Sering Dikonsumsi Banyak Orang, Daging Olahan Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Mulut
Masyarakat dianjurkan lebih selektif dalam memilih makanan untuk menjaga kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan.
Risiko kanker mulut tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, mengunyah tembakau, mengonsumsi alkohol, atau infeksi human papillomavirus (HPV). Para ahli mengingatkan bahwa pola makan tertentu, terutama konsumsi makanan yang memicu peradangan, juga dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit tersebut.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makanan olahan, khususnya produk daging olahan, memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring. Karena itu, masyarakat dianjurkan lebih selektif dalam memilih makanan untuk menjaga kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan.
Sebagaimana dikutip dari EatingWell pada Senin (8/6), Kepala Pengobatan Mulut, Onkologi Mulut, dan Kedokteran Gigi Herbert Wertheim Cancer Institute di Amerika Serikat, Alessandro Villa, DDS, Ph.D., MPH, mengatakan bahwa daging olahan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut.
"Daging olahan, termasuk bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging deli, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring," katanya dilansir Antara, Kamis (11/6/2026).
Menurut Villa, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker telah mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1.
"Yang artinya cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia" menurut Villa.
Ia menjelaskan bahwa daging olahan umumnya mengandung bahan pengawet berupa nitrat dan nitrit. Kedua senyawa tersebut dapat berubah menjadi senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu kanker.
Sejumlah penelitian juga secara konsisten menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi nitrat dan nitrit dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.
Memasak dengan Suhu Tinggi Juga Berisiko
Tidak hanya daging olahan, cara pengolahan makanan juga turut berpengaruh terhadap risiko kanker. Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) di University of Maryland Medical Center, Kelly F. Moyer, MD, menjelaskan bahwa daging yang dipanggang, diasap, atau dibakar pada suhu tinggi dapat menghasilkan zat kimia berbahaya.
"Karena memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel Anda," kata Moyer.
Kerusakan DNA tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya perubahan sel yang berujung pada kanker.
Peradangan Kronis Dapat Memicu Pertumbuhan Sel Abnormal
Moyer juga mengingatkan bahwa konsumsi daging olahan secara berlebihan dapat memicu peradangan kronis di dalam tubuh, termasuk di area mulut.
Peradangan tingkat rendah yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terbentuknya sel abnormal.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa gangguan keseimbangan mikrobioma mulut turut berperan dalam perkembangan kanker mulut. Ketidakseimbangan bakteri di rongga mulut dapat memicu peradangan kronis dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel kanker.
Selain itu, Villa menambahkan bahwa zat besi heme yang terdapat dalam daging merah olahan juga diduga berkontribusi terhadap proses karsinogenesis atau pembentukan kanker.
Cara Menurunkan Risiko Kanker Mulut
Para ahli menegaskan bahwa risiko kanker mulut dapat ditekan melalui penerapan pola hidup sehat. Langkah yang dianjurkan antara lain menghindari produk tembakau, membatasi konsumsi alkohol, serta memperbanyak asupan buah dan sayuran yang kaya antioksidan.
Menjaga kebersihan mulut juga menjadi faktor penting dalam pencegahan kanker mulut. Perawatan gigi dan mulut yang baik dapat membantu mengurangi peradangan sekaligus mengendalikan pertumbuhan bakteri berbahaya.
"Menyikat gigi dan menggunakan benang gigi setiap hari, dikombinasikan dengan pembersihan gigi secara teratur, mengurangi peradangan dan mengendalikan bakteri berbahaya," kata Moyer.
Selain itu, Moyer juga merekomendasikan vaksinasi HPV bagi individu berusia hingga 26 tahun. Pasalnya, infeksi HPV kini menjadi salah satu penyebab utama kanker tenggorokan dan kanker mulut, terutama pada kelompok usia dewasa muda.