Sosok 'Crazy Rich' Aceh Ini Pernah Sumbang 28 Kg Emas ke Pemerintah, Tapi Dipenjara Hanya Karena Dekat Dengan Soekarno
Sosok penyumbang emas di Monumen Nasional (Monas) yang berakhir di penjara.
Ketika mendengar nama Teuku Nyak Markam sebagian orang mungkin masih asing dan tidak mengenal sosoknya. Namun, sumbangsihnya dapat dilihat dan dinikmati masyarakat sampai sekarang.
Dia adalah penyumbang 28 kilogram emas untuk pembangunan puncak Monumen Nasional (Monas) yang jadi proyek mercusuar Presiden Soekarno. Sosok 'Crazy Rich' asal Aceh itu memberikan lebih dari setengah total emas yang melapisi Lidah Api Kemerdekaan di Monas.
Jika dikonversikan dengan nilai uang saat ini, jumlah emas yang disumbangkan Teuku Markam setara dengan Rp42 miliar. Meski telah membantu menyumbangkan hartanya untuk negara, dia justru berakhir masuk penjara.
Sosok Pengusaha Sukses
Teuku Markam ketika muda memasuki pendidikan wajib militer di Koetaradja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara.
Teuku Markam kemudian diutus ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto sampai Gatot Soebroto meninggal dunia. Ia mengutus Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno, yang kemudian memulai perjalanannya di dunia bisnis.
Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menangani masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), ia kembali ke Aceh dan mendirikan PT. Karkam singkatan dari Kulit Aceh Raya Kapten Markam.
Berdasarkan informasi, diketahui jika PT Karkam bergerak di biadang ekspor karet. PT Karkam jadi perusahaan satu-satunya di Indonesia yang memiliki hak eksklusif ekspor karet dari Sumatera Selatan ke Singapura dan Malaysia.
Tak hanya itu, dia juga memegang lisensi impor mobil Nissan dan semen dari Jepang. Perusahaan yang didirikan Teuku Markam itu berkembang pesat dan disebut beraset jutaan dolar. Dari bisnis inilah Teuku Markam bisa menyumbang 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas).
Selain menyumbang emas, Teuku Markam juga ikut andil dalam pembebasan lahan Senayan untuk menjadi pusat olah raga. Ia juga ikut membiayai berbagai macam yang terkait dalam melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, serta ikut mensukseskan KTT Asia Afrika.
Dipenjara karena Dekat dengan Soekarno
Meski sudah banyak membantu negara dengan hartanya, Teuku Markam justru harus mendekam dibalik jeruji besi. Dia menjadi objek pidana sepihak pemerintah era Presiden Soeharto hanya karena dekat dengan Presiden Soekarno.
Pemerintah menuduh Markam adalah orang dekat Soekarno, terlibat korupsi, dan pemberontakan G30S. Dia akhirnya dipenjara selama 9 tahun, dari 1966 sampai 1975. Tak sampai disitu, perusahaan miliknya bahkan diambil alih pemerintah dan menjadi cikal bakal BUMN bernama PT Berdikari (Persero).
Setelah keluar dari penjara pada tahun 1974 Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-proyek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak ada proyek raksasa yang dikerjakan. Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi penyakit di Jakarta.