BTN Kini Punya Model Operasional Baru Bisa Genjot Efisiensi dan Efektivitas, Seperti Apa?
Transformasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas dalam mendukung percepatan penagihan serta penyelesaian kredit.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah meluncurkan Business Process Improvement (BPI) Monoline Collection sebagai model baru untuk pengumpulan yang mengubah pendekatan pembinaan debitur.
Sebelumnya, pembinaan dilakukan berdasarkan pengelolaan masing-masing kantor cabang, namun kini beralih ke sistem klaster wilayah yang berada di bawah pengawasan langsung Kantor Pusat.
Transformasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas dalam mendukung percepatan penagihan serta penyelesaian kredit bermasalah. Pada fase awal pelaksanaan atau uji coba inisiatif ini, BTN menerapkan BPI Monoline Collection di Kantor Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Kanwil Jabalnusra).
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memberikan penjelasan mengenai inisiatif BPI Monoline Collection. Menurut Nixon, langkah ini merupakan bagian dari misi perusahaan saat ini, yaitu menerapkan praktik tata kelola yang baik serta inovasi bisnis berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
"Salah satu poin penting dalam Corporate Plan BTN tahun 2025 adalah optimalisasi strategi collection and recovery. Dengan adanya langkah penyempurnaan ini, kita berharap dapat mencapai target rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross di level 3,04 persen pada akhir tahun ini. Masih ada sisa lima bulan, jadi setelah inisiatif ini roll out secara massal, harapannya dapat mendorong pencapaian target," ujar Nixon dalam sambutannya pada Kick Off Implementasi Pilot BPI Monoline Collection Kanwil Jabalnusra di Menara 1 BTN Harmoni, Jakarta.
Nixon juga menambahkan bahwa dalam aspek collection, BTN menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat kondisi makroekonomi global dan domestik. Contohnya, dinamika perekonomian pasca-Covid-19, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian yang berdampak pada banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan biaya hidup, inflasi, dan perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat.
Transformasi Bisnis
Dalam menghadapi berbagai tantangan, penting untuk melakukan antisipasi agar tidak berdampak negatif pada bisnis bank, terutama terkait dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah. Oleh karena itu, BTN memandang perlunya transformasi menyeluruh dalam proses bisnis, termasuk di sisi penagihan.
Melalui upaya perbaikan ini, BTN berharap dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam aspek collection.
"Saat ini, biaya collection dan recovery masih tinggi disebabkan oleh biaya transportasi dan faktor lainnya yang semakin mahal, serta adanya tumpang tindih di kantor cabang dalam proses penagihan. Dengan penyempurnaan sistem collection dan strategi recovery, kita berharap dapat memperkuat risk underwriting dan menjaga cost of credit di bawah 1,2 persen," ungkap Nixon.
Nixon juga menambahkan bahwa perbaikan sistem collection merupakan bagian dari inisiatif strategis BTN untuk menjadi bank modern. Hal ini mencakup penguatan holistic banking propositions, yaitu penawaran layanan perbankan yang menyeluruh, serta capabilities to deliver at scale, atau kapabilitas untuk melayani dalam skala yang lebih besar. Inisiatif ini sejalan dengan visi jangka panjang BTN hingga tahun 2029, yaitu menjadi "Mitra Utama dalam Pemberdayaan Finansial Keluarga Indonesia."
"Kita bukan sekadar bank yang menjual KPR (kredit pemilikan rumah), tetapi juga menawarkan paket produk yang holistik. Oleh karena itu, kita juga melakukan transformasi operasional kantor cabang untuk lebih terfokus, baik dalam hal portofolio pembiayaan maupun transaksi. Sebelum mencapai tujuan tersebut, kita perlu menyelesaikan masalah collection terlebih dahulu," jelasnya.
Perbaiki Infrastruktur yang Ada
Pada kesempatan yang sama, Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, menyatakan bahwa saat ini adalah waktu yang ideal bagi perusahaan untuk melakukan perbaikan dalam pengumpulan dana. Hal ini disebabkan oleh kondisi makroekonomi dan kinerja bisnis yang relatif stabil.
"Saat ini adalah waktu yang baik untuk memperbaiki 'rumah' atau infrastruktur kita, setiap bocor kita perbaiki saat hujan dan badai sudah mulai reda. Tahun ini tekanan suku bunga sudah turun dan biaya dana melandai," ungkap Setiyo.
Dia juga menambahkan bahwa tujuan utama dari perbaikan ini adalah untuk mengurangi biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yang setiap tahunnya memakan biaya yang cukup besar. "Kalau itu bisa diperbaiki, kita bisa gunakan biayanya untuk meng-generate revenue dan meningkatkan profitabilitas," kata Setiyo.
Dengan sekitar 2.000 staf dan tenaga collection yang tersebar di seluruh Indonesia, BTN berkomitmen untuk melakukan perbaikan pada proses bisnis pengumpulan dana dengan membandingkan praktik terbaik dari bank-bank terkemuka secara internasional.
Salah satu praktik terbaik yang menonjol di tingkat global adalah penerapan teknologi otomasi dalam berbagai bidang, termasuk dalam pengumpulan dana. Contohnya adalah penggunaan chat bot atau mesin percakapan otomatis untuk proses penagihan kepada debitur.
"Hampir semua bank yang sudah maju, collection-nya banyak diotomasi dan menggunakan analytics. Kita juga akan mengubah dari sistem terdistribusi menjadi regionalisasi atau cluster-based. Kita sering mendengar istilah decision engine yang menggantikan proses manual, nantinya collection di BTN juga akan demikian, sehingga semakin personalized dan efisien," pungkas Setiyo.