Bank BJB Berpeluang Jadi Terbesar di RI, Dedi Mulyadi Dorong Optimalkan Ekosistem Investasi Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai Bank BJB memiliki peluang besar menjadi bank terbesar dan tersehat di Indonesia dengan mengoptimalkan ekosistem investasi Jawa Barat yang mencapai Rp296,8 triliun.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan pandangan optimistis terhadap PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB). Menurut Dedi, Bank BJB memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi bank terbesar dan tersehat di Indonesia. Hal ini dapat tercapai melalui optimalisasi ekosistem investasi yang sangat menjanjikan di wilayah Jawa Barat, yang nilai investasinya menembus angka Rp296,8 triliun.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa status Bank BJB sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) seharusnya tidak menjadi penghalang dalam mengembangkan ruang geraknya. Ia mendorong Bank BJB untuk berani melakukan ekspansi, khususnya dengan menjalin kemitraan langsung bersama perusahaan-perusahaan industri. Sektor industri ini merupakan penopang utama realisasi investasi di Tanah Pasundan, menjadikannya kunci keberhasilan ekspansi Bank BJB.
Pernyataan Dedi ini disampaikan di Bandung pada Sabtu, 24 Januari, sebagai respons terhadap capaian investasi Jawa Barat. Dengan menjadikan perusahaan-perusahaan industri sebagai mitra, Dedi yakin Bank BJB akan mampu mencapai predikat sebagai bank terbesar dan tersehat di kancah perbankan nasional. Ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan potensi ekonomi regional secara maksimal.
Strategi Bank BJB Menggarap Potensi Investasi Jawa Barat
Dorongan yang disampaikan Dedi Mulyadi didasarkan pada data terbaru dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Data tersebut menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi secara nasional sepanjang tahun 2025. Realisasi investasi di provinsi ini tercatat mencapai Rp296,8 triliun, melampaui target yang telah ditetapkan hingga 109,9 persen.
Komposisi investasi di Jawa Barat juga dinilai sangat seimbang dan potensial bagi sektor perbankan. Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi sebesar Rp147,02 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp149,8 triliun. Angka-angka ini menunjukkan kepercayaan investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap iklim investasi di Jawa Barat.
Dedi menegaskan bahwa kepercayaan tinggi dari investor asing maupun domestik ini harus ditangkap oleh Bank BJB sebagai peluang captive market yang besar. Bank BJB tidak boleh hanya menjadi penonton di "rumah sendiri", melainkan harus proaktif dalam menggarap potensi ini. Kemitraan dengan perusahaan industri akan membuka akses Bank BJB ke aliran dana investasi yang signifikan.
Peran Bank BJB dalam Pembangunan Sosial dan Ekonomi Inklusif
Selain menargetkan sektor korporasi dan industri, Dedi Mulyadi juga menantang Bank BJB untuk memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah. Kemitraan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam penyelesaian berbagai masalah sosial dasar yang ada di masyarakat. Bank yang sehat dan visioner tidak hanya dinilai dari neraca keuangannya, tetapi juga dari kontribusi sosialnya.
Dedi meminta Bank BJB untuk terlibat aktif dalam program pembangunan rumah bagi rakyat miskin, pendirian sekolah-sekolah baru, serta pembiayaan pendidikan anak yatim. Selain itu, Bank BJB juga didorong untuk mengakselerasi permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dukungan ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Dedi, integritas dan visi sosial yang kuat dari manajemen, jajaran komisaris, serta lingkungan perbankan adalah fondasi utama bagi lahirnya bank yang tidak hanya sehat secara finansial, tetapi juga memiliki dampak positif yang luas bagi masyarakat. Keterlibatan aktif dalam program sosial akan memperkuat citra dan relevansi Bank BJB di mata publik.
Sumber: AntaraNews