BRT Mebidang Sumut Targetkan Operasional Tahun 2026, Siap Kurangi Kemacetan
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menargetkan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang mulai beroperasi pada tahun 2026, menghadirkan solusi transportasi massal berbasis bus listrik untuk mengurangi kemacetan dan emisi di kawasan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) menargetkan Bus Rapid Transit (BRT) Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) akan mulai beroperasi pada tahun 2026. Moda transportasi massal ini direncanakan menggunakan bus listrik sebagai upaya modernisasi sistem angkutan publik. Kehadiran BRT Mebidang diharapkan mampu mengatasi persoalan transportasi yang kian kompleks di wilayah tersebut.
Proyek ambisius ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan Tiongkok dalam pengadaan bus listrik. Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi Sumut, Rochani Litiloly, menjelaskan detail rencana ini dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut pada Jumat (6/3). Pemprov Sumut optimistis BRT Mebidang akan memberikan dampak positif yang signifikan.
Pada tahap awal operasional, BRT Mebidang akan memfasilitasi 12 koridor yang melintasi Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Deli Serdang. Sepuluh koridor akan berada di wilayah Kota Medan, sementara dua koridor lainnya mencakup kawasan Mebidang. Ini menunjukkan cakupan layanan yang luas untuk masyarakat.
Target Operasional dan Koridor BRT Mebidang
Pemprov Sumut sangat optimistis bahwa kehadiran BRT Mebidang dapat secara efektif membantu mengurangi persoalan transportasi di tiga kabupaten/kota di Sumatera Utara. Rochani Litiloly menyatakan bahwa tujuannya adalah mengurangi emisi dan penggunaan kendaraan pribadi, mengingat peningkatan signifikan kendaraan pribadi di daerah tersebut karena minimnya transportasi umum. Masyarakat diharapkan dapat menikmati fasilitas ini pada tahun ini.
BRT Mebidang direncanakan akan melayani 12 koridor pada tahap awal operasionalnya, dengan fokus pada konektivitas antar wilayah. Dari jumlah tersebut, 10 koridor akan berada di dalam wilayah Kota Medan, memastikan jangkauan yang luas di pusat kota. Dua koridor lainnya akan mencakup kawasan Mebidang, menghubungkan daerah-daerah penyangga.
Dua koridor yang berada di bawah pengawasan langsung Pemprov Sumut adalah rute Binjai–Medan–Carrefour dan Lubukpakam–Amplas–Simpang Pelangi. Koridor-koridor ini dikelola melalui kerja sama antara Pemprov Sumut dan Kementerian Perhubungan. Ini menunjukkan koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah dan pusat dalam proyek BRT Mebidang.
Pemerintah saat ini masih dalam tahap perumusan detail kebutuhan jumlah bus serta persiapan pembangunan depo pengisian bus listrik. Rochani menjelaskan bahwa jumlah koridor dan kebutuhan bus masih dinamis, yang akan menentukan jumlah armada dan depo yang dibutuhkan. Proses ini penting untuk memastikan efisiensi operasional sistem BRT Mebidang.
Pendanaan dan Infrastruktur BRT Mebidang
Pembangunan infrastruktur BRT Mebidang didanai oleh mitra pembangunan internasional, yaitu World Bank dan AFD Prancis, dengan total biaya mencapai Rp1,9 triliun. Investasi besar ini menunjukkan komitmen untuk menyediakan sistem transportasi publik yang modern dan berkelanjutan bagi warga Sumatera Utara.
BRT Mebidang akan memiliki lintasan sepanjang 21 kilometer, yang terhubung dengan 31 halte modern untuk kenyamanan penumpang. Sistem ini dirancang untuk menjangkau 17 rute utama di Medan, Binjai, dan Deli Serdang. Infrastruktur yang komprehensif ini akan mendukung operasional BRT Mebidang secara optimal.
Armada BRT Mebidang akan terdiri dari 515 bus, didukung oleh depo, halte, dan jalur khusus bus. Penggunaan jalur khusus akan memastikan kelancaran perjalanan dan ketepatan waktu. Seluruh elemen infrastruktur ini dirancang untuk menciptakan sistem transportasi massal yang efisien dan terintegrasi.
Manfaat dan Proses Pengadaan Bus Listrik
Kehadiran BRT Mebidang diharapkan membawa manfaat besar, terutama dalam mengurangi emisi gas buang dan ketergantungan pada kendaraan pribadi. Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi di Sumatera Utara menjadi alasan kuat untuk percepatan proyek ini, karena transportasi umum yang masih minim. BRT Mebidang diharapkan menjadi solusi efektif.
Proses pemesanan bus listrik diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima bulan setelah perumusan kebutuhan detail selesai. Rochani Litiloly, yang akrab disapa Ani, menjelaskan bahwa bus ini merupakan tipe build up, yang memerlukan waktu produksi khusus. Ini menunjukkan bahwa ada perencanaan matang dalam pengadaan armada BRT Mebidang.
Setelah kontrak selesai, masih ada menunggu paling tidak lima bulan untuk pemesanan bus listriknya karena bus ini build up. Rochani optimistis proyek ini akan segera dinikmati masyarakat sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup. Keberadaan BRT Mebidang akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan transportasi publik di Sumut.
Sumber: AntaraNews