Dampak Perang Iran vs Israel, Hotel Mewah di Thailand Obral Diskon 70 Persen
Tarif per malam yang biasanya mencapai hampir 1.000 dolar AS (sekitar Rp 17 juta) kini menjadi lebih terjangkau.
Hotel-hotel mewah di Thailand berusaha menarik perhatian penduduk lokal dengan memberikan diskon besar, mengingat penurunan jumlah wisatawan asing. Hal ini terjadi akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS. Menurut laporan dari The Straits Times pada Selasa (24/3), warga Thailand serta ekspatriat kini dapat menikmati potongan harga hingga 70 persen di berbagai properti bintang lima.
Tarif per malam yang biasanya mencapai hampir 1.000 dolar AS (sekitar Rp 17 juta) kini menjadi lebih terjangkau.
Salah satu contoh yang menonjol adalah Mandarin Oriental, hotel tertua di Bangkok yang menawarkan pemandangan tepi sungai yang ikonis. Saat ini, pengunjung dapat menginap di sana dengan harga di bawah USD 300 (sekitar Rp5 juta), yang sudah termasuk layanan pelayan pribadi dan sarapan.
Selain itu, sebuah resor pantai yang terletak di tebing kapur Pantai Railay juga menawarkan harga menginap mulai dari USD 430 (sekitar Rp7,3 juta) per malam, yang merupakan hampir 50 persen lebih murah dari tarif normal, dengan akomodasi yang dirancang di atas bekas perkebunan kelapa.
Namun, kondisi ini tidak lepas dari dampak pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara akibat konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat perjalanan menjadi lebih rumit dan mahal, yang pada gilirannya mengurangi jumlah pengunjung. Tercatat bahwa kedatangan wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah menurun hingga 16 persen di bawah tingkat normal hanya dalam beberapa minggu setelah konflik dimulai.
Mengingat pariwisata menyumbang sekitar seperlima dari perekonomian Thailand, perlambatan yang berkepanjangan ini berpotensi menghantam sektor yang masih berjuang untuk pulih dari dampak pandemi COVID-19.
Disrupsi Sektor Pariwisata Bawa Perubahan Signifikan
Otoritas Pariwisata Thailand menargetkan kedatangan sekitar 37 juta pengunjung asing pada tahun ini, yang meningkat lebih dari 11 persen dibandingkan dengan tahun 2025. Namun, target tersebut tampaknya mulai goyah dan jika kedatangan wisatawan di bawah 33 juta, itu akan menandai penurunan tahunan kedua berturut-turut.
Hingga pertengahan Maret, tercatat 7,9 juta wisatawan telah mengunjungi Thailand, dengan China, Malaysia, dan Rusia menjadi pasar utama.
Para pejabat pariwisata Thailand memberikan peringatan bahwa kenaikan harga minyak yang terus berlanjut dapat semakin menekan permintaan.
"Ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan, segmen yang akan paling terdampak adalah pasar pariwisata massal secara luas," ungkap Bill Barnett, direktur pelaksana di perusahaan konsultan C9 Hotelworks.
"Jika kita melihat angka-angka dari tahun lalu (2025), apakah Thailand akan mampu mencapai target tersebut? Target tahun ini jelas terganggu."
Penawaran Harga Terjangkau
Akibatnya, penawaran harga yang terjangkau kini semakin mudah ditemukan. Pencarian dengan kata kunci 'penawaran hotel untuk warga Thailand; menghasilkan banyak properti yang menawarkan tarif lebih rendah. Meskipun diskon umumnya diberikan selama musim hujan dari Mei hingga Oktober, serta beberapa terkait dengan acara khusus seperti perayaan ulang tahun ke-150 Mandarin Oriental, besarnya potongan harga saat ini juga mencerminkan melemahnya permintaan dari wisatawan asing.
Hal ini mengingat kembali pada periode pandemi ketika Thailand kehilangan puluhan juta pengunjung. Bahkan dalam kategori mewah, di mana wisatawan biasanya tidak terlalu peka terhadap kenaikan harga, penurunan harga baru-baru ini menunjukkan adanya perubahan, kata Barnett.
Tarif kamar yang mengalami lonjakan selama tiga tahun terakhir kini mulai mereda, sebagian disebabkan oleh bertambahnya pasokan baru, terutama di kawasan Bangkok.
Operator Hotel Dunia Beri Promo
Selama Piala Dunia, diperkirakan akan ada penurunan permintaan karena banyak orang lebih memilih untuk menonton pertandingan di rumah. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai lokasi lain. Di Dubai, misalnya, properti kelas atas telah menyesuaikan harga dan menawarkan paket staycation kepada penduduk setempat, disebabkan oleh perang yang mengakibatkan berkurangnya jumlah wisatawan internasional.
Sementara itu, operator pariwisata di berbagai belahan dunia memberikan promosi serta opsi alternatif untuk menarik perhatian wisatawan, mengingat permintaan untuk perjalanan jarak jauh semakin menurun.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian mengenai berapa lama perang ini akan berlangsung, sektor pariwisata berupaya mencari cara alternatif untuk bertahan. Di tengah kondisi yang tidak menentu ini, pelaku industri tidak lagi dapat bergantung pada pola lama yang sebelumnya mereka terapkan.
Mereka mulai mencari pendekatan yang lebih tahan terhadap krisis, termasuk dengan mengincar wisatawan lokal sebagai bagian dari strategi baru mereka. Upaya ini diharapkan dapat membantu mendorong kembali pertumbuhan sektor pariwisata yang tengah terpuruk.