BP Siapkan Rp113 Triliun untuk Proyek Carbon Capture Pertama di Indonesia
Ditargetkan proyek ini segera memulai operasinya pada tahun 2028.
Perusahaan migas asal Inggris, British Petroleum (BP), menargetkan penyelesaian penuh proyek Tangguh Ubadari, Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS), dan Compression atau yang dikenal dengan proyek Tangguh UCC di Teluk Bintuni, Papua Barat, pada kuartal pertama tahun 2028.
"Target kita sih first quarter 2028 semuanya selesai," ujar VP Procurement BP Indonesia, James Tehubijuluw, saat kunjungan di Tangguh LNG, Papua Barat, Selasa (10/6).
Proyek Tangguh UCC terdiri dari tiga bagian utama, yaitu fasilitas penangkapan karbon (CCUS), Enhanced Gas Recovery (EGR), serta sistem kompresi gas untuk menjaga agar fasilitas produksi (train) tetap beroperasi dalam kapasitas penuh.
Menurut James, setelah keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) diambil pada November 2024, BP langsung memulai tahap awal pembangunan proyek. Saat ini, BP tengah membangun infrastruktur dasar seperti jalan dan tempat tinggal (camp), serta melakukan pemesanan barang-barang strategis (long lead item) seperti turbin gas.
"Kalau kita tidak cepat melakukan pemesanan, slot produksi barang-barang penting bisa penuh dan proyek bisa tertunda," katanya.
Tangguh UCC Jadi CCS Hub Pertama di Indonesia
Proyek Tangguh UCC diproyeksikan menjadi Carbon Capture Storage (CCS) Hub pertama di Indonesia. Fasilitas ini akan menangkap karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber emisi untuk disimpan secara aman, sejalan dengan target dekarbonisasi global.
Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), Tangguh UCC telah mendapatkan FID dari Presiden Prabowo Subianto pada kuartal IV 2024 dengan nilai investasi mencapai USD7 miliar atau sekitar Rp111 triliun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa keputusan investasi tersebut dilakukan setelah melalui proses evaluasi bersama antara BP dan pemerintah melalui SKK Migas.
Pemerintah menyambut positif investasi BP sebagai sinyal bahwa sektor migas Indonesia masih menarik bagi investor global.
"Keputusan investasi BP dan mitra pada proyek Tangguh UCC menjadi bukti bahwa industri migas Indonesia masih menjanjikan," kata Bahlil.
Ia menambahkan, investasi senilai USD7 miliar ini tidak hanya akan mendukung produksi migas nasional, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan efek berganda (multiplier effect).