Warga Lepaskan Dua Ular Piton Jumbo di Kondominium Bikin Heboh, Alasannya Mengejutkan
Penghuni sebuah kondominium berani melepaskan ular piton besar yang membuat heboh.
Dua ular piton berukuran besar mengejutkan penghuni sebuah kondominium di kawasan Ratchada, Bangkok. Kejadian ini terjadi setelah salah satu penghuni melepaskan kedua ular tersebut ke lorong gedung sebagai bentuk protes atas keluhan mengenai suara gaduh dari hewan peliharaan yang tidak ditanggapi oleh pengelola. Video yang menunjukkan kedua ular besar merayap di depan lift dengan cepat menyebar di grup LINE penghuni. Salah satu ular berwarna hitam dan yang lainnya cokelat, diduga merupakan jenis peliharaan yang mahal. Rekaman tersebut kemudian dibagikan ulang di media sosial hingga menjadi viral.
Manajemen gedung dilaporkan telah menerima banyak keluhan terkait gangguan yang disebabkan oleh hewan peliharaan. Meskipun ada peraturan yang melarang pemeliharaan hewan, banyak penghuni tetap membawa anjing, kucing, dan burung ke dalam unit mereka. Keluhan dari warga yang mematuhi aturan tersebut disebutkan telah diabaikan selama bertahun-tahun. Tindakan pelepasan ular ini menimbulkan reaksi yang beragam di antara penghuni; sebagian mengecam karena menyebabkan ketakutan, sementara yang lain mendukung karena merasa jenuh dengan sikap pengelola. Berikut ini adalah ringkasan kejadian unik ini yang dirangkum oleh Liputan6.com dari Thethaiger, Kamis (22/5/2025).
Mengapa Menggunakan Dua Ular Piton Besar?
Aksi melepaskan ular tersebut dilakukan oleh warga karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Keluhan mengenai suara bising yang ditimbulkan oleh hewan peliharaan tidak pernah mendapatkan tanggapan serius dari pihak manajemen. Penghuni yang melepaskan ular itu mengungkapkan dalam grup bahwa ia ingin pihak lain merasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan dan ketidaknyamanan setiap hari. Sebelumnya, pengelola kondominium telah melarang semua jenis hewan peliharaan di dalam unit, namun aturan ini sering dilanggar secara diam-diam oleh beberapa penghuni.
Warga yang mematuhi aturan merasa dirugikan karena harus terus bersabar tanpa adanya tindakan dari pengelola. Mereka merasa frustrasi dengan situasi yang berlangsung, di mana suara bising dari hewan peliharaan mengganggu ketenangan hidup sehari-hari. Masyarakat berharap agar pihak manajemen dapat lebih responsif terhadap keluhan yang diajukan, sehingga semua penghuni dapat hidup dengan nyaman. Dalam situasi ini, tindakan ekstrem seperti melepaskan ular menjadi pilihan terakhir bagi warga yang merasa tertekan dengan keadaan yang ada.
Ketegangan Meningkat, dan Pendapat Penghuni Terpecah jadi Dua
Setelah video mengenai penyebaran ular beredar di media sosial, perdebatan panas langsung muncul di grup LINE para penghuni. Beberapa orang mendukung tindakan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang dirasakan. Salah satu warga berpendapat bahwa jika orang lain diperbolehkan memelihara anjing dan kucing tanpa batasan, maka membawa ular juga seharusnya diizinkan. Namun, di sisi lain, banyak yang menganggap tindakan itu berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Mereka merasa ketakutan dan berpendapat bahwa protes tersebut sudah melampaui batas. Bahkan, beberapa penghuni meminta manajemen untuk segera mengusir orang yang melepaskan ular itu.
Sanksi Denda Rp 5 Juta dan Pemindahan Hewan
Setelah kejadian tersebut, manajemen akhirnya mengambil langkah nyata. Mereka mengenakan denda sebesar 10.000 baht, yang setara dengan sekitar Rp4,9 juta, kepada pemilik hewan peliharaan yang telah dilaporkan sebelumnya. Selain itu, para pemilik hewan juga diminta untuk segera memindahkan hewan mereka dari unit tempat tinggal. Pemilik dua ular piton pun dikenakan sanksi, meskipun jumlah denda yang diberikan tidak diumumkan. Ular-ular tersebut telah diamankan dan kini tidak lagi berada di area kondominium. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa aturan harus dipatuhi dan bukan sekadar tulisan di papan pengumuman.