ini diharapkan menciptakan diversifikasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Plt Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dermawan, menyatakan bahwa ekraf menjadi perhatian utama. "Selain pariwisata yang memang terus kami genjot. Ekraf yang memiliki 17 subsektor usaha ini juga terus menjadi perhatian karena ekraf pun berkaitan erat dengan pengembangan pariwisata," ujar Awang Agus di Tenggarong pada Sabtu. Pernyataan ini disampaikan juga saat "Event Bookers Night Gathering" bersama pelaku ekraf dan manajemen Hotel Grand Elty Tenggarong pada Rabu (22/4) lalu, di mana ia menegaskan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi.
Subsektor Ekonomi Kreatif Unggulan dan Potensial di Kukar
Dari total 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada, beberapa usaha menonjol di Kukar. Subsektor kuliner, kriya, dan seni pertunjukan merupakan yang paling dominan saat ini. Ketiga bidang ini telah menunjukkan pertumbuhan signifikan dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal.
Selain itu, terdapat pula subsektor yang memiliki potensi besar untuk berkembang pesat di masa depan. Subsektor perfilman, animasi, musik, dan fotografi menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan. Potensi ini dilihat dari minat masyarakat serta peluang pasar yang semakin terbuka luas.
Pengembangan subsektor-subsektor ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dispar Kukar terus mendorong inovasi dan kreativitas para pelaku usaha agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif Melalui Berbagai Program
Pemkab Kukar tidak hanya berfokus pada identifikasi subsektor, tetapi juga berupaya memperkuat ekosistem ekraf secara menyeluruh. "Pemkab juga terus berupaya memperkuat ekosistem ekraf hingga ke tingkat kecamatan melalui berbagai program pelatihan berkelanjutan, bantuan stimulan, dan pembentukan Komite Ekonomi Kreatif (Kekraf) mulai tingkat kabupaten hingga kecamatan," kata Awang Agus.
Program pelatihan berkelanjutan telah digulirkan hingga ke tingkat kecamatan, bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan para pelaku usaha. Bantuan stimulan juga diberikan untuk mendukung pengembangan usaha, memicu inovasi, dan membantu pelaku ekraf dalam mengembangkan produk atau layanannya.
Pembentukan Kekraf ini menjadi wadah koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekraf. Awang Agus mengungkapkan kebahagiaannya bisa berkumpul dengan praktisi dan pelaku ekraf dari berbagai kecamatan, menandakan pentingnya peran mereka.
Data Pelaku Ekonomi Kreatif dan Dominasi Kuliner-Kriya
Berdasarkan data tahun 2024, jumlah pelaku ekonomi kreatif di Kukar mencapai sekitar 4.000 individu atau unit usaha. Angka ini mencakup berbagai jenis usaha, termasuk kuliner, kriya, seni pertunjukan, fesyen, desain visual, dan fotografi. Keragaman ini menunjukkan potensi besar Kukar dalam mengembangkan sektor non-pertambangan.
Dari 17 subsektor ekraf, usaha kuliner dan kriya menjadi yang paling banyak. Terdapat 3.101 pelaku usaha kuliner yang aktif di Kukar, menunjukkan tingginya minat dan peluang di sektor makanan dan minuman. Selanjutnya, usaha kriya menempati posisi kedua dengan 287 unit.
Usaha kriya meliputi berbagai kerajinan tangan seperti anyaman, ukiran kayu, tenun, dan batik. Awang Agus menjelaskan, "Ekraf merupakan konsep ekonomi yang berfokus pada pemanfaatan ide, pengetahuan, dan kreativitas individu untuk menciptakan nilai tambah dalam berbagai sektor ekonomi, maka kreativitas dan inovasi merupakan hal penting dalam produksi hingga langkah meraih pasar." Keberadaan ribuan pelaku usaha ini menegaskan pentingnya ekraf.
Sumber: AntaraNews