Anak dari Keluarga Miskin Jadi Mayoritas Populasi 20 Tahun Mendatang, MBG Jadi Solusi
MBG atau makan bergizi gratis merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) masa depan, guna menciptakan generasi emas dan sehat.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menekankan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) jadi kunci utama untuk menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Khususnya dalam memberikan asupan bergizi kepada anak yang berasal dari keluarga miskin, yang secara populasi jadi mayoritas pada 20 tahun mendatang.
Mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto, Dadan mengatakan, makan bergizi gratis merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) masa depan, guna menciptakan generasi emas dan sehat.
"Mengingat penduduk Indonesia sampai sekarang masih tumbuh 6 orang per menit atau 3 juta per tahun, dan masih akan terus tumbuh mencapai 324 juta di tahun 2045," urainya, Selasa (7/10).
Menengok statistik yang ada, penduduk Indonesia disokong oleh generasi dari orang tua yang tingkat pendidikannya hanya 9 tahun saja. Dadan mencontohkan, rata-rata pendidikan orang tua di Jawa Barat hanya 8,8 tahun, yang berarti mayoritas hanya lulusan SD.
"Dan kemarin saya menyampaikan data yang sama di Jawa Tengah, karena rata-rata pendidikan di Jawa Tengah itu hanya 8,2 (tahun). Artinya, mereka hanya pendidikan 8 tahun," imbuh Dadan.
Menurut dia, kelompok masyarakat tersebut jadi penyokong utama pertumbuhan penduduk Indonesia, dengan angka kelahiran anak yang tinggi.
"Karena anggota rumah tangga kelas miskin yang pendapatannya di bawah Rp1,2 juta per bulan itu angkanya 4,78. Itu artinya kalau ada 100 keluarga miskin, maka 78 keluarga anaknya 3 (orang), 22 keluarga anaknya 2 (orang)," bebernya.
Pertumbuhan Penduduk Kelas Atas/Menengah
Di sisi lain, ia menjabarkan bahwa pertumbuhan penduduk dari segmen masyarakat kelas menengah dan atas cenderung sedikit, dengan skala di kisaran 2,84.
"Artinya kalau ada 1 ibu dan 1 bapak, maka anaknya rata-rata 0,85. Jadi kalau ada 100 keluarga kelas atas, maka 84 keluarga anaknya 1 (orang), sisanya 16 keluarga tidak punya anak," ungkap dia.
"Kelas menengah pun saya kira itu anggota rumah tangga tangganya hanya 3,21. Itu artinya kalau ada 100 keluarga kelas menengah, 21 keluarga anaknya 2 (orang), 79 keluarga anaknya 1 (orang)," jelasnya.
Ekonomi Disokong Keluarga Miskin
Mengacu pada data tersebut, Dadan menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045 mendatang bakal banyak ditopang oleh masyarakat yang berasal dari keluarga miskin.
"Jadi pertumbuhan penduduk Indonesia di tahun 2045 tidak akan disokong oleh keluarga kelas atas dan kelas menengah, tapi pertumbuhan akan disokong oleh keluarga kelas miskin, dan tetap miskin," kata dia.
Dadan mengatakan, sekitar 60 persen anak yang ditemui di lapangan bahkan tidak punya akses terhadap menu makan yang seimbang. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa program Makan Bergizi Gratis jadi kunci untuk memajukan generasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
"Jadi kalau mereka makan biasanya asal ada nasi, ada kerupuk, ada mie, ada bala-bala (bakwan), ada kentang. Nah, 60 persen dari mereka juga hampir tidak pernah minum susu karena tidak mampu beli susu," ucap dia.
"Oleh sebab itulah, maka program (MBG) ini kita harus lakukan. Karena mereka yang sekarang ada dalam kandungan, mereka yang sekarang masih menjaga balita, mereka yang sekarang masih di TK-SD-SMP-SMA, 20 tahun ke depan mereka akan menjadi pekerja produktif di 2045," tuturnya.