Begini Cara Kerja Danantara, Lembaga Investasi yang Dikritik Keras Publik
Danantara akan menjadi dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia yang bertugas mengelola aset negara
Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa dana sisa anggaran sebesar USD20 miliar (sekitar Rp325 triliun) akan dialokasikan untuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Keputusan ini diambil setelah disahkannya perubahan ketiga atas Undang-Undang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang membentuk Danantara sebagai lembaga untuk meningkatkan pengelolaan aset dan investasi negara.
Danantara akan menjadi dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, yang bertugas mengelola aset negara, khususnya dari BUMN, untuk investasi jangka panjang. Model ini mirip dengan strategi investasi yang diterapkan oleh Temasek Holdings di Singapura dan Khazanah Nasional Berhad di Malaysia.
Tujuan utama dari Danantara adalah untuk menghasilkan pendapatan tambahan guna membiayai pembangunan nasional dan mengurangi ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Danantara rencananya akan diluncurkan pada 24 Februari 2025 dan akan fokus pada proyek-proyek infrastruktur besar, kesehatan, pendidikan, dan sektor publik lainnya yang penting untuk pertumbuhan ekonomi.
Bagaimana Cara Kerja Danantara?
Danantara akan mengonsolidasikan aset dan investasi dari berbagai BUMN, termasuk perusahaan besar seperti Bank Mandiri, Pertamina, dan PLN, untuk membiayai proyek-proyek nasional.
Berbeda dengan investasi tradisional, Danantara bertujuan untuk menarik investor global dengan menawarkan portofolio yang beragam dan berbagi risiko. Pendekatan ini akan membantu Indonesia menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa hanya bergantung pada APBN.
Para ekonom percaya bahwa Danantara dapat berperan penting dalam mendorong ekonomi Indonesia dengan menarik investasi asing, yang pada gilirannya akan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Dengan membiayai proyek jangka panjang, Danantara juga dapat mengurangi tekanan fiskal Indonesia dan menghasilkan pendapatan untuk program-program nasional yang penting.
Pengamat BUMN, Toto Pranoto, menilai Danantara bisa difungsikan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Negara tidak lagi hanya bisa bertumpu kepada APBN untuk menumbuhkan ekonomi sampai 7%. [Target] itu bisa dibantu kalau foreign direct investment lebih banyak masuk lewat proyek-proyek yang diinisiasi Danantara," ujar Toto dilansir dari BBC.
Investor-investor global, menurut Toto, akan tertarik dengan proyek-proyek Danantara. Pertama, karena badan itu juga akan berinvestasi sehingga ada pembagian risiko. Kedua, aset yang dikelola Danantara akan sangat besar sehingga ada faktor kredibilitas.
Senada, Ariyo mengatakan Danantara dapat menjadi pintu masuk bagi investor untuk terlibat dalam proyek-proyek berkelanjutan dan inovatif.
"Yang pada gilirannya mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujarnya.
Selain memperkuat stabilitas fiskal dan mengurangi ketergantungan APBN, pendapatan negara dari Danantara dapat dialokasikan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan sektor publik lainnya.
Risiko dan Kekhawatiran
Meski memiliki potensi besar, para ahli mengingatkan adanya risiko, terutama terkait dengan tata kelola dan akuntabilitas.
Salah satu klausul dalam Undang-Undang BUMN menyebutkan bahwa audit terhadap Danantara hanya bisa dilakukan setelah mendapat persetujuan dari DPR. Hal ini dapat mengurangi independensinya dan meningkatkan risiko korupsi.
Kurangnya pengawasan independen dapat menyebabkan penyalahgunaan dana, seperti yang terjadi pada dana kekayaan negara di negara lain seperti 1MDB di Malaysia.
Selain itu, karena Danantara akan fokus pada investasi jangka panjang yang kurang likuid, mungkin akan sulit mencairkan dana tersebut dalam situasi darurat. Perubahan regulasi juga dapat menjadi tantangan yang menambah ketidakpastian terhadap kinerja investasi.