Dibanjiri 75 Ribu Wisatawan dalam Satu Akhir Pekan, Kota Ini Lumpuh Total
Dalam video lain di TikTok, tampak orang-orang terpaksa berjalan di antara mobil-mobil yang terjebak di lengkungan sempit.
Adakalanya kunjungan wisatawan menjadi anugerah bagi sebuah negara. Namun, lonjakan jumlah wisatawan tak terkendali juga bisa menjadi boomerang. Seperti yang dialami Sirmione, kota kecil yang mempesona di tepi selatan Danau Garda, Italia.
Dilansir dari Yahoo Life, kota bersejarah yang dikenal akan kastil abad pertengahan dan mata air panasnya itu mendadak lumpuh. Ini disebabkan ketika ribuan wisatawan membanjiri jalan-jalan sempit dan jembatan tuanya. Bahkan, antrean mengular hingga 40 menit hanya untuk bisa memasuki pusat kota tua yang terkenal akan keindahannya yang bak kartu pos.
Puncak keramaian terjadi saat libur Hari Buruh yang jatuh bersamaan di Italia dan Inggris, mendorong banyak orang memanfaatkan hari tambahan untuk berlibur singkat.
Salah satu video yang menjadi viral di media sosial menunjukkan ribuan orang terjebak di tengah kerumunan, nyaris tak dapat bergerak saat mereka mencoba melintasi jembatan kecil menuju Castello Scaligero, benteng abad ke-13 yang menjadi ikon kota.
Dalam video lain di TikTok, tampak orang-orang terpaksa berjalan di antara mobil-mobil yang terjebak di lengkungan sempit, mencerminkan betapa padat dan tidak terkendalinya situasi kala itu.
“Kami pergi ke Garda karena lokasinya searah dengan perjalanan pulang. Ada cukup banyak turis, tetapi tidak seperti ini. Kami tidak sadar hari itu adalah Hari Buruh, jadi mungkin ini kesalahan kami," tulis seorang pengguna TikTok.
Menurut laporan The Times, sekitar 75.000 orang tercatat mengunjungi Sirmione selama akhir pekan tersebut, angka yang mencengangkan mengingat populasi tetap kota itu hanya sekitar 8.000 jiwa. Dengan jumlah pengunjung sembilan kali lipat dari jumlah penduduk, kota ini kewalahan menghadapi dampaknya.
Ledakan pariwisata ini memicu diskusi tentang dampak overtourism di Eropa. Beberapa warganet membandingkan kondisi Sirmione dengan kota-kota lain seperti Barcelona dan Venesia, yang sudah lebih dahulu bergulat dengan tekanan akibat wisatawan berlebih.
“Akhir-akhir ini saya begitu membenci turis sehingga mulai memahami perasaan orang-orang di Barcelona,” tulis seorang komentator.
Lainnya menambahkan, “Sebagai warga kota wisata, saya tahu ini bukan hanya masalah bagi penduduk, tetapi juga bagi wisatawan itu sendiri. Apa sebenarnya yang bisa dinikmati dari pengalaman seperti ini?”
Marco Merlo, penasihat asosiasi hotel dan akomodasi lokal Federalberghi Brescia, mengaku prihatin. Pihaknga sangat khawatir atas keselamatan publik, wisatawan dan para pekerja.
“Kami sangat khawatir akan keselamatan publik serta kualitas hidup wisatawan, penduduk, dan para pekerja. Kami berharap pemerintah setempat mau melibatkan kami dalam menyusun strategi penanggulangan yang efektif dan dapat diterima semua pihak,” ujarnya.