BPS: Inflasi Maret Tembus 1,65 Persen
Inflasi Maret 2025 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan Maret tahun 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Maret 2025 sebesar 1,65 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka ini menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan deflasi yang tercatat pada Februari 2025.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menjelaskan bahwa inflasi Maret 2025 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan Maret tahun 2024.
"Tingkat inflasi Maret 2025 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan Maret tahun 2024," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M.Habibullah dalam konferensi pers, Selasa (8/4).
Kelompok pengeluaran yang paling berkontribusi terhadap inflasi adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi sebesar 8,45 persen, memberikan andil sebesar 1,18 persen. Habibullah menyebut tarif listrik sebagai komoditas utama yang mendorong inflasi pada kelompok ini.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah tarif listrik yang memberikan andil inflasi sebesar 1,18 persen," jelas dia.
Komoditas lain yang berkontribusi pada inflasi antara lain bawang merah dengan andil inflasi 0,11 persen, cabai rawit 0,06 persen, emas perhiasan 0,05 persen, dan daging ayam ras 0,03 persen. Sementara itu, tarif angkutan udara memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen pada Maret 2025.
Habibullah juga menambahkan bahwa inflasi bulan Maret 2025 terutama didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah, dengan komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,24 persen, memberikan andil 0,16 persen. Emas perhiasan menjadi komoditas utama yang memberikan andil inflasi pada komponen ini.
Secara tahunan, inflasi Indonesia pada Maret 2025 tercatat sebesar 1,03 persen.