Penyebab Sel Darah Putih Tinggi, Kenali juga Gejala dan Cara Penanganannya
Berikut penyebab sel darah putih tinggi beserta gejala dan cara penanganannya.
Sel darah putih atau leukosit merupakan komponen penting dalam sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tinggi atau leukositosis sendiri adalah kondisi di mana jumlah sel darah putih dalam tubuh melebihi batas normal.
Pada orang dewasa, jumlah sel darah putih normal berkisar antara 4.500-11.000 sel per mikroliter darah. Jika jumlahnya melebihi 11.000 sel per mikroliter, maka seseorang dapat dikatakan mengalami leukositosis.
Peningkatan jumlah sel darah putih sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau peradangan. Namun, jika peningkatannya terlalu tinggi dan berlangsung lama, hal ini dapat mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
Terdapat beberapa jenis sel darah putih, antara lain neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Masing-masing jenis sel ini memiliki fungsi spesifik dalam sistem kekebalan tubuh. Leukositosis dapat terjadi pada satu atau beberapa jenis sel darah putih sekaligus.
Apa saja akibat sel darah putih tinggi yang perlu diwaspadai? Bagaimana penyebab, gejala dan cara penanganannya? Melansir dari berbagai sumber, Senin (10/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
Penyebab Sel Darah Putih Tinggi
Peningkatan jumlah sel darah putih dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut ini adalah beberapa penyebab utama terjadinya leukositosis:
- Infeksi: Baik infeksi bakteri, virus, maupun parasit dapat memicu peningkatan produksi sel darah putih sebagai respons pertahanan tubuh.
- Peradangan: Kondisi peradangan kronis seperti rheumatoid arthritis atau penyakit radang usus dapat menyebabkan leukositosis.
- Gangguan sumsum tulang: Kelainan pada sumsum tulang seperti leukemia atau polisitemia vera dapat mengakibatkan produksi sel darah putih berlebihan.
- Reaksi alergi: Alergi berat dapat memicu peningkatan jumlah sel darah putih, terutama eosinofil.
- Stres fisik atau emosional: Kondisi stres yang ekstrem dapat mempengaruhi produksi sel darah putih.
- Efek samping obat: Beberapa jenis obat seperti kortikosteroid atau obat kemoterapi dapat meningkatkan jumlah sel darah putih.
- Kehamilan: Pada trimester ketiga kehamilan, jumlah sel darah putih cenderung meningkat sebagai bagian dari perubahan fisiologis normal.
- Merokok: Kebiasaan merokok dalam jangka panjang dapat memicu peningkatan sel darah putih.
Gejala Sel Darah Putih Tinggi
Gejala yang muncul akibat sel darah putih tinggi seringkali tidak spesifik dan dapat bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Namun, beberapa tanda dan gejala umum yang mungkin dialami antara lain:
- Demam: Suhu tubuh meningkat sebagai respons terhadap infeksi atau peradangan.
- Kelelahan: Rasa lelah yang berlebihan dan tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan.
- Penurunan berat badan: Kehilangan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Keringat berlebih: Terutama keringat malam yang mengganggu tidur.
- Nyeri sendi atau otot: Rasa sakit yang menyebar ke berbagai bagian tubuh.
- Pembesaran kelenjar getah bening: Pembengkakan pada area leher, ketiak, atau selangkangan.
- Sesak napas: Kesulitan bernapas atau napas pendek-pendek.
- Mudah memar atau berdarah: Kulit lebih rentan mengalami memar atau perdarahan ringan.
- Gangguan pencernaan: Mual, muntah, atau diare yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
- Sakit kepala: Nyeri kepala yang persisten dan sulit diatasi dengan obat biasa.
Pada kasus yang lebih serius, leukositosis dapat menyebabkan gejala yang lebih berat seperti:
- Gangguan penglihatan: Penglihatan kabur atau perubahan mendadak pada kemampuan melihat.
- Kebingungan atau perubahan mental: Kesulitan berpikir jernih atau perubahan perilaku yang tidak biasa.
- Kejang: Kontraksi otot yang tidak terkendali.
- Stroke: Gejala stroke seperti lumpuh sebelah tubuh atau kesulitan berbicara.
Komplikasi Sel Darah Putih Tinggi
Meskipun leukositosis sendiri seringkali merupakan respons tubuh terhadap kondisi lain, dalam beberapa kasus, terutama jika tidak ditangani dengan tepat, dapat menyebabkan komplikasi serius. Berikut adalah beberapa komplikasi potensial yang dapat timbul akibat sel darah putih tinggi:
1. Sindrom Hiperviskositas:
Kondisi di mana darah menjadi terlalu kental akibat jumlah sel darah putih yang sangat tinggi.
Dapat menyebabkan gangguan aliran darah ke berbagai organ, termasuk otak, jantung, dan paru-paru.
Gejala meliputi sakit kepala parah, gangguan penglihatan, pusing, dan kebingungan.
2. Gangguan Peredaran Darah:
Peningkatan risiko pembentukan gumpalan darah (trombosis).
Dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, atau emboli paru.
3. Disfungsi Organ:
Akumulasi sel darah putih dalam organ-organ vital dapat mengganggu fungsi normal organ tersebut.
Misalnya, infiltrasi sel leukemia ke hati atau limpa dapat menyebabkan pembesaran organ dan gangguan fungsi.
4. Sindrom Lisis Tumor:
Terjadi ketika sejumlah besar sel kanker atau sel darah putih abnormal hancur secara bersamaan, melepaskan isinya ke aliran darah.
Dapat menyebabkan gangguan elektrolit, gagal ginjal, dan aritmia jantung.
5. Imunosupresi Paradoksikal:
Meskipun jumlah sel darah putih tinggi, fungsi kekebalan tubuh dapat terganggu, terutama pada kasus leukemia.
Meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik.
6. Gangguan Metabolisme:
Peningkatan metabolisme sel dapat menyebabkan demam tinggi, penurunan berat badan, dan kelelahan ekstrem.
7. Komplikasi Neurologis:
Infiltrasi sel darah putih ke sistem saraf pusat dapat menyebabkan kejang, defisit neurologis, atau meningitis.
8. Gangguan Pernapasan:
Akumulasi sel darah putih di paru-paru dapat menyebabkan kesulitan bernapas atau sindrom distres pernapasan akut (ARDS).
9. Komplikasi Kehamilan:
Pada wanita hamil, leukositosis berat dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur atau preeklamsia.
10. Efek Psikologis:
Diagnosis leukositosis, terutama jika terkait dengan kondisi serius seperti leukemia, dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi.
Penanganan Sel Darah Putih Tinggi
Penanganan sel darah putih tinggi atau leukositosis sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Tujuan utama penanganan adalah untuk mengatasi kondisi yang memicu peningkatan sel darah putih dan mengembalikan jumlahnya ke kisaran normal. Berikut adalah beberapa pendekatan yang umumnya digunakan dalam penanganan leukositosis:
1. Pengobatan Penyebab Utama:
Jika leukositosis disebabkan oleh infeksi, antibiotik atau antivirus mungkin diberikan tergantung pada jenis patogen penyebabnya.
Untuk kasus peradangan, obat anti-inflamasi atau imunosupresan mungkin diresepkan.
Jika penyebabnya adalah alergi, antihistamin atau kortikosteroid bisa menjadi pilihan pengobatan.
2. Penghentian atau Penggantian Obat:
Jika leukositosis disebabkan oleh efek samping obat tertentu, dokter mungkin akan menghentikan atau mengganti obat tersebut dengan alternatif lain.
3. Terapi Khusus untuk Gangguan Sumsum Tulang:
Pada kasus leukemia atau gangguan mieloproliferatif lainnya, pengobatan dapat meliputi kemoterapi, terapi target, atau transplantasi sumsum tulang.
4. Leukaferesis:
Prosedur ini digunakan dalam kasus leukositosis yang sangat parah (hiperleukositosis) untuk mengurangi jumlah sel darah putih secara cepat.
Darah pasien diproses melalui mesin yang memisahkan dan mengeluarkan kelebihan sel darah putih sebelum darah dikembalikan ke tubuh.
5. Terapi Suportif:
Pemberian cairan intravena untuk mencegah dehidrasi dan membantu aliran darah.
Obat pereda nyeri untuk mengatasi gejala seperti sakit kepala atau nyeri sendi.
Transfusi darah jika diperlukan, terutama pada kasus anemia yang menyertai leukositosis.
6. Manajemen Gejala:
Pengobatan simtomatik untuk mengatasi gejala seperti demam, mual, atau kelelahan.
7. Modifikasi Gaya Hidup:
Pasien mungkin disarankan untuk berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, atau melakukan perubahan pola makan untuk mendukung pemulihan.
8. Pemantauan Berkala:
Pemeriksaan darah rutin untuk memantau jumlah sel darah putih dan efektivitas pengobatan.
9. Konseling dan Dukungan Psikologis:
Terutama untuk pasien yang mengalami leukositosis akibat kondisi kronis atau keganasan, dukungan psikologis dapat membantu mengatasi stres dan kecemasan terkait penyakit.